Upaya Belanda Lakukan Tanggap Darurat dan Rehabilitasi Pasca Gempa Padang 1926

Upaya Belanda Lakukan Tanggap Darurat dan Rehabilitasi Pasca Gempa Padang 1926
info gambar utama

Gempa berkekuatan magnitudo 6,1 terjadi di Talamau, Pasaman Barat, Sumatra Barat (Sumbar) pada Jumat (25/2/2022) pukul 08.39 WIB. Gempa di darat ini berlokasi pada jarak 12 kilometer Timur Laut wilayah Pasaman Barat pada kedalaman 10 kilometer.

Kepala Badan Meterologi Klimatilogi dan Geofisika (BMKG) Dwikorita menyebut wilayah Sumbar memang memiliki riwayat sejarah gempa yang cukup panjang. Daerah ini pernah mengalami sembilan gempa dan berpotensi mengakibakan gempa magnitudo 7,6 skala richter (SR).

“Daerah Sumatra Barat ini telah mengalami sejarah gempa bumi yang cukup,” kata Dwikorita yang dimuat di CNN Indonesia.

Misalnya sejak sejak abad ke 19, wilayah Sumbar nan indah ini telah mengalami beberapa kali gempa besar, di antaranya pada tahun 1822,1835, dan 1861. Pada 28 Juni 1926, Padang mengalami guncangan gempa.

Berpusat di Padang Panjang, gempa bumi dahsyat ini tercatat berkekuatan 7,8 SR. Dampaknya memberikan kerusakan yang parah, gempa ini menimbulkan banyak tanah terbelah dan longsoran, seperti di Padang Panjang, Kubu Krambil, dan Simabur.

Sejarah Hari Ini (11 April 2012) - Gempa Bumi Besar Guncang Sumatra

Beberapa wilayah yang mengalami kerusakan para yaitu Padang Panjang, sekitar Danau Singkarak Bukit Tinggi, Danau Maninjau, Kabupaten Solok, Sawahlunto, dan Alahan Panjang. Gempa susulan juga memberikan dampak kerusakan di sebagian wilayah Danau Singkarak.

Pada catatan koran Soera Kota Gedang, (7 Juli 1926) gempa ini terjadi pada hari Senin pukul 10.10 pagi dan pukul 13.00 siang yang menimbulkan goncangan yang sangat kuat. Koran ini menggambarkan kedahsyatanya gempa ini.

Luluh lantaknya stasiun kereta terbesar di kota Padang, jalur-jalur kereta yang rusak, serta jalanan yang retak hingga tiga sampai lima sentimeter.”

Akibat gempa tersebut, air danau Singkarak tumpah membanjiri wilayah sekitar dan menimbulkan banyak korban jiwa. Diperkirakan gempa Padang ini telah merenggut seribu jiwa di seluruh wilayah Sumbar dan menghancurkan 2383 rumah di Padang Panjang.

Getaran gempa memang menimbulkan kerusakan infrastuktur. Terutama pada bangunan berbahan bata yang banyak bertumbangan. Salah satu bangunan yang terkena dampak adalah ikon Bukitinggi, Jam Gadang.

Ketika itu Jam Gadang memang masih dalam proses pembangunan. Tatkala gempa besar ini berlangsung, jam ini bergoyang hebat dan miring 30 derajat. Lalu setelahnya diiperbaiki seperti keadaan semula.

“Tinggi bangunannya sekitar 37 meter. Tetapi karena letaknya di atas bukit, kelihatannya amat tinggi, terutama bila dilihat dari lembah-lembah disekitarnya. Di puncaknya terdapat bangunan rumah gadang dengan atap berbentuk tanduk kerbau. Untuk sampai di puncak ini terdapat sebuah tangga,” papar laporan dari Majalah Tempo berjudul Jam Gadang Akan Dikomersilkan (1978) yang disadur dari VOI.

Darurat bencana oleh Belanda

Menyikapi bencana gempa ini, pemerintah Karesidenan Padang segera mengirimkan telegram kepada pemerintah pusat kolonial di Bogor. Melalui telegram, mereka mengabarkan bahwa keadaan Kota padang Panjang hancur total.

Fasilitas kereta dan tram tidak dapat berfungsi akibat hancurnya rumah sakit dan penjara di kota tersebut. Lebih lanjut, jembatan penghubung dari wilayah Fort de Kock menuju Sibolga pun rusak berat, sehingga tidak bisa digunakan.

“Karena itu, jalur transportasi dan komunikasi dialihkan ke wilayah Kandang Ampat, wilayah terdekat yang kantor polisinya tidak mengalami kehancuran total,” tulis Devi Riskianingrum dalam tulisan Penanganan Bencana dan Transformasi Pengetahuan Tentang Kegempaan di Masa Kolonial.

Demi mendapatkan berita terbaru walaupun dalam keadaan terputusnya jalur komunikasi dan transportasi, Pemerintah Kota Padang Panjang terus menerus mengirimkan informasi terakhir melalui telegram kepada pemerintah pusat di Bogor.

Oleh Algemene Secretarie, telegram tersebut didistribusikan kepada beberapa dienst atau departemen terakait, terutama binnenland bestuur atau Departemen Dalam Negeri, Leger atau Angkatan Darat, BOW atau Departemen Pekerjaan Umum dan Gouvernement Bedrijven atau BUMN terkait.

“Hal ini diakukan oleh pemerintah kolonial agar dapat saling berkoordinasi dalam menangani gempa tersebut,” tulisnya.

Sesar Lembang dan Legenda Sangkuriang

Dalam catatan Devi, beberapa hal dilakukan oleh pemerintah pusat kolonial untuk menindaklanjuti bencana gempa ini, antara lain mengirimkan militernya pada tanggal 3 Juli 1926 untuk membantu korban gempa dan mengamankan keadaan sekitarnya.

Lebih lanjut, pemerintah kolonial juga menyalurkan bantuan makanan ke wilayah-wilayah yang terkena dampak gempa, Tetapi akibat terputusnya transportasi, para korban gempa mengalami kesulitan mendapatkan makanan.

Bahkan jikalau ada, harganya bisa menjadi dua atau tiga kali lipat sehingga tidak akan terjangkau oleh mereka. Karena itu, bantuan makanan dari pemerintah sangat membantu masyarakat Kota Padang Panjang.

Sementara itu, pemberitaan baik dari dalam dan luar negeri juga mengundang simpati dunia atas bencana ini. Beberapa pihak swasta pun tercatat memberikan bantuan kepada korban. Salah satunya adalah dari Smeroe Fonds, yayasan kemanusian yang didirikan khusus untuk korban bencana alam.

Bantuan juga datang dari dalam negeri misal masyarakat Padang yang ada di Jakarta. Mereka yang tergabung dalam Studiefond Kota Gedang Tjabang Betawi, kelompok-kelompok keagamaan dan harian lokal yang membuka fonds gempah dan lainnya.

Rehabilitasi pasca gempa

Pemerintah kolonial juga segera mengambil langkah-langkah rehabilitasi kota. Dalam rangka rehabiitasi kota Padang Panjang, pemerintah kolonial melakukan pembangunan kembali rumah-rumah dan fasilitas umum, terutama stasiun dan jalur kereta yang rusak, kantor pos dan rumah sakit.

Hal ini dilaksanakan agar kota dan sekitarnya dapat segera kembali menjalani kehidupannya seperti sebelum gempa terjadi. Selain sarana dan prasarana umum, pemerintah kolonial juga mengutamakan pembangunan rumah-rumah bagi para pejabat dan pegawai negeri.

Pembangunan tersebut ditargetkan selesai di awal tahun 1927 sehingga mereka bisa kembali menempati pos-posnya dan kembali bertugas untuk negara. Terkait dengan pembangunan rumah bagi para pegawainya, pemerintah mempersiapkan dana sebesar 162.500 gulden yang 38.000 gulden di dapat dari pemerintah pusat di Belanda.

Rehabilitasi ini memang salah satunya untuk kepentingan ekonomi. Dengan perbaikan jalur transportasi dan komunikasi bisa mengembalikan suplai pendapatan Karesidenan Sumatra Westkust bagi pemerintah kolonial.

Gua Laut Indonesia yang Merekam 5.000 Tahun Jejak Tsunami

Namun demikian, sisi kemanusian tetap mewarnai kebijakan kolonial Belanda dalam pemulihan Padang Panjang dari bencana gempa. Hal ini bisa terlihat dari banyaknya bantuan yang disalurkan melalui lembaga-lembaga donor, baik pemerintah asing, maupun pihak swasta.

Lebih jauh pemerintah kolonial memang tetap mengutamakan keselamatan penduduk Eropa dibandingkan kaum pribumi. Hal ini terindikasikan dari laporan-laporan yang dituliskan residen mengenai pejabat dan pegawai Eropa ketimbang pribumi yang menjadi korban.

“Dalam salah satu, residen mencatat kematian seorang dokter Eropa bernama Smith, serta mencatat jumlah pribumi yang meninggal akibat gempa ini, untuk kemudian di laporkan kepada pemerintah pusat di Bogor,” ujar Devi.

Memang selain penanganan korban, pemerintah kolonial Belanda juga merasa perlu untuk menelaah penyebab gempa Padang Panjang tersebut. Oleh karena itu, pihak pemerintah mengutuskan beberapa orang ahli vulkanologi ke Padang.

Hal ini ditulis Devi, terkait munculnya dugaan bahwa gempa di Padang Panjang dipicu oleh gerakan vulkanik Gunung Talang yang terletak di Padang dan Solok. Ketika itu muncul kabar bahwa Gunung Talang akan meletus dan menyebabkan kepanikan.

Namun, berita itu segera diluruskan oleh pihak pemerintah setempat bahwa gunung tersebut belum meletus. Di sisi lain, bedasarkan penelitian lebih lanjut, ternyata gempa Padang Panjang merupakan gempa tektonik yang merupakan karakter sesar Sumatra.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini