Penampakan Dingo, Anjing Purba Misterius Penjaga Puncak Carstensz

Penampakan Dingo, Anjing Purba Misterius Penjaga Puncak Carstensz

Penampakan anjing Dingo di kawasan Grasberg, jalur puncak Carstensz, Papua | Twitter @anangdianto

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Dingo, salah satu spesies anjing purba nan misterius kembali menampakkan dirinya di kawasan Grasberg, yang merupakan jalur menuju puncak Carstensz (4.884 mdpl), Papua.

Penampakan Dingo diabadikan oleh Anang Dianto melalui akun twitternya @anangdianto, Jumat (24/7/2020). Anang merupakan seorang mechanical engineer yang bekerja di Tembagapura, Papua.

''Ini anjing spesies baru yang belum punya nama ilmiah, masih diteliti. Mendiami kawasan pegunungan tengah Papua.''

''Ciri: warna coklat emas, telinga segitiga, ekor tebal, moncong pendek mirip rubah & tdk bisa menggonggong!''

''Kemarin siang kedatengan mereka pas lagi kerja di area Grasberg,''

Demikian cuitnya.

Ini bukan merupakan kali pertama penampakan anjing ini. Pada 2017, Para peneliti juga dihebohkan dengan penampakan serupa.

Namun bagi suku Moni, salah satu suku di dataran tinggi Papua, anjing ini merupakan penjaga Puncak Carstensz.

Jika orang awam sulit melihatnya, maka suku Moni akan dengan mudah menemukannya. Kira-kira demikian kata Maximus Tipagau, salah seorang tokoh dari suku Moni menjelaskan tentang Dingo, dalam DetikTravel.

Suku Moni adalah suku yang mendiami kawasan Ugimba, Kabupaten Intan Jaya, dan hidup di sekitar Pegunungan Jayawijaya, tepatnya di sekitar Puncak Carstensz, cukup dekat dari kawasan Grasberg.

Mitos Dingo yang dapat berubah wujud

Meski hingga kini beberapa peneliti dari dalam dan luar negeri sedang mencoba meneliti Dingo secara rinci, terkait spesies dan rantai DNA, Namun Dingo nyatanya sudah diketahui oleh suku Moni sejak masa lampau.

"Dingo ini adalah anjing penjaga Carstensz," kata Maximus.

Bahkan Maximus menjelaskan sesuatu tentang Dingo di luar nalar, yakni jika ada orang jahat, maka Dingo akan berubah menjadi laki-laki gagah yang akan megejar orang jahat tadi dan memakan jantungnya.

manusia serigala
Ilustrasi anjing/serigala yang berubah wujud menjadi manusia | Shutterstock @Denis Simonov

Tak heran Dingo dianggap sebagai penjaga Carstensz, karena suku Moni juga meyakini bahwa Dingo sejatinya adalah ''tuan tanah'' puncak Carstensz dan sekitarnya.

''Mereka yang punya wilayah, mereka tuan tanah. Dari jauh, mereka bisa tahu mana orang jahat dan mana orang baik. Dingo juga bisa bernyanyi, suaranya bagus sekali,'' tandas Maximus.

Secara umum, Dingo hidup di alam bebas dan tak bisa dipelihara. Bahkan terkadang, pada waktu-waktu tertentu lolongan Dingo bak terdengar seperti nyanyian yang merdu.

Spesies anjing yang terus diteliti

Seperti dikabarkan situs New Guinea Highland Wild Dog Foundation (NGHWDF), Dingo merupakan spesies anjing liar yang hidup di dataran tinggi atau lazim disebut highland wild dog (HWD).

Dingo, seperti diwartakan GMA News Online (28/3/2017), ditemukan pertama kali pada 1897 oleh Charles Walter De Vis. Spesies anjing itu kemudian pernah ditemukan juga pada 1956 dan 1976. Setelah itu tak ada lagi yang bisa menemukan mereka sehingga Dingo dianggap punah.

Namun, dua buah foto anjing Dingo sempat beredar pada 2005 dan 2012. Meski begitu, foto-foto tersebut kurang memiliki kekuatan untuk dijadikan bukti ilmiah dari keberadaan hewan liar itu.

Lalu NGHWDF yang merupakan yayasan dan peneliti anjing-anjing yang hidup di dataran tinggi Papua--termasuk wilayah Indonesia maupun Papua Nugini, memulai pencarian hewan tersebut pada 2016 di Provinsi Papua.

Tim ekspedisi ini dipimpin ahli zoologi, James K McIntyre, kemudian bertemu dengan peneliti dari Universitas Papua (Unipa) yang tengah melakukan pencarian serupa. Kerjasama kemudian dilakukan melalui bantuan dari PT Freeport Indonesia dan Southwest Pacific Research Foundation.

September 2016, upaya mereka menuai hasil dengan penemuan jejak kaki anjing pada ketinggian antara 3.460-4,400 (mdpl), di kawasan Puncak Jaya, Papua.

Dingo
Kawanan Dingo yang tertangkap kamera pengintai pada ekspedisi tahun 2016 | NGHWDF

Melalui kamera perangkap yang mereka pasang, tim itu akhirnya berhasil memotret sedikitnya 15 anjing berbeda, baik jantan maupun betina. Termasuk anjing betina bersama anaknya yang berusia antara 3-5 bulan.

''Penemuan dan konfirmasi keberadaan anjing liar dataran tinggi untuk pertama kalinya dalam setengah abad ini tidak hanya menarik, tetapi juga menjadi kesempatan luar biasa bagi ilmu pengetahuan,'' tulis laporan NGHWDF.

Lebih jauh tim ekspedisi itu mengatakan bahwa ekspedisi yang dilakukan pada 2016 bisa menemukan, mengamati, mengumpulkan dokumentasi, dan sampel biologi, serta mengonfirmasi melalui tes DNA bahwa setidaknya beberapa spesimen masih hidup di dataran tinggi Papua.

Memiliki DNA anjing purba

Hasil tes DNA itu kemudian menunjukkan bahwa Dingo memang jenis anjing tertua yang ada saat ini, dan ternyata memiliki hubungan darah dengan Dingo Australia (Canis dingo) dan anjing bernyanyi Papua Nugini (Canis hallstromi).

Untuk Canis hallstromi, bukti lain menyebut bahwa spesies ini juga baru ditemukan kembali pada 2012 setelah menghilang sejak 1989.

Dalam laporan Science Alert (27/3/2017), beberapa fosil anjing yang ditemukan di dataran tinggi Papua menyebutkan indikasi bahwa Dingo sudah hidup di tanah Papua sejak 6.000 tahun yang lalu.

Spesies itu diyakini datang bersama manusia yang bermigrasi ke daerah tersebut. Namun, ada bukti lain yang juga menyebutkan mereka tidak bermigrasi bersama manusia.

NGHWDF menyatakan studi terhadap anjing-anjing dataran tinggi Papua menjadi sangat penting untuk mengetahui evolusi mereka, perkembangan hubungan anjing dan manusia dalam evolusi migrasi, serta perkembangan ekologi pemukiman manusia yang dihasilkan dari studi evolusi anjing tersebut.

Selanjutnya NGHWDF menegaskan bahwa mereka akan terus melakukan penelitian sekaligus membantu melindungi spesies anjing purba ini agar tidak punah, karena peluang hidup mereka masih cukup tinggi.

Yang unik, meski termasuk spesies purba, secara fisik anjing-anjing Dingo tak jauh berbeda dengan yang biasa dipelihara manusia saat ini. Ekornya berbentuk seperti kail dan telinga bagian atas menyerupai segitiga yang berdiri tegak.

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga17%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang32%
Pilih Tak PeduliTak Peduli10%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau32%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Agustinus Adisucipto, Sekolah Kedokteran Dulu Jadi Pahlawan Penerbang Kemudian Sebelummnya

Agustinus Adisucipto, Sekolah Kedokteran Dulu Jadi Pahlawan Penerbang Kemudian

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon Selanjutnya

Kontingen Garuda UNIFIL Bantu Korban Ledakan Beirut, Lebanon

Mustafa Iman
@mustafa_iman

Mustafa Iman

2 Komentar

  • Partogi Sitindjak

    Mantabs...infonya

  • Tinus Kogoya

    Macam ini saya pernah ketemu di gunung Trikora jarak 3 meter, barang de tidak lari....malah baku tatap dengan saya, dan saya bicara sama dia, maaf saya tidak bermaksud mengganggumu lalu dia pergi. Benar kalau dia adalah pemilik alam

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.