Hey Kawan! Masih Tega Membiarkan Mereka Terancam Punah?

Hey Kawan! Masih Tega Membiarkan Mereka Terancam Punah?
info gambar utama

Kawan GNFI, setiap tanggal 19 Agustus, dunia ilmu pengetahuan mendedikasikan hari itu untuk kerabat satwa paling dekat dengan manusia, yakni Orangutan.

Dalam beberapa penelitian, Orangutan mempunyai 96,4 persen kesamaan genetik dengan manusia, sehingga menjadi mahluk paling dekat hubungannya dengan manusia. Meski memiliki kesamaan, ternyata manusia juga yang telah mengebiri habitat mereka.

Populasi Orangutan tertinggi di dunia berada di Indonesia. Sayangnya, jumlah orangutan di Indonesia terus menurun, bahkan secara resmi berada di ambang kepunahan.

Berdasarkan data IUCN (International Union for Conservation of Nature) pada 2004, populasi Orangutan Kalimantan telah berkurang sejak tahun 1970-an, dan diprediksi akan terus menurun.

Para ahli mengklaim biang kerok turunnya populasi Orangutan akibat pengrusakan hutan hujan di Sumatra dan Kalimantan. Kegiatan perluasan perkebunan sawit disinyalir sebagai ancaman terbesar. Lain itu, ada juga soal pemburuan liar.

Lain itu, Orangutan berkembangbiak sangat lama, yakni mencapai 7-8 tahun sekali. Nah, jika kehilangan seekor betina saja, maka akan menjadi bencana bagi kelangsungan populasi tersebut.

Dalam studi besar dari penelitian periode 1999-2015 yang dipublikasikan jurnal Current Biology pada Februari 2018, diperkirakan 148.500 Orangutan telah lenyap kurun itu (16 tahun).

Sebaran Orangutan yang kian meruncing

Secara khusus, Orangutan hidup di Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan--terbagi antara Indonesia, Malaysia, dan Brunei. IUCN mencatat, setidaknya ada tiga spesies orangutan yang populasinya terus menurun. Yakni Orangutan Sumatra (Pongo abelii), Orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus), dan Orangutan Tapanuli (Pongo tapanuliensis).

Ketiganya masuk dalam daftar merah IUCN dengan status kritis (critically endangered) alias sangat terancam punah. Meski menurut Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) status ini perlu betul-betul dicermati.

populasi orangutan 2016

Hasil kajian lain dari Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) tahun 2016 yang dirilis KLHK juga menunjukkan beragam data. Menurut PHVA, dari perkiraan 71.820 Orangutan di Pulau Sumatera dan Borneo yang tersebar dalam 52 meta populasi di habitat seluas 18.169.200 hektare, mayoritas mereka ada di Borneo.

Terdapat 57.350 Orangutan Kalimantan di habitat seluas 16.013.600 hektare, dengan sub-spesies terbanyak yaitu Pongo pygmeaus wurmbii (sekira 38.200 Orangutan). Sementara Orangutan di Sumatra hanya berjumlah 14.470 dari luasan area populasi 2,15 juta hektare.

Namun jika dihitung rata-rata dari tiap kilometer persegi dari total luas hutan habitat mereka, didapat fakta bahwa dalam 1 km persegi hanya ditemui kurang dari satu Orangutan.

Pendek kata, spesies Orangutan terbanyak di Kalimantan maupun Sumatra sekalipun, masih akan sulit ditemui dalam 1 km persegi pada habitat aslinya.

populasi orangutan menurut sub-spesies 2016

Kelangkaan seperti itu, boleh jadi ditambah sifat alami Orangutan yang pemalu, sehingga membuat pendataan populasi Orangutan tak pernah mencapai angka valid. Para periset hanya mampu mengira populasinya berdasarkan jumlah sarang yang tersebar di hutan.

Pemantauan sarang, meski bukan patokan menentukan jumlah, bisa digunakan untuk menentukan pengurangan atau peningkatan populasi.

Upaya kelestarian yang terus dilakukan

Pada Mei 2016, Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem KLHK Republik Indonesia bekerjasama dengan Forum Orangutan Indonesia (FORINA) dan Forum Orangutan Regional untuk melakukan analisis kelangsungan hidup populasi dan habitat Orangutan Sumatra dan Orangutan Kalimantan.

Konsi itu menghasilkan sebuah rancangan kegiatan yang akan dilakukan oleh para pihak yang bekerja untuk kepentingan keberlangsungan konservasi Orangutan.

Kegiatan terlaksana atas kerjasama FORINA, Orangutan Foundation-United Kingdom, IUCN SSC Primate Specialist Group, IUCN SSC Conservation Breeding Specialist Group, dan juga dukungan para lembaga dan praktisi pemerhati konservasi Orangutan.

Dari jumlah Orangutan yang disebutkan di atas, kabar baik dari para peneliti menyebut bahwa sekira 38 persen dari jumlah itu diprediksi akan tetap lestari dalam 100-500 tahun ke depan. Jika prediksi ini benar, maka sekira 27,2 ribu Orangutan masih akan dilihat oleh mata dunia dan anak cucu kita.

Walaupun populasi Orangutan Kalimantan menurun, namun penurunan ini tidak terjadi dengan sangat cepat, sehingga menyebabkan perubahan status konservasi IUCN. Setidaknya terdapat 43 persen dari meta-populasinya memiliki tingkat viabilitas yang baik, ketimbang Orangutan Sumatra yang hanya 20 persen.

Sehingga, penurunan status konservasi Orangutan Kalimantan yang dilakukan oleh ahli primata dari IUCN pada tahun 2016, dari status spesies terancam punah (endangered) menjadi kritis (critically endangered)--seperti yang ditulis di atas, boleh jadi tak sesuai fakta dan perlu direvisi.

Data dari hasil pantauan PHVA pada 2016 tetap bakal dijadikan rujukan dalam pembuatan dokumen Strategi dan Rencana Aksi Konservasi Orangutan (SRAK) periode 2017-2027. Dengan data yang lebih baik dan lengkap diharapkan SRAK dapat menghasilkan suatu strategi yang nyata, terukur, dan bisa diterapkan.

5 Fakta tentang Orangutan yang kita jarang tahu

  • Ada dua spesies Orangutan, yaitu yang dari Kalimantan dan dari Sumatra. Meski berbeda spesies, kedua jenis orangutan itu bisa dibesarkan bersama-sama. Orangutan betina akan beranak di alam liar saat berumur 10-15 tahun. Namun di dalam penangkaran yang dibuat manusia, orangutan bisa beranak pada umur delapan tahun. Orangutan bisa berumur sampai 45 tahun.
  • Tinggi Orangutan jantan bisa mencapai 1,5 meter, sedangkan yang betina lebih pendek sekitar 1.3 meter. Meski lebih pendek jika dibandingkan manusia, ukuran rentang kedua tangan Orangutan bisa sepanjang 2.4 meter.
  • Orangutan kebanyakan menghabiskan waktu mereka di atas pepohonan. Mereka tidur di sarang yang terbuat dari cabang dan ranting pohon. Ini berbeda dibandingkan gorila dan simpanse yang menghabiskan banyak waktu mereka di atas tanah. Lain itu, ketika Orangutan turun ke tanah mereka akan berjalan menggunakan kaki dan tangan mereka dengan telapak menghadap ke tanah. Ini berbeda dengan gorila yang berjalan menggunakan buku kaki mereka.
  • Bulu-bulu Orangutan berwarna oranye yang digunakan sebagai kamuflase saat berada di dalam hutan yang gelap karena kanopi pohon yang rindang. Orangutan Sumatera mempunyai warna lebih terang (oranye) sedangkan orangutan Kaimantan berwarna lebih gelap (oranye cenderung coklat).
  • Tidak seperti primata lainnya, Orangutan sebenarnya bukanlah satwa yang suka berkumpul. Orangutan jantan lebih suka menjelajahi hutan sendirian, sedangkan Orangutan betina biasanya ditemani oleh satu atau dua bayinya.

Kelestarian Orangutan tentunya tak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan pihak terkait, tapi kita juga sebagai masyarakat yang berbudaya. Pemerintah juga harus bertindak tegas bagi para pemburu satwa ini dengan memberikan ganjaran hukum yang setimpal.

Sesuai Pasal 21 ayat (2) huruf (a) Junto Pasal 40 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem, di sana berbunyi;

''Setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup.''

Yuk, tetap lestarikan Orangutan! Selamat Hari Orangutan Sedunia.

Baca juga:

Artikel ini dibuat oleh Penulis Terverifikasi GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Terima kasih telah membaca sampai di sini