Keunikan Pura Goa Gajah dan Peninggalan Sejarah dari Kerajaan Bali Kuno

Keunikan Pura Goa Gajah dan  Peninggalan Sejarah dari Kerajaan Bali Kuno
info gambar utama

Sebagai pulau dengan mayoritas penduduk beragama Hindu, tentu wajar bila kita akan menemukan begitu banyak pura di Bali. Selain menjadi tempat beribadah, beberapa pura memiliki desain arsitektur unik, megah, ditambah dengan lokasinya yang memiliki pemandangan menakjubkan. Tak heran bila pura di Bali juga kerap kali menjadi tujuan destinasi wisata.

Anda mungkin sudah mengenal beberapa pura terkenal di Bali seperti Tanah Lot, Pura Agung Besakih, Uluwatu, Ulun Danu Beratan, Tirta Empul Tampak Siring, dan Lempuyang Luhur. Nama-nama pura tersebut memang sering dikunjungi wisatawan karena memiliki pemandangan alam yang indah di sekitarnya. Namun, ada juga satu pura dengan bentuk bangunan unik yang wajib ada dalam daftar kunjungan Anda ke Bali, yaitu Pura Goa Gajah.

Pura Goa Gajah merupakan salah satu pura tertua di Bali dengan desain yang begitu khas dan memiliki nilai sejarah tinggi. Alih-alih berbentuk seperti pura, sebenarnya dari penampilan tempat ini lebih mirip gua.

Pura Goa Gajah merupakan bangunan Situs Cagar Budaya yang berada di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar. Tempat ini cukup mudah diakses karena berada di jalur lintas Denpasar-Tampaksiring-Kintamani dan masih dekat dengan tempat wisata di Ubud. Apa saja keunikan dari pura berbentuk gua ini?

Menurut Laporan YouGov, Bali Jadi Destinasi Wisata Terfavorit Orang Indonesia

Keunikan kawasan Pura Goa Gajah

Bagian dalam Pura Goa Gajah | @Elizaveta Galitckaia Shutterstock
info gambar

Bangunan pura ini diperkirakan dibangun pada abad XI Masehi dan sudah sejak masa pemerintahan dinasti Kerajaan Warmadewa. Kompleks Situs Cagar Budaya Goa Gajah memiliki dua bagian di utara dan selatan yang dibatasi oleh parit. Menurut peninjauan pada arsitekturnya, kompleks sebelah utara menunjukan tanda-tanda Siwaistis dan sebelah selatan bercorak Buddhis.

Pada masa lampau, kedua kompleks ini digunakan oleh pendeta Siwa dan Buddha dalam satu periode dan menunjukan bahwa kedua agama dapat hidup berdampingan di sana. Goa Gajah juga digunakan sebagai tempat semedi oleh para pendeta, yogi, dan raja-raja.

Memasuki area pura, wisatawan dapat melihat beberapa bangunan yang digunakan untuk menunjang upacara keagamaan, yaitu Pharyangan, Limas Sari, Gunung Lebah, Gunung Agung, Pesimpangan Ratu Ngurah, Panglurah Agung, Pura Taman, dan Ratu Brayut.

Untuk puranya sendiri dibangun dari batu padas dan memiliki lorong sepanjang sembilan meter. Pembangunan goa ini dilakukan dengan memotong sebagian tebing batu padas sehingga bagian depannya menjadi pelataran datar.

Gua kuno di Bali umumnya mengambil bentuk umum atau pola rumah. Namun, Goa Gajah ini memiliki bagian depan yang menonjol dan diukir menjadi relief raksasa. Pada pintu masuk goa, terdapat ukiran hiasan berbentuk kepala kala dan di sampingnya ada hiasan dedaunan, wajah manusia, dan binatang hutan seperti babi dan kera.

Memasuki bagian dalam gua, Anda bisa melihat tulisan kumon dan sahy(w)angsa yang dipahat. Menurut pendapat Stutterheim, jenis huruf tersebut berasal dari abad ke-11.

Semakin masuk ke dalam gua, bentuknya akan semakin melebar. Di dalam lorong terdapat beberapa ceruk besar yang diapit oleh ceruk lain yang lebih kecil. Pada ceruk terbesar, terdapat fragmen Arca Siwa dan ikal rambut. Ada pula arca Arca Trilingga, Arca Dwarapala, Arca Jongkok, Arca Hariti, dan Arca Ganesa.

Arca Ganesa dari batu andesit tunggal di gua ini memiliki tinggi 107 cm dan digambarkan tengah duduk bersila sambil memegang kendi. Arca dengan tangan empat ini terlihat sedang memegang patahan gading, mangkuk berhiaskan tengkorak, aksamala atau tasbih, dan tangan yang lain memegang parasu atau kapak.

Di kawasan pura, Anda juga dapat menemukan Komplek Lembah Tukad Pakung. Peninggalan purbakala di komplek ini berupa fragmen bangunan, ceruk pertapaan, relief payung susun tiga belas, relief stupa bercabang tiga, fragmen Arca Buddha, dan relief hias yang dipahat ke sejumlah bongkahan batu.

Jembrana, Destinasi Wisata Memesona di Bali Selain Kuta dan Ubud

Sejarah Pura Goa Gajah

Goa Gajah | @KeongDaGreat Shuttertock
info gambar

Penemuan Pura Goa Gajah dilaporkan pada tahun 1923, kala itu seorang petinggi Hindia-Belanda menyebutkan tentang keberadaan Arca Ganesa, Trilingga, dan Hariti. Dari laporan tersebut, didatangkan Dr. WF. Stuterhiem dan melakukan penelitian di Bali pada tahun 1925.

Pura ini juga tercatat dalam beberapa prasasti, tetapi tidak ada yang secara gamblang menyebut namanya sebagai Pura Goa Gajah. Dalam Prasasti Songan Tambahan dan Prasasti Cempaga misalnya disebut Er Gajah. Sedangkan dalam Prasasti Pandak Badung menyebut tempat ini sebagai Antarakunjarapadda. Dalam kitab Negarakertagama di tahun 1365 Masehi, mencantumkan nama Badahulu dan Lwa Gajah di Bali sebagai daerah kekuasaan Majapahit.

Memahami Rangkaian Upacara Nyepi di Bali dan Makna di Baliknya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini