Ketika Kecantikan Berujung Kutukan, Danau Satonda Buktinya

Ketika Kecantikan Berujung Kutukan, Danau Satonda Buktinya

Pulau Satonda dengan danau Satonda di dalamnya | Msn.com

Ayo bantu mencegah penyebaran Covid-19 dengan menjaga jarak fisik dengan orang lain atau dengan di rumah saja 🌎🏠

Kawan GNFI, seorang teman penulis pernah berkata beberapa tahun silam, ''Hidup seribu tahun pun, kau tak akan tuntas menjelajah keindahan Indonesia.''

Kata-katanya boleh jadi benar.

Jika kita melihat keindahan gugusan pulau yang ada di Indonesia, tak hanya ada Raja Ampat, Flores, Rote, dan Timor, tak pula cukup lekat akan pesonanya, tapi juga cerita yang dipercaya masyarakat secara turun-temurun.

Jika kawan mengunjungi Sumbawa di Nusa Tenggara Barat (NTB), selain dapat melihat perkasanya Gunung Tambora di Sumbawa Besar, kawan juga dapat menyambangi Pulau Satonda. Pulau yang konon penuh misteri dan mitos.

Satonda merupakan salah satu dari gugusan pulau yang berada di ujung barat Kabupaten Dompu. Dituliskan Travelingyuk, Pulau Satonda merupakan daratan yang terbentuk oleh letusan gunung api dari dasar laut jutaan tahun lalu, yang kemudian meninggalkan keindahan alam yang elok.

Karena keindahannya itu, Pulau Satonda ditetapkan sebagai Taman Wisata Alam Laut (TWAL) oleh Menteri Kehutanan dan Perkebunan pada 1999.

Di pesisir lautnya, kawan juga akan menemui hamparan pasir putih pantai yang bersih yang merupakan bagian dari luas pulau yang mencapai 2.600 hektare.

Di pantai itu, pelancong dapat melakukan berbagai aktivitas, seperti renang permukaan (snorkeling) atau menyelam (diving) untuk melihat keindahan terumbu karang dan fauna dasar laut lainnya seperti bintang laut, penyu sisik, dan aneka ikan hias.

Kutukan danau Satonda dan mitos ''Pohon Harapan''

Keindahan dan pesona pulau itu jua tak lepas dari cerita masyarakat sekitar, yakni soal Pulau Satonda yang terlarang. Sebagian masyarakat masih meyakini, jika pulau ini merupakan pulau terkutuk, sehingga siapapun tidak boleh mendiaminya.

Menurut cerita, pulau ini merupakan tempat pengasingan putri cantik dari Kerajaan Sanggar. Putri Dae Minga namanya.

Dikisahkan, pada masanya Putri Dae diperebutkan oleh banyak orang dari berbagai kerajaan karena pesona parasnya. Hal itu yang akhirnya memicu pertikaian antar-kerajaan.

Karena tak ingin banyak pertikaian terjadi, akhirnya Raja Sanggar mengasingkan putrinya ke Pulau Satonda. Berujung depresi, akhirnya Sang Putri memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan menenggelamkan diri di Danau Satonda.

Namun sebelum tenggelam, Sang Putri mengeluarkan kutukan sekaligus sumpah terakhirnya;

''Tidak ada wanita yang bisa mendapatkan anggun dan cantik dalam satu waktu. Jika ia anggun, maka ia tidak cantik. Jika ia cantik, maka ia tidak anggun.''

Sumpah ini ditujukan kepada semua wanita, agar nasibnya tidak sama seperti dirinya, dan tak ada lagi gadis tak bersalah yang harus dikorbankan seperti dirinya.

Selain mitos sang putri raja, pada bagian pesisir pulau ini, kawan akan menjumpai banyak pohon bernama pohon Kalibuda, atau ''Pohon Harapan''.

Dinamakan begitu, karena konon pohon ini dipercaya dapat mengabulkan segala permintaan dengan cara menggantungkan apapun dan memanjatkan doa kepada leluhur.

Atas mitos itu pula, saat ini banyak barang-barang tak jelas yang bergelantungan di ranting atau dahan pohon Kalibuda. Sebut saja bungkus rokok, sepatu bekas, hingga batu.

Penelitian danau purba Satonda

Sisi misterius Pulau Satonda ternyata juga tenar hingga mancanegara. Adalah dua ilmuwan asal Eropa, yakni Stephan Kempe dan Josef Kazmierczak yang meneliti Danau Satonda pada tahun 1984, 1989, dan 1996.

Dari hasil penelitian tersebut, mereka menemukan fakta bahwa Danau Satonda adalah fenomena langka yang tak dapat ditemui dimanapun.

Air danau dikatakan angat asin dengan tingkat kebasaan (alkalinitas) sangat tinggi, bahkan jika dibandingkan dengan air laut pada umumnya.

Keduanya berpendapat, bahwa air asin Danau Satonda muncul bersamaan dengan terbentuknya kawah tua Gunung Satonda yang dikatakan berumur lebih dari 10.000 tahun, lebih tua dari usia Gunung Tambora.

Penelitian lain menyebut bahwa Danau Satonda dulunya merupakan air tawar yang tercampur dengan air laut dari sebuah tsunami, dampak dari dahsyatnya letusan gunung Tambora pada 1815.

Gelombang besar mengantar air laut mengisi kawah tersebut dan kemudian mengubahnya menjadi danau air asin hingga sekarang.

Meski begitu, kadar asin dari Danau Satonda ini sampai sekarang masih menjadi misteri, walaupun sudah beberapa kali diteliti oleh ilmuwan yang mengemukakan segudang teori.

Ada juga penelitian yang menyebut bahwa biota dan segala hal yang ada di dalam Danau Satonda mirip dengan ekosistem lautan pada zaman purba.

Hal itu merujuk pada banyaknya material strimalit yang hanya ada sekitar 3,4 miliar tahun lalu, dan tidak pernah ditemukan lagi di muka bumi hingga sekarang.

Akses dan fasilitas

Dari cerita di atas, tentunya pulau ini semakin membuat penasaran, terutama yang memiliki jiwa pelancong dan penjelajah.

Untuk sampai di Pulau Satonda, kawan bisa memilih beberapa jalur alternatif. Salah satunya memulai perjalanan dari Sumbawa Besar ke Desa Nangamiro dengan jarak tempuh sekitar delapan jam. Bisa juga dari Dompu dengan jarak tempuh sekitar lima jam.

Setelah sampai di pelabuhan Nangamiro, kawan akan melanjutkan perjalanan dengan menggunakan perahu ke Pulau Satonda dengan waktu tempuh satu jam. Tarifnya beragam, tapi rata-rata pelancong hanya merogoh kocek Rp25 ribu sekali jalan.

Alternatif lainnya, bisa dengan cara naik kapal pesiar dari Pulau Bali atau Lombok, dengan mengambil jurusan Flores. Kapal pesiar memang kerap mampir di Pulau Satonda, sebelum angkat sauh menuju Taman Nasional (TN) Komodo, di Labuan Bajo, Flores.

Tapi jika kawan memiliki kocek cukup tebal dan ingin lebih rileks dalam perjalanan, bisa menggunakan paket wisata Pulau Moyo, Kenawa, dan Satonda.

Meski perjalanan untuk mencapainya boleh dibulang mahal dan berliku, namun tiket masuk pulau untuk wisatawan lokal hanya Rp2 ribu perak, dan Rp15 ribu untuk para bule.

Bagi kawan GNFI pencinta snorkeling, siapkan saja uang Rp30 ribu, lebih murah Rp10 ribu ketimbang tarif turis asing. Sementara untuk tarif diving, hanya Rp40 ribu, lebih murah ceban dari para bule.

Pengelola wisata Pulau Satonda juga menyediakan jasa layanan penginapan. Tarifnya pun beragam, mulai Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta per malam.

Tapi jika dompet kawan cukup tipis, kawan bisa mencari alternatif lain dengan memasang tenda untuk menikmati pemandangan jutaan bintang di angkasa dari pinggir pantai.

Baca juga:

WHO merekomendasikan beberapa langkah dasar untuk membantu mencegah penyebaran Covid-19.

  1. Cuci tangan sesering mungkin setidaknya selama 20 detik
  2. Jika batuk/bersin arahkan ke lipatan siku
  3. Bersihkan dan disinfeksi benda yang sering disentuh
  4. Tetap di rumah saja bagi yang bisa
  5. Pakai masker bila keluar dari rumah
  6. Hindari menyentuh wajah
  7. Jaga jarak fisik dengan orang lain (physical distancing)

Yuk, saling menjaga dan membantu. Semoga kita semuanya diberikan kesehatan dan bisa melalui keadaan saat ini.

Pilih BanggaBangga36%
Pilih SedihSedih3%
Pilih SenangSenang17%
Pilih Tak PeduliTak Peduli4%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi6%
Pilih TerpukauTerpukau33%

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Untuk membantu kami agar lebih baik, kamu bisa memberikan kritik dan saran terkait web ini kepada GNFI di halaman Kritik dan Saran. Terima kasih.
Sejarah Hari Ini (24 Juni 2007) - Lapangan Sepak Takraw Pantai Terbanyak di Bengkalis Sebelummnya

Sejarah Hari Ini (24 Juni 2007) - Lapangan Sepak Takraw Pantai Terbanyak di Bengkalis

Tren Sepekan: Warna Warni Durian hingga Kepunahan Pesut Mahakam Selanjutnya

Tren Sepekan: Warna Warni Durian hingga Kepunahan Pesut Mahakam

Mustafa Iman
@mustafa_iman

Mustafa Iman

1 Komentar

  • Teknopop.id

    Komentar sedang dimoderasi

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.