Memahami Permasalahan Sampah dari Berbagai Aspek Demi Kehidupan yang Lebih Baik

Memahami Permasalahan Sampah dari Berbagai Aspek Demi Kehidupan yang Lebih Baik
info gambar utama

Sampah harus diakui telah menjadi bagian dari kehidupan manusia yang tak akan bisa dipisahkan. Muncul dari berbagai jenis aktivitas yang dibutuhkan untuk menunjang aktivtas bertahan hidup, yang selama ini salah sebenarnya adalah bagaimana setiap orang memenuhi tanggung jawabnya dalam mengelola sampah yang dihasilkan.

Kadung dipandang sebagai sesuatu yang tak bernilai dan tidak dikelola dengan baik saat sudah tak berguna, ibarat bom waktu akhirnya sampah itu berbalik menjadi ancaman yang menghantui kehidupan dalam bentuk yang tak pernah terbayangkan sebelumnya.

Polusi udara, polusi air, polusi tanah, belum lagi jika bicara dampak jangka panjangnya terhadap penyebab situasi krisis iklim. Pada akhirnya, tak heran jika muncul ungkapan bahwa sampah bikin resah.

Padahal, semua itu tidak akan terjadi jika kita dapat menyikapi keberadaan sampah dengan baik, mulai dari pemahaman akan jenisnya, pengelolaan, bahkan hingga upaya untuk membuat sampah tersebut menjadi sesuatu yang memiliki nilai.

Untuk itu, dalam rangka memeringati Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) yang jatuh pada tanggal 22 Februari kemarin, GNFI telah membuat serangkaian artikel yang mungkin dapat memberikan gambaran mengenai apa yang sebenarnya harus dipahami dari keberadaan sampah.

Mengenali Beragam Metode Pengelolaan Sampah Rumah Tangga

Pemahaman sampah umum dan berbahaya

Sampah berbahaya
info gambar

Sebagai gambaran awal akan situasi yang ada di tanah air, pada tahun 2020 Indonesia diketahui menghasilkan 67,8 juta ton sampah, di mana 37,3 persen di antaranya berasal dari aktivitas rumah tangga. Sementara itu berdasarkan jenis, 39,8 persen di antaranya merupakan sisa makan, dan sisanya adalah sampah plastik, kayu atau ranting, kertas atau karton, dan sampah jenis lainnya.

Gambaran tersebut kembali mempertegas jika memang sampah yang selama ini ada muncul karena aktivitas yang dilakukan oleh manusia. Kondisi tersebut diperburuk dengan adanya pemahaman gaya hidup praktis yang memunculkan persoalan sampah plastik kemasan.

Menurut Rosa Vivien Ratnawati, selaku Direktur Jenderal Pengelolaan Sampah, Limbah dan Bahan Beracun Berbahaya (Dirjen PSLB3) KLHK, hal tersebut mendorong masyarakat Indonesia lebih memilih menggunakan plastik sekali pakai.

“Komposisi sampah nasional menunjukkan adanya kecenderungan peningkatan timbulan sampah plastik dari 11 persen di 2010 menjadi 17 persen pada 2020,” ujar Vivien.

Selain itu, satu jenis sampah yang banyak luput dari pemahaman sekaligus pengelolaan di Indonesia adalah sampah berjenis B3, atau bahan berbahaya dan beracun. Memang sampah ini lazimnya berasal dari aktivitas industri, tapi kenyataanya tak sedikit pula industri penghasil limbah B3 yang lalai atau memang sengaja serta tidak patuh dalam mengelola limbah jenis tersebut, sehingga menimbulkan banyak kerugian.

Padahal, limbah B3 adalah zat, energi, dan komponen yang memiliki sifat dan konsentrasi dapat mencemari dan membahayakan lingkungan hidup serta kesehatan manusia. Beberapa jenis limbah B3 yang banyak ditemui misalnya amonia, asam sulfat, asam klorida, formalin, metanol, asam asetat, asetilena, natrium hidroksida, dan gas nitrogen.

Limbah B3 berbahaya karena jika terjadi kontak langsung dengan makhluk hidup dapat menyebabkan keracunan bahkan kematian, dan dapat menyebabkan timbulnya sel kanker.

Memahami Dampak Limbah Beracun dan Berbahaya Serta Cara Pengolahannya

Pentingnya pengelolaan dan sosok penggerak

Sampah rumah tangga
info gambar

Meski bukan hal baru dan sudah ditanamkan pemahamannya sejak lama, faktanya masih banyak masyarakat yang belum memahami bagaimana sebenarnya cara mengelola sampah dengan baik dan benar, khususnya sampah rumah tangga yang menjadi penyumbang terbesar dalam komposisi sampah nasional.

Ada beberapa hal yang sejatinya telah menjadi tanggung jawab dan dapat dilakukan untuk mengelola sampah demi perubahan yang lebih baik, di antaranya membangun kebiasaan memilah sampah organik dan anorganik terlebih dahulu.

Selain itu, tak lupa juga menerapkan prinsip 3R atau reduce, reuse, dan recycle dengan prioritas utama mengurangi produksi sampah, menggunakan kembali, dan mendaur ulang sampah dengan tujuan mengurangi konsumsi sumber daya primer dan produksi limbah.

Sangat dipahami jika semua itu terkadang sulit dilakukan jika hanya mengandalkan kesadaran diri, pada beberapa kondisi sejatinya memang diperlukan sosok panutan atau penggerak yang dapat mendorong munculnya rasa kepedulian akan pengelolaan sampah.

Di Indonesia sendiri, beruntungnya cukup banyak sejumlah pegiat atau aktivis yang kerap menyuarakan berbagai aksi kepedulian dan pengelolaan terhadap sampah, salah satunya adalah Ence Adinda, seorang anak muda asal Malang yang mendirikan sebuah komunitas pilah sampah bernama iLitterless pada tahun 2020 lalu.

Bersama dengan pasangannya, dia rajin memberikan edukasi bahkan pemilihan sampah untuk masyarakat di Kota Malang, iLitterless sendiri juga berperan dalam menjembatani masyarakat yang sudah paham mengenai sistem pemilah sampah untuk kemudian disalurkan ke bank sampah.

“Harus dibenahi lagi bahwa pilah sampah ini bisa dilakukan oleh semua orang, semua umur, dan di mana pun. Lalu tinggal fasilitasnya dan mewadahinya bagaimana,” ujar Ende kepada GNFI.

Gerakan Pilah Sampah, Ence Adinda: Saya Akan Berikan Ruang pada Perempuan

Potensi sampah dan peran pemerintah

Sampah plastik yang didistribusi untuk industri
info gambar

Jika membahas lebih luas, alasan lain di balik pentingnya peran masyarakat akan pengelolaan sampah dengan baik adalah karena adanya potensi ekonomi yang masih dapat dimiliki dari keberadaan sampah itu sendiri, khususnya sampah plastik yang selama ini banyak beredar di masyarakat.

Di lapangan, sampah plastik yang banyak dikumpulkan nyatanya berarti bagi para pengepul untuk disetor kepada pabrik pembuatan perlengkapan tertentu. Secara umum, produk yang biasa dihasilkan dari olahan sampah plastik yang telah dikelola hadir dalam bentuk ember dalam perkakas rumah tangga, lapisan karpet, sapu, dan ragam peralatan lainnya.

Menurut data Sustainable Waste Indonesia (SWI), diketahui kalau total penghasilan di tingkat pengumpul sampah plastik wilayah Jabodetabek, dari segi sampah berupa kemasan minuman ringan ternyata punya nilai mencapai Rp1 miliar per hari.

Potensi ekonomi tersebut tentu akan meningkat apabila masyarakat Indonesia sudah memahami dengan baik bagaimana cara mengelola sampah dengan baik.

Tapi di saat yang bersamaan, tentu pemahaman yang baik dari masyarakat dan pendukung yang diupayakan oleh sejumlah pihak baik oleh perorangan atau organisasi, tidak akan membawa perubahan yang lebih besar lagi jika tidak ada campur tangan dari pihak pemerintah.

Karena itu, di tangan pemerintah program pengelolaan sampah tidak hanya terbatas kepada praktik pengelolaan sampah saja, melainkan gerakan yang mengarah kepada hal yang lebih besar yakni situasi penanggulangan terhadap masalah perubahan iklim.

“Sudah bukan memilah dan mendaur ulang saja. Sampah itu sudah harus bisa memberikan kontribusi pada penurunan emisi gas rumah kaca," tegas Vivien.

Karena itu akhirnya munculah program kampung iklim (proklim). Saat ini, KLHK disebut sudah mempersiapkan sekitar 3.000-an kampung iklim yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Salah satu program yang akan ditekankan pada pengembangan proklim adalah pengelolaan sampah baik yang berjenis limbah padat maupun cair dari hulu ke hilir.

Ke depannya, setiap kampung yang masuk dalam program kampung iklim akan mendapatkan pengawasan mengenai kontribusinya dalam menjalankan peran pengelolaan sampah, terutama yang berjenis organik agar dapat mengurangi emisi GRK.

Karena penurunan emisi GRK sendiri mengacu pada sampah berjenis limbah organik, maka besar kecilnya kontribusi suatu kampung dalam mengatasi masalah perubahan iklim akan diukur dari banyaknya volume limbah organik yang berhasil dikelola.

Harapannya, setiap kampung yang terdaftar dalam proklim akan mampu mengelola sampah atau limbah organik sebanyak satu hingga dua ton setiap harinya, untuk diolah ke dalam bentuk biogas menggunakan fasilitas yang telah dibangun, dan memberikan dampak perubahan yang dapat terukur secara signifikan.

Mengenal Jenis Sampah Plastik yang Ternyata Punya Nilai Ekonomi Tinggi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini