Bone Bolango, Tempat Berenang Bersama Hiu Paus dan Jadi Orang Tua Asuh Maleo

Bone Bolango, Tempat Berenang Bersama Hiu Paus dan Jadi Orang Tua Asuh Maleo
info gambar utama

Keindahan alam, dari darat hingga laut di Provinsi Gorontalo memang tak perlu diperdebatkan lagi. Wilayah ini memiliki beragam objek wisata, mulai dari benteng pertahanan, museum, wisata religi, danau, pulau dan pantai eksotis, perkampungan Suku Bajo, air terjun, desa adat, hingga Pulo Cinta yang tersohor.

Bahkan di satu kabupaten saja, potensi wisatanya begitu besar. Misalnya di Kabupaten Bone Bolango. Secara geografis, lokasinya berbatasan dengan Kecamatan Atinggola Kabupaten Gorontalo, Kabupaten Bolaan Mongondow, Kota Gorontalo, dan Laut Teluk Tomini.

Kabupaten ini terdiri dari empat wilayah kecamatan yaitu Bone Pantai, Kabila, Suwawa, dan Tapa. Untuk jarak tempuh dari Kota Gorontalo sekitar 28 km atau sekitar satu jam berkendara. Aktvitas dan destinasi apa saja yang dapat dikunjungi Kabupaten Bone Bolango? Berikut daftarnya:

Benteng Ulanta

Jika kebanyakan benteng di Indonesia sudah berusia ratusan tahun dan berasal dari peninggalan masa penjajahan sebagai bentuk pertahanan, berbeda dengan Benteng Ulanta. Sebab benteng ini baru dibangun pada tahun 2017 dan diresmikan dua tahun setelahnya.

Benteng Ulanta dibangun di Gunung Pombolu yang pada zaman dahulu merupakan tempat untuk memantau kedatangan tentara Belanda. Setelah itu, area tersebut tidak lagi digunakan sampai kurang terawat. Maka munculah gagasan untuk mendirikan destinasi wisata di sana untuk menghargai nilai-nilai perjuangan para pahlawan Gorontalo pada masa penjajahan.

Dari atas benteng, kita bisa melihat pemandangan dataran rendah Gorontalo, sungai-sungai, hingga daerah pemukiman. Pengunjung bisa menikmati waktu bersantai di benteng ini sambil berfoto-foto.

Menyaksikan Fenomena Alam Equinox di Tugu Khatulistiwa Santan Ulu

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone

Taman Nasional Bogani Nani Wartabone (TNBNW) lokasinya mencakup dua wilayah yaitu Kabupaten Bone Bolango Provinsi Gorontalo, dan Kabupaten Bolaang Mongondow, Provinsi Sulawesi Utara. Dengan luas lahan mencapai 282.008,757 hetare, ada begitu banyak potensi wisata yang bisa kita lihat di sana.

TNBNW merupakan rumah bagi 125 jenis burung, 24 jenis mamalia, 23 jenis amfibi dan reptil, serta 289 jenis pohon. Di sana juga hidup tiga spesies satwa endemik seperti anoa, babi rusa, dan burung maleo.

Tak hanya kekayaan flora dan fauna, di taman nasional ini juga terdapat beberapa wisata alam seperti Air terjun Mengkang, Air Terjun Lombongo, Puncak Kelapa Dua, Bukit peyapata, dan Sanctuary Maleo Tambun.

Sanctuary Maleo Tambun merupakan suaka burung maleo yang jadi salah satu daya tarik wisata alam di TNBNW dan memang menjadi salah satu habitat dari burung maleo. Di area tersebut, pengunjung bisa mengamati perilaku burung endemik ini saat bertelur, mencari telur maleo, memindahkan telur ke bak penetasan, hingga melepasliarkan anakan maleo.

Menikmati Keindahan Hamparan Padang Rumput Eksotis di Fulan Fehan

Berenang bersama hiu paus di Desa Botubarani

Pernah memimpikan untuk bisa berenang bersama hiu paus? Anda bisa merealisasikannya di Desa Botubarani. Melihat keberadaan hewan besar pemakan plankton ini di alam memang menjadi daya tarik tersendiri. Jika beruntung, Anda bahkan bisa bertemu langsung dengan jarak sekitar 50-100 meter saja dari bibir pantai.

Menurut penjelasan tim monitoring Hiu Paus Botubarani, Sukirman Tilahunga, sejak tahun 2016, pihaknya berhasil mengidentifikasi 44 sosok hiu paus yang datang ke perairan Botubarani.

Sedangkan menurut pantauan pemandu wisata, tren kemunculan hiu paus di Botubarani adalah bulan Mei dan Juni, meski jadwal ini tentu tidak pasti karena berbagai faktor. Untuk mencoba peruntungan bertemu hiu paus, Anda bisa menyewa perahu nelayan dan berangkat pagi hari sekitar pukul delapan waktu setempat. Biasanya untuk menarik perhatian hiu paus akan diberi makan udang.

Setelah hiu paus muncul, wisatawan dapat melihat sosoknya dari atas perahu, memotret, atau bahkan berenang bersamanya. Namun, ingatlah untuk tidak menyentuh dan mengganggu hiu paus.

Destinasi Wisata Musik Indonesia, dari Museum Hingga Konser di Alam

Jadi orang tua asuh maleo di Hungayono

Hungayono yang terletak di Desa Tulabolo, Kecamatan Suwawa Timur, ini memiliki keindahan alam berupa hutan primer yang sejuk, padang alang-alang, gua kapur, dan gua sauna. Di sana kita bisa melihat satwa endemik seperti tarsius dan maleo.

Di Hungayono terdapat Sanctuary Maleo sebagai salah satu suaka maleo di TNBNW. Tentunya di sana kita bisa melihat burung maleo secara langsung, juga dapat melakukan aktivitas lain seperti menyusuri hutan, bermain air di Sungai Bone, dan mengunjungi objek wisata alam di sekitarnya.

Untuk pengamatan maleo biasanya dimulai pukul 5-10 pagi ketika sedang bertelur. Wisatawan bisa mengamati maleo dari menara pengintai. Salah satu keunikan dari tempat ini adalah paket memiliki program Foster Parent atau orang tua asuh maleo. Program ini diselenggarakan oleh Balai TNBNW sejak tahun 2018 untuk mengajak masyarakat lebih peduli dan berperan serta dalam upaya pelestarian maleo.

Program orang tua asuh maleo ini akan melibatkan Anda dalam berbagai aktivitas. Mulai dari pengamatan kedatangan pasangan maleo, mencari dan menggali telur-telur maleo di dalam lubang peneluran, memindahkan telur ke hatchery atau bak penetasan alami untuk mengamankan telur dari predator, kemudian menamai telur sesuai nama orang tua asuh.

Untuk masa inkubasi telur maleo selama 60-80 hari. Petugas akan memberi kabar kepada orang tua asuh dalam bentuk foto atau video mengenai telur yang sudah menetas. Kemudian, orang tua asuh atau diwakili petugas bisa melepasliarkan anakan maleo ke hutan di TNBNW. Untuk menjadi orang tua asuh maleo, Anda hanya perlu membayar donasi untuk konservasi maleo.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini