Menilik Potensi Wisata Rumah Radakng dan Desa Sungai Kupah di Kalimantan Barat

Menilik Potensi Wisata Rumah Radakng dan Desa Sungai Kupah di Kalimantan Barat
info gambar utama

Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) dikenal dengan alamnya yang memesona dan juga kental dengan kebudayaannya. Dijuluki sebagai provinsi seribu sungai, kondisi geografis Kalbar memang memiliki ratusan sungai kecil dan besar. Kalbar juga memiliki pulau-pulau yang tersebar sepanjang Selat Karimata dan Laut Natuna yang berbatasan dengan wilayah Provinsi Kepulauan Riau.

Keindahan alam Kalbar bisa terlihat pada destinasi wisatanya seperti Sungai Kapuas, Pantai Temajuk, Danau Sentarum, Pasir Panjang Singkawang, dan Tanjung Bajau. Sebagai provinsi yang masyarakatnya didominasi oleh Suku Dayak, tentunya ada beberapa destinasi wisata yang berkaitan dengan suku tersebut.

Dalam kunjungan ke Pontianak, ibu kota Kalbar, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno, mendukung pengembangan destinasi wisata di Kalbar seperti Rumah Radakng dan Desa Wisata Sungai Kupah.

Menurut Sandiaga, Rumah Radakng bisa menjadi destinasi wisata budaya utama di Kalbar. Sedangkan pengembangan Desa Wisata Sungai Kupah akan fokus pada ekowisata bakau. Keduanya diharapkan dapat menjadi daya tarik yang kuat bagi wisatawan, sejalan dengan tren pariwisata berkualitas dan berkelanjutan, dan memperkuat peluang untuk kebangkitan ekonomi hingga terbukanya lapangan kerja.

“Kalimantan Barat sendiri ditargetkan memiliki 128 Desa Wisata untuk didaftarkan di Jaringan Desa Wisata (Jadesta). Ini simbol kebangkitan ekonomi, peluang usaha dan lapangan kerja, simbol kekuatan ekonomi baru yang sedang kita susun bersama Presiden Joko Widodo yaitu desa wisata bahari,” kata Sandiaga.

Tangkahan, Destinasi Ekowisata dan Jelajah Alam Liar di TN Gunung Leuser

Rumah Radakng

Rumah Radakng | Dok. Kemenparekraf
info gambar

Rumah Radakng merupakan sebutan bagi rumah panjang Suku Dayak Kanayatn. Bangunan ini menjadi ikon Pontianak selain Tugu Khatulistiwa dengan ukuran panjang 138 meter dengan tinggi 7 meter. Rumah Radakng berlokasi di Jalan Sutan Syahrir Kota Baru Pontianak dan telah diresmikan oleh Gubernur Kalbar pada tahun 2013. Rumah adat ini berfungsi untuk pelestarian adat istiadat sekaligus menjadi destinasi wisata budaya di Pontianak.

Ada beberapa keunikan pada rumah adat ini. Misalnya, rumah memiliki tangga kayu yang besar, panjang, dan banyak. Setidaknya ada 42 tangga di rumah ini yang disesuaikan dengan jumlah bilik yang ada. Menurut kepercayaan masyarakat, jika salah satu penghuni bilik meninggal dunia, ketika pemakaman ia tidak boleh menggunakan tangga milik penghuni lain karena dipercaya akan menyebabkan kesialan.

Bagian dari rumah ini terdiri dari teras, ruang tamu, dan ruang keluarga. Di area ruang tamu, kita bisa melihat pene, semacam meja yang digunakan zaman dahulu sebagai tempat duduk ketika menerima tamu.

Secara keseluruhan, rumah adat ini berhiskan ukiran kayu seperti tameng perang dan patung burung. Bagian atapnya terbuat dari sirap dan berupa atap pelana. Kita juga dapat melihat pilar-pilar di atas rumah yang dilengkapi dengan patung burung enggang daging yang melambangkan kegagahan Suku Dayak.

"Ini adalah destinasi wisata berbasis budaya yaitu cultural tourism, dan wisatawan akan merasakan dan juga mendapatkan pengalaman, kenangan, sekaligus belajar tentang kebudayaan (Kalimantan Barat) di sini," kata Menparekraf.

Ia juga mendorong agar Rumah Radakng bisa menjadi tempat pergelaran acara dan kesenian. Dengan izin pengelola dan dewan adat, rumah ini bisa diusulkan untuk jadi tempat acara.

"Semoga kita bisa mengenalkan budaya khas dari Pontianak ke seluruh Indonesia, memulihkan ekonomi dan membuka lapangan kerja. Kita all out menghadirkan kebijakan yang tepat sasaran, tepat manfaat, dan tepat waktu untuk kita songsong ekonomi baru," terang Sandiaga.

Menjelajah Wisata Alam di Lembata NTT, Dari Pantai Sampai Dapur Alam

Desa Wisata Sungai Kupah

Desa Wisata Sungai Kupah berlokasi di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, dan terletak di penghujung hulu Sungai Kapuas dan hilirnya di Selat Karimata. Desa ini memiliki pontensi bakau yang besar di mana wisatawan dapat menyusuri hutan bakau hingga menanam bibit bakau.

Selain itu, kegiatan yang bisa dilakukan di desa ini adalah menyusuri sungai sambil melihat langsung beberapa spesies primata langka seperti monyet ekor panjang, lutung, dan bekantan. Ada pula spesies burung raja udang dan elang seringkali ditemukan di kawasan ini.

Desa Wisata Sungai Kupah juga memiliki paket Kampung Nelayan untuk wisawatan menikmati nuansa kampung nelayan yang asri dan melihat bagaimana kehidupan masyarakat yang sedang bertransaksi ikan segar.

Untuk potensi dari kesenian, masyarakat desa ini punya tarian mangrove yang menggambarkan lingkungan bakau yang kerap dipenuhi kiriman sampah dari Sungai Kapuas. Tarian ini juga memperlihatkan bagaimana usaha masyarakat dalam mengikat dan membersihkan sampah sebagau upaya perlindungan hutan bakau. Ada pula Tundang atau pantun dendang, seni yang disampaikan secara lisan dalam bentuk pantun dengan iringan gendang.

Untuk memperkuat pengembangan desa wisata, Menparekraf berkomitmen untuk mendorong perbaikan akses ke desa ini yang sedikit rusak, juga soal pengelolaan sampah yang tepat sasaran.

Keunikan Pura Goa Gajah dan Peninggalan Sejarah dari Kerajaan Bali Kuno

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini