Menikmati Keindahan Hamparan Padang Rumput Eksotis di Fulan Fehan

Menikmati Keindahan Hamparan Padang Rumput Eksotis di Fulan Fehan
info gambar utama

Sebagai salah satu destinasi wisata alam, Indonesia memiliki beberapa sabana atau padang rumput yang begitu memesona. Hamparan padang rumput nan luas yang dikelilingi perbukitan dan pepohonan serta menjadi rumah bagi para satwa menawarkan pemandangan berbeda dari objek wisata alam lain seperti pantai atau gunung.

Anda mungkin sudah akrab dengan nama sabana di Sumba, Baluran, atau Sembalun, tetapi apakah sudah pernah mendengar Fulan Fehan?

Fulan Fehan merupakan dataran tinggi berupa lembah yang berada di kaki Gunung Lakaan. Lokasinya terletak di Desa Dirun, Kecamatan Lamaknen, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur. Pada tahun 2020, Fulan Fehan berhasil menjadi pemenang Anugerah Pesona Indonesia kategori Destinasi Dataran Tinggi.

Letaknya sekitar 28 km dari Atambua, Kabupaten Belu. Akses menuju Fulan Fehan sendiri memang terbilang sulit karena jalanan berbatu, curam, dan di sisi jalan terdapat jurang. Perlu esktra hati-hati untuk menuju destinasi wisata eksotis yang satu ini.

Namun, tentunya semua perjuangan Anda menuju ke Fulan Fehan akan terbayar tuntas ketika melihat keindahannya secara langsung. Lantas, seperti apa pesona padang sabana satu ini?

Destinasi Wisata Musik Indonesia, dari Museum Hingga Konser di Alam

Potensi pariwisata di Fulan Fehan

Kaktus di Fulan Fehan | @Fadila Suryandika Shutterstock
info gambar

Sesampainya di Fulan Fehan, pemandangan sejauh mata memandang adalah padang rumput yang amat luas. Di sana juga seringkali terdapat penggembala kuda, sapi, kambing, dan kerbau. Kemudian, keunikan lain yang bisa Anda temukan di sana adalah keberadaan pohon-pohon kaktus yang tumbuh subur, padahal tanaman ini biasanya tumbuh di gurun pasir yang kering dan panas. Sedangkan di Fulan Fehan sendiri suhunya cukup dingin, sekitar 21 derajat Celsius.

Mengunjungi Fulan Fehan pada musim yang berbeda juga akan melihat pemandangan yang berbeda pula. Pasalnya, pada musim hujan, Fulan Fehan tampak begitu hijau dan segar, sedangkan memasuki musim kemarau, area padang rumput berubah warna menjadi kecokelatan.

Nama Fulan Fehan sebagai destinasi wisata alam semakin terkenal sejak diadakan Festival Fulan Fehan tahun 2017. Festival ini menampilkan tarian likurai dengan enam ribu penari. Tarian likurai biasa dipentaskan dalam acara adat atau penyambutan tamu di Kabupaten Belu. Tahun 2016 lalu, tarian ini ditelah ditetapkan Kemendikbud sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.

Bagi masyarakat Belu dan sekitarnya, tarian likurai melambangkan penyambutan para pahlawan perang, juga sebagai wujud pemuliaan dan penyebaran ungkapan nilai gotong royong, keramahtamahan, dan toleransi.

Menjelajahi Wisata Sejarah di Ternate dari Benteng ke Benteng

Situs bersejarah di Fulan Fehan

Fulan Fehan | @ANDI WILLIS Shutterstock
info gambar

Tak jauh dari kawasan lembah, pengunjung bisa menemukan objek wisata bersejarah yaitu Benteng Kikit Gewen yang berarti burung rajawali. Benteng ini terbuat dari bebatuan alami yang bentuknya serupa pagar. Di dalam benteng ini ditumbuhi pepohonan yang begitu rimbun sehingga areanya mirip seperti hutan mini.

Pada zaman dahulu, benteng ini merupakan tempat pahlawan yang disebut Meo. Biasanya mereka akan berkumpul untuk mengatur strategi atau melakukan tes kekebalan tubuh sebelum berjuang di medan perang. Kegiatan ini memang tergolong ekstrem sebab mereka akan memotong tubuhnya sendiri untuk membuktikan apakah tubuhnya dapat kembali utuh jika terluka.

Dari Benteng Kikit Gewen, Anda bisa beralih ke Benteng Ranu Hitu atau yang dikenal juga dengan nama Benteng Lapis 7. Ketika di pedalaman Timor masih terjadi perang antar suku, benteng ini digunakan sebagai tempat pertahanan.

Di bagian dalam benteng ini terdapat beberapa lapisan pertahanan dari pintu masuk sampai ke lapisan terakhir yang terdapat tempat pertemuan raja-raja. Pada bagian tengah ruang pertemuan, kita bisa melihat dua buah batu yang pada zaman dahulu digunakan untuk menaruh kepala musuh. Di sana juga terdapat batu persegi panjang yang merupakan makam dari Raja Dasi Manu Loeq selaku raja pertama Kerajaan Dirun.

Pada puncak benteng biasa menjadi tempat ritual warga kampung adat Dirun. Masyarakat Dirun menyebutnya saran mot, yaitu batu yang disusun melingkat dengan tinggi satu meter dan berdiameter 10 meter.

Selain dua benteng tersebut, masih ada beberapa objek wisata di sekitar Fulan Fehan, seperti Bukit Batu di Desa Maudemu, Air Terjun Sihata Mauhale, dan Air Terjun Lesu Til di Weluli. Tentunya Anda juga bisa mendaki Gunung Lakaan dengan ketinggian 1.562 mdpl. Sesampainya di puncak gunung, Anda bisa menemukan patung Bunda Maria dan patung Hati Kudus Jesus.

Menilik Potensi Wisata Rumah Radakng dan Desa Sungai Kupah di Kalimantan Barat

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini