Kenaikan BBM Picu Ragam Reaksi, Adakah Dampak Positif dari Segi Ekonomi?

Kenaikan BBM Picu Ragam Reaksi, Adakah Dampak Positif dari Segi Ekonomi?
info gambar utama

Belum cukup dengan kenaikan tarif Pajak Pertambahan Nilai atau PPN menjadi 11 persen per 1 April 2022, di waktu yang sama masyarakat Indonesia semakin merasa dibuat ‘nelangsa’ dengan naiknya harga salah satu komoditas utama yang sangat penting, yakni BBM dengan jenis Pertamax.

Lebih detail, harga awal dari Pertamax sebelum mengalami kenaikan berada di kisaran Rp9.000 per liter untuk wilayah Jabodetabek dan sekitarnya, atau paling mahal Rp10.000 untuk harga di wilayah dengan akses terbatas.

Namun kini, harga tersebut berubah menjadi sekitar Rp12.500 sampai dengan Rp13.000 per liternya. Keputusan pemerintah dalam menetapkan peraturan ini tentu mengundang ragam reaksi dan pertanyaan dari masyakarat.

Banyak yang bertanya mengapa keputusan yang dianggap memberatkan ini harus diberlakukan saat kondisi perekonomian masih dalam masa pemulihan, terlebih lagi bertepatan dengan momen awal datangnya bulan Ramadan.

Serba-Serbi Kenaikan PPN 11 Persen, Adanya Pengecualian dan Momen yang Kurang Berkenan

Dilatarbelakangi naiknya harga minyak dunia

Ilustrasi penyimpanan minyak dunia
info gambar

Kenaikan harga BBM sebenarnya sudah ramai dibicarakan sejak beberapa waktu yang lalu. Bahkan, sebelumnya perubahan yang ramai diberitakan berada di kisaran harga Rp16 ribu. Anggapan tersebut rupanya muncul setelah Arya Sinulingga selaku Staf Khusus Menteri BUMN menyebut, jika harga tersebut merupakan prediksi penyesuaian dengan harga keekonomian atau harga pasar.

Sementara itu dalam kesempatan berbeda, tepatnya pada hari Kamis (31/3) di gelaran Indonesia International Motor Show (IIMS), Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sempat menyinggung, jika kenaikan harga minyak mentah dunia jadi salah satu pemicu kenaikan BBM.

Dalam penuturannya, disebutkan jika anggaran ICP (Indonesia Crude Price) membengkak dari anggaran seharusnya yang ada dalam APBN.

Menurut keterangan Pertamina yang dikutip dari Detikcom, harga minyak dunia melambung tinggi hingga mencapai di atas 100 dolar AS per barel. Hal tersebut yang mendorong harga minyak mentah Indonesia atau ICP per 24 Maret 2022 tercatat berada di angka 114,55 dolar AS per barel.

Angka tersebut melonjak lebih dari 56 persen dari periode Desember 2021, yang berada di kisaran 73,36 dolar AS per barel. Padahal anggaran harga ICP berdasarkan asumsi APBN 2022 hanya mencapai 63 dolar AS per barel.

Naik sebesar Rp3.000 per liternya, berikut daftar harga terbaru BBM pertamax di sejumlah wilayah tanah air, dikutip dari keterangan resmi Pertamina:

  • Jabodetabek, Aceh, Banten, Pulau Jawa, Bali, NTB, NTT : Rp12.500
  • Sebagian Sumatra, Pulau Kalimantan, Gorontalo, Sulawesi, Maluku, dan Papua: Rp12.750
  • Riau, Batam, dan Bengkulu: Rp13.000
Pertamina Masuk Daftar 50 Merek Minyak dan Gas Paling Berharga 2021 Versi Brand Finance

Dampak positif kenaikan BBM

Sementara itu jika menilik riwayatnya, kenaikan harga berbagai macam komoditas termasuk BBM sendiri telah menjadi hal yang tak dapat dihindari. Dari tahun ke tahun, bukan baru pertama kali ini BBM mengalami kenaikan harga.

Di samping itu, meski banyak disorot mengenai dampak negatif yang dapat menimbulkan kenaikan harga sejumlah komoditas karena meningkatnya biaya kirim atau distribusi barang, sejatinya ada dampak positif yang dapat diperoleh dari segi perekonomian dari kejadian ini.

Hal tersebut sejalan dengan yang pernah disampaikan oleh Rofyanto Kurniawan, selaku Kepala Pusat Kebijakan APBN Badan Fiskal Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pada saat harga BBM juga pernah mengealami kenaikan di tahun 2013 silam.

“Memang ada dampak negatif kenaikan harga BBM, namun untuk secara keseluruhan dan jangka panjang, kenaikan harga BBM ini memberikan dampak positif kepada kondisi perekonomian” ujar Rofyanto, mengutip Antara.

Dalam cakupan yang lebih luas, kenaikan harga BBM juga akan menurunkan defisit anggaran, karena menurunnya pengeluaran negara yang selama ini dikeluarkan untuk kebutuhan subsidi BBM untuk masyarakat.

Biasanya, seperti yang terjadi dari waktu ke waktu setiap kenaikan harga BBM, anggaran subsidi yang tadinya diperuntukkan bagi BBM, bisa dialihkan untuk membiayai sektor lain yang lebih produktif seperti pertanian, infrastruktur, perikanan, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, bersamaan dengan upaya pemerintah dalam mendorong program energi bersih, kejadian ini sebenarnya bisa dijadikan kesempatan dalam memotivasi masyarakat untuk mulai melirik potensi dan pengembangan akan energi alternatif, layaknya biofuel atau bahan bakar nabati.

Tim ITB Berhasil Kembangkan Bensin dari Minyak Sawit dan Sukses Uji Coba

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini