Anggrek Tien Soeharto, Kenangan kepada Ibu Negara yang Mencintai Tanaman

Anggrek Tien Soeharto, Kenangan kepada Ibu Negara yang Mencintai Tanaman
info gambar utama

Kebun Raya Bogor, sejak 1997 memiliki lebih dari 100 jenis anggrek yang disemai di laboratorium Kultur Jaringan dan Pembibitan Anggrek. Dari koleksi-koleksi anggrek tersebut, Kebun Raya Bogor punya anggrek yang diberi nama dari tokoh nasional.

Anggrek hartinah atau tien soeharto (Cymbidium hartinahianum) merupakan anggrek endemik dari Sumatra Utara (Sumut). Nama latin ini diambil dari nama istri presiden Soeharto, Hartinah Soeharto yang juga akrab disapa Ibu Tien.

Tumbuhan ini memiliki tampilan yang nyaris mirip dengan alang-alang. Anggrek ini pertama kali ditemukan pada tahun 1976 di Desa Baniara, Sumut. Nama latin ini diberikan karena penemu pertama dari anggrek ini ingin memberikan penghargaan kepada Ibu Tien.

Tien Soeharto memang terkenal sebagai seorang pecinta tanaman. Ditengah kesibukannya, dirinya tetap menyempatkan waktu untuk merawat bunga, salah satunya adalah anggrek yang ditanam di halaman rumahnya.

Kegemarannya memelihara anggrek terus berlanjut, hingga dirinya mendorong agar bangsa Indonesia menghargai dan membanggakan bunga khas Indonesia ini. Baginya melestarikan kekayaan flora Nusantara, bisa memberikan dampak kepada petani yang menanam.

Sosok Tien Soeharto, Ibu Negara Penopang Kepemimpinan Soeharto

Entah kebetulan atau tidak, pada masa Orde Baru, Presiden Soeharto melalui keputusan Presiden Nomor 4/1993 menjadikan anggrek bulan (phalaenopsis amabilis) menjadi salah satu dari tiga bunga nasional Indonesia yang disebut puspa pesona.

Indonesia saat itu mengikuti negara-negara yang sudah terlebih dahulu mempunyai bunga nasionalnya masing-masing. Indonesia bisa berdiri gagah bersama Vietnam yang punya bunga nasional yaitu bunga lotus dan Malaysia dengan bunga sepatu.

Anggrek bulan lantas menjadi imajinasi Tien untuk menggagas kawasan pelestarian anggrek Nusantara. Akhirnya di atas lahan seluas 4,5 hektare, Taman Anggrek Indonesia Permai (TAIP) berdiri di kawasan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada tanggal 20 April 1993.

“Atas jasanya membangun TAIP tersebut, Ibu Tien Soeharto diabadikan namanya menjadi nama anggrek spesies dan endemik yang ditemukan di Tele, daerah atas Danau Toba, Sumatra Utara,” jelas Yoshi Fajar Murti dalam artikel berjudul Ibu Tien Soeharto, Anggrek Bulan, dan Imperium Kolonialis yang dimuat dari Sejarah Jakarta.

Tanaman yang langka

Penampilan anggrek tien soeharto sangat khas. Tumbuhan terestrial itu berdaun seperti pita, lebar daun 9-5 mm. Adapun panjang tangkai bunga 35-60 cm, petal dan sepal hampir sama lebarnya.

Bibir bunga berwarna putih dengan corak total merah, column (tugu). berwarna violet gelap dengan panjang 1,2 cm. Daun kelopak dan daun mahkotanya sama besar, permukaan atasnya berwarna kecokelatan dengan warna kuning pada bagian tepinya.

Anggrek tien soeharto merupakan salah satu anggrek tanah dengan pertumbuhan merumpun. Spesies anggrek ini menyukai tempat terbuka di antara rerumputan serta tanaman lain pada ketinggian 1.700 mdpl.

Sampai saat ini, budidaya anggrek tersebut belum pernah dilaporkan, sedangkan habitatnya mulai berubah menjadi lahan perkebunan kentang. Jenis ini menghadapi ancaman yang cukup besar karena habitatnya yang terbatas dan eksploitasi yang berlebihan.

Hal yang memprihatinkan adalah anggrek ini semakin sulit diselamatkan karena populasinya yang makin sedikit. Ketersediaan biji sebagai bahan perbanyakan pun sangat minim.

Berdasarkan World Conservation Monitoring Centre status konservasi anggrek ini adalah endangered dan kategori A untuk spesies prioritas konservasi tumbuhan Indonesia.

Karena itulah anggrek tien soeharto ini telah ditangkarkan di luar habitat aslinya. Salah satunya adalah di Kebun Raya Bogor, bersama puluhan anggrek lainnya seperti anggrek hitam, anggrek bulan bintang dan lain-lain.

Sejarah Hari Ini (29 September 1983) - Digagas Tien Suharto, Museum Prangko Indonesia Diresmikan di TMII

Bibit dalam botol yang ada di laboratorium Kultur Jaringan Kebun Raya-LIPI sampai saat ini masih berkisar antara 1.000 botol, dengan fase tumbuh mulai dari yang masih kecambah hingga sudah membentuk tanaman lengkap.

“Menyelamatkan anggrek tien soeharto melalui konservasi ex situ dengan memindahkan tanaman itu ke tempat lain merupakan hal yang masih sulit dilakukan,” tulis Elizabeth Handini Peneliti di Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Bogor-LIPI dalam artikel berjudul Selamatkan Anggrek Tien Soeharto yang disadur dari Teh Hijau.

Anggrek tien soeharto juga termasuk tanaman yang dilindungi berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 tahun 1999. Sehingga tumbuhan berfamili Orchidaceae ini tidak diperbolehkan diperjualbelikan kecuali sudah generasi ketiga.

Taman Wisata Alam (TWA) Sibolangit, Provinsi Sumut pernah menerima sumbangan anggrek tien soeharto. Namun, menurut Elizabeth, tumbuhan itu tidak dapat hidup lama karena ketidakcocokan agroklimat.

Ketinggian TWA Sibolangit 550 mdpl, kondisi lingkungan lembab, sangat teduh, serta cuaca hujan sangat tinggi. Sementara itu habitat asli anggrek tien soeharto tersebut harus berada di dataran tinggi dan kering.

Upaya konservasi

Pada tahun 2004, tim eksplorasi dari Pusat Konservasi Tumbuhan Kebun Raya-LIPI Bogor yang dipimpin oleh Rismita Sari menemukan tanaman anggrek itu beserta buahnya di habitat aslinya.

Elizabeth menyebut tim ini kemudian menanam anggrek itu di Kebun Raya Cibodas, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat (Jabar). Hasilnya anggrek tien soeharto juga tidak dapat hidup lama. Kebun Raya Cibodas memiliki ketinggian 1.300-1.425 mdpl.

Kemudian tim kembali menyemai benih di Laboratorium Kultur Jaringan Kebun Raya Bogor. Upaya perbanyakan anggrek tien soeharto di Kebun Raya-LIPI antara lain dengan perbanyakan anggrek dari biji secara in vitro atau pengadaptasian di suhu ruangan yang lebih panas.

Selain itu juga dilakukan aklimatisasi bibit di greenhouse. Pra aklimatisasi menurut Elizabeth adalah proses pengkondisian planlet untuk meningkatkan keberhasilan aklimatisasi.

Penyiraman dilakukan dengan air hingga media basah (lembab). Media tidak boleh terlalu lembab karena dinding sel tanaman tidak keras (tipis dan lembut) dan dapat cepat busuk dan mati.

Dipaparkan Elizabeth, kini tim peneliti sudah memperoleh 700 bibit teraklimatisasi berumur 1-9 bulan. Tim berupaya untuk meningkatkan jumlahnya hingga 1.000 bibit pada akhir 2017. Kegiatan aklimatisasi berlangsung hingga semua bibit dapat bertahan hidup.

Surabaya Akan Punya Kebun Baru : Kebun Anggrek

Sedangkan upaya lain dilakukan oleh kelompok mahasiswa yang tergabung dalam PKM-P yang terdiri dari Febry Indriani Syafitri, Desi Sakinah Tinendung, Ibnu Arief yang melakukan pemetaan untuk menentukan wilayah konservasi anggrek tien soeharto.

Informasi ini dapat digunakan untuk menyusun upaya konservasi yang efektif dan efisien sehingga dapat menjaga anggrek tien soeharto di Sumut sehingga terhindar dari kepunahan.

Menurut mereka sejauh ini telah ditemukan 45 titik sampel keberadaan anggrek tien soeharto yang diperoleh dari wilayah Gunung Sibuatan, Kabupaten Karo, Sumut dengan ketinggian 1800-2400 mdpl.

Tim ini pertama kali menemukannya pada April 2017. Sedangkan Febry dan teman-teman juga melakukan eksplorasi ke wilayah di mana anggrek ini pertama kali ditemukan yaitu Dusun Baneara, tetapi tidak didapati satu pun tanaman anggrek tien soeharto.

“Dengan diadakannya eksplorasi ini kami berharap dapat menjadikannya wilayah konservasi dan lokasi penelitian. Karena wilayah tersebut masih banyak terdapat flora endemik lainnya yang bisa diteliti. Dan dengan penelitian ini juga menjadi informasi serta petunjuk jalan menuju lokasi anggrek tien soeharto yang ada di Gunung Sibuatan,” kata Febry.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini