Tonil Kelimutu, dan Naskah Perlawanan Soekarno Melalui Panggung Teater

Tonil Kelimutu, dan Naskah Perlawanan Soekarno Melalui Panggung Teater
info gambar utama

Soekarno membentuk Partai Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927. Tujuan partai ini adalah mendirikan Negara Indonesia Merdeka yang menjadi alasan dia ditangkap pada tanggal 29 Desember 1929.

Setelah dipenjara selama 8 bulan, Soekarno baru diadili, tepatnya tanggal 18 Agustus 1930. PNI dinyatakan sebagai partai terlarang. Bebas dari penjara 31 Desember 1931, Soekarno terpilih dengan suara bulat sebagai ketua Partindo.

Pemerintahan kolonial Belanda menilai aktivitas politiknya makin membahayakan kepentingan penjajah, Soekarno lalu ditangkap pada 1 Agustus 1933. Menurut Soekarno penangkapan ini karena setelah keluar dari penjara, dirinya tidak mau tutup mulut.

Awalnya Soekarno merasa aman dari perhatian polisi Belanda. Dia kembali aktif menguraikan pemikiran-pemikirannya di majalah, bahkan sempat menulis naskah berjudul Mencapai Indonesia Merdeka.

Risalah ini menggemparkan kalangan pemerintah karena Soekarno tetap menyalurkan keinginannya untuk merdeka. Hingga akhirnya dia ditangkap kembali dan diberi sangsi tegas dengan mengasingkannya ke Ende-Flores.

Cindy Adams dalam buku Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia menyebut keberangkatan Soekarno dan keluarganya menuju Ende pada tanggal 17 Februari 1934 merupakan suatu perjalanan menuju kesepian.

Sisi Magis Kota Ende yang Pulihkan Soekarno, hingga Lahirkan Pemikiran Pancasila

Hal ini karena statusnya sebagai tahanan rumah, membuat pemerintah kolonial Hindia Belanda langsung melakukan tindakan pengamanan yang ketat hingga setiap orang menghindari Soekarno. Situasi ini membuat Soekarno bersedih.

Ditulis oleh Adams, kesunyian Ende dan tiadanya kawan membuat Soekarno depresi. Bersama-sama dengan kesunyian ini, dia juga menderita kesunyian batin.

Benar memang, Soekarno bisa meruntuhkan gunung dan menimbun lembah, tetapi terpisah dari gemuruh banyak orang dia tidak akan sanggup menyembelih ayam sekalipun.

Karena kondisi inilah, Soekarno mulai menulis naskah sandiwara. Maka dirinya kemudian memutuskan untuk mendirikan sebuah perkumpulan sandiwara yang diberi nama Toneel Club Kalimutu yang namanya diambil dari nama sebuah danau tiga warna di Ende.

Bedasarkan penuturan Soekarno kepada Adams ada 12 naskah yang ditulisnya dari tahun 1934 hingga tahun 1936 di Ende. Tetapi dirinya tidak menyebutkan secara terperinci judul-judul naskah sandiwara tersebut.

Namun melalui penelusuran 12 naskah ini berjudul, Dr Sjaitan, Tahun 1945, Rahasia Kelimutu, Rendo Rate Rua, Julagubi, Aero Dinamit, Kutkubi, Maha Iblis, Anak Haram Jaddah, Siang Hai Rumba, Nggera Ende, Pengaruh Tanah Air.

“Semua naskah sandiwara ditulis dengan “napas” yang sama yakni membawakan pesan moral perjuangan untuk meraih kemerdekaan,” tulis Fatma Wati dalam jurnal akademik berjudul Tonnel Club Kelimutu: (Perjuangan Kemerdekaan Sukarno dari Ende Flores 1934-1938.

Naskah sandiwara Soekarno

Karya pertama yang lahir adalah naskah yang berjudul Dr Sjaitan yang dilhami dari novel Mary Shelley, cerita hewan dahsyat Frankenstein yang mengajarkan bahwa tubuh Indonesia yang sudah tak bernyawa bisa dibangkitkan dan dihidupkan kembali.

Peran utama adalah seorang tokoh Boris Karloff yang menghidupkan mayat dengan melakukan transplantasi hati dan orang yang hidup. Drama ini disetting dengan suasana heroik untuk menanamkan sikap anti Belanda kepada masyarakat Ende.

Mereka yang menonton terkesima dan napas mereka naik turun melihat tontonan yang jarang mereka saksikan. Apalagi pemeran Boris Korloff tampil begitu seram sehingga penonton yang menyaksikan menjadi amat ketakutan.

Ada adegan di mana, ayah Boris memberi nasihat bahwa usaha menghidupkan orang mati adalah pekerjaan yang menyekutui Tuhan. Tetapi Boris tetap masuk ke ruangan sambil tergelak girang karena eksperimennya hampir tuntas.

Ayah! Hak Allah tetap hak Allah SWT. Saya sama sekali tak merampas. Tetapi sebagai dokter saya ingin memperdalam ilmuku sampai seluas-luasnya!

“Drama tersebut secara tidak langsung menggambarkan secara politis bahwa walaupun bangsa Indonesia hidup sengsara dan teraniaya dalam penjajahan Belanda, namun dalam hati mereka tersimpan jiwa dan semangat untuk bangkit dan lepas dari penjajahan,” tulis Fatma Wati.

Kisah di Balik Sila Pertama yang Justru ‘Ditemukan’ Terakhir oleh Soekarno

Kemudian berturut-turut judul sandiwara dimainkan. Menurut Inggit Ganarsih, sandiwara yang berkesan bagi masyarakat Ende adalah drama tentang percintaan yang berjudul Rendo.

Drama percintaan ini menggambarkan kisah asmara antara seorang pemuda dengan putri bangsawan yang cantik jelita. Hal yang menarik, peran perempuan ini dimainkan oleh laki-laki, pasalnya tidak seorangpun perempuan Ende yang mau tampil di panggung.

Hal yang lucu adalah pemeran laki-laki ini dirias dengan cantik, sehingga polisi Belanda yang ikut menonton jatuh cinta dan mengatakan kepada Inggit ingin menikahi “pemeran perempuan” tersebut.

“Tentu saja kami dan polisi Belanda itu tertawa terpingkal-pingkal setelah kami ceritakan bahwa pemegang peranan perempuan itu adalah laki-laki,” jelas Inggit yang ditulis Lambret Giebels dalam Sukarno Nederlandsch Onderdaan Een Biografi 1901-1950.

Ada juga drama yang menyentuh sisi lokalitas masyarakat Ende yang berjudul Rahasia Kalimutu. “Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung,” begitu pesan ayah kepada Sjarifudin, Bachtiar, dan Tan Tiong yang meninggalkan Jawa menuju Flores.

Kisah kemudian bergulir, mereka bertiga sampai ke Flores. Seorang mandor menceritakan berbagai mitos dan takhayul tentang Kalimutu. Sampailah Sarifudin di Kalimutu untuk menguak rahasia di sana, sementara kedua temannya gagal.

Seru sekali menyimak cerita sandiwara Bung Karno, kisah tenang penjahat yang berpura-pura layaknya serial Scooby Doo. Pesan moralnya jelas, seseorang yang berperilaku jahat, mau menutupi diri dengan kedok apa pun, bakal terbongkar juga.

Soekarno dan perlawanan melalui tonil

Bung Karno mengajak penduduk asli yang berprofesi sebagai sopir, nelayan dan pedagang kecil untuk menjadi pemeran tonil. Tercatat oleh Adams, ada 47 orang sahabat Soekarno di Ende yang menjadi penanggung jawab Toneel Club.

Tonil tersebut berisi cerita-cerita yang membangkitkan perasaan kebangsaan, membuka kedok kekejaman perlakukan pemerintah kolonial Belanda, mengobar-kobarkan api Revolusi untuk menuju kepada kemerdekaan Indonesia,” tulis Soekarno dalam surat yang ditunjukan kepada Bupati Ende.

Pada masa awal pembuangan Soekarno ke Ende, tidak banyak masyarakat asli yang mengenyam pendidikan atau tahu baca tulis huruf latin, sehingga Soekarno harus benar-benar membacakan sendiri dialog yang akan mereka ucapkan di atas panggung.

“Dia yang melatih, dia yang menjadi sutradara, yang membuat dekor, yang mengatur bagian teknik, dan aku rasa pertunjukannya memuaskan,” tulis Inggit menceritakan peran Soekarno dalam kelompok tonil ini.

Kekurangan biaya pendukung juga menjadi tantangan. Dengan uang pas-pasan yang mereka kumpulkan bersama, sebanyak dua puluh tujuh sen kemudian Soekarno mulai membuat beberapa cerita yang dapat menarik hati rakyat.

Awalnya Soekarno bingung di mana dia bisa mendapatkan tempat untuk melaksanakan pertunjukan. Kegelisahan itu diceritakan kepada sahabatnya yakni seorang missionaris gereja Katolik di Ende yakni Pater Huijtink.

Merenungi Hubungan Antara Bung Karno, Pancasila, dan Milenial

Sang Pater yang telah menjadi teman diskusi Soekarno sejak awal berada di Ende, menaruh simpati atas perjuangan Bung Karno. Dirinya kemudian dengan senang hati menunjuk gedung yang dapat disewa untuk mengadakan pertunjukan.

“Awalnya gedung itu tanpa kursi dan tidak ada aliran listrik, tetapi sang Pater berbaik hati mau menanggung semua persiapan terkait gedung pertunjukan,” jelas Fatma Wati.

Soekarno dengan 13 tonilnya menjadi satu cerita menarik tentang sisi keseniman proklamator bangsa. Dia menyikapi masa keterasingan itu dengan cara yang tepat yakni berkesenian.

“Berkesenian adalah satu jalan yang dipilihnya untuk tetap memilihara semangat perjuangan dalam diri sendiri dan kemudian mengobarkannya kepada orang lain,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini