Ketika Kertas Karbon Masuk ke Ruang Kreasi Seni

Ketika Kertas Karbon Masuk ke Ruang Kreasi Seni
info gambar utama

Museum of Modern and Contemporary Art in Nusantara (Museum Macan) menghadirkan instansi seni bertajuk “Kembara Biru” (Traveling Blues) karya seniman grafis Theresia Agustina Sitompul untuk seri Komisi Ruang Seni Anak UOB Museum MACAN.

Direktur Museum MACAN, Aaron Seeto menilai kehadiran instalasi Kembara Biru menjadi momen yang spesial saat ini mengingat anak-anak lebih banyak berinteraksi dan belajar secara virtual selama dua tahun terakhir.

Aktivitas fisik yang seharusnya didorong semasa tumbuh kembang anak berpengaruh pada perkembangan kognitif maupun motorik. Karena itu, instalasi ini menjadi upaya untuk menghubungkan kembali kreativitas dan imajinasi anak-anak dengan hadir secara fisik.

“Dua tahun terakhir, pendidikan berlangsung secara daring terus menerus. Dan kita butuh memikirkan kembali hal tersebut, mewujudkan imajinasi dengan tangan kita sendiri,” katanya.

Ruang instalasi Kembara Biru menampilkan kombinasi warna biru dan putih yang identik dengan warna langit. Di dalam ruangan terdapat susunan lengan-lengan kemeja putih yang menyerupai bentuk awan pada bagian langit-langit.

Pameran "Sekarang Seterusnya" di Museum MACAN Tampilkan Pemaknaan Kondisi Pandemi

Di dalamnya ada media kain yang berbentuk kemeja tangan. Hal ini melambangkan kreativitas, sehingga walau hanya memiliki dua tangan, anak-anak bisa mengeksplorasi dengan kerativitas yang di miliki.

Selain itu, ruang instalasi menampilkan grafis berbentuk awan yang dibuat Theresia dengan menggunakan metode cetak karbon. Formasi awan ini memiliki kantung transparan yang memungkinkan pengunjung melampirkan karya seni yang mereka buat.

Ruang Kembara Biru juga tak hanya bertujuan untuk menghadirkan karya instalasi fisik seniman, tetapi juga menyediakan ruang bagi pengunjung untuk berinteraksi secara langsung, belajar dan berkreasi dengan memanfaatkan kertas karbon.

Tidak hanya itu, Kembara Biru juga dirancang untuk menghubungkan siswa dan sekolah di seluruh Indonesia melalui serangkaian lokakarya daring dan luring yang akan diikuti oleh sejumlah sekolah dari berbagai wilayah di Indonesia.

Hal ini untuk mendorong lebih banyak anak dan keluarga berpartisipasi dalam kegiatan kreatif dan pembuatan pameran di rumah. Tutorial dan lokakarya juga akan tersedia untuk masyarakat umum di kanal media sosial.

Instalasi Kembara Biru akan dibuka mulai 9 April hingga 30 Oktober 2022. Bersama dengan pembukaan pameran ini, anak-anak juga bisa melihat instalasi yang lain yaitu Ruang Seni Anak Komisi UOB Museum MACAN Tromarama: The Lost Jungle.

Terinspirasi dari masa pandemi

Pameran Kembara Biru merupakan hasil kontemplasi dari Theresia saat berada di rumah selama masa pandemi. Sebagai seorang ibu, pendidik, dan perupa, dirinya merefleksikan pengalamannya saat memperhatikan aktivitas anak-anak yang terus menatap layar digital selama sekolah daring.

Melalui Kembara Biru, perupa yang berbasis di Yogyakarta itu ingin mengundang anak-anak dan orang tua untuk berhenti sejenak atau beristirahat dari layar digital. Theresia mengatakan dirinya juga ingin mendorong agar kreativitas dan daya motorik anak-anak bertambah dan bekerja.

Kembara Biru itu seperti melambangkan kreativitas anak-anak. Seperti saat kita melihat langit biru, bahwa langit itu kan tanpa batas, jadi kreativitas atau imajinasi anak-anak sebetulnya tanpa batas,” ujarnya dalam konferensi pers.

Kembara Biru, kata Theresia, memanfaatkan kertas karbon sebagai bahan artistik utama dengan benda-benda kecil sehari-hari seperti kancing dan perban. Baginya, hal ini juga menjadi momen mengingat kembali fungsi kertas karbon pada masa silam.

Theresia menyebutkan sudah sejak 2011 menggunakan kertas karbon sebagai bahan berkarya. Hal ini dirinya lakukan agar bisa berkarya sembari juga menjaga anak yang ketika itu masih kecil.

“Saya berfikir apa yang bisa menggantikan tinta cetak yang bau dan tidak aman dengan anak? Karena kalau saya bawa anak ke studio tidak aman untuk anak. Akhirnya saya pikir untuk menggunakan kertas karbon,” ucapnya.

Sedangkan untuk prosesnya, Theresia sudah membicarakannya dengan Museum MACAN sejak tahun kemarin. Sedangkan proses pembuatannya hanya membutuhkan waktu yang singkat yakni satu setengah bulan.

Museum Macan Tampilkan The Lost Jungle untuk Ruang Seni Anak Kenali Alam

Chairwoman Museum MACAN, Fenessa Adikoesoemo mengatakan Kembara Biru merupakan proyek seni yang bermakna, karena dikembangkan untuk anak-anak, keluarga, dan sekolah.

Hal ini katanya sejalan dengan visi misi Museum MACAN dalam hal pendidikan seni bagi anak-anak. Karya Kembara Biru sendiri, katanya, merupakan sebuah cerminan dari pengalaman sebagian besar waktu di rumah selama pandemi.

Karena itulah, dirinya mengundang masyarakat untuk terhubung kembali satu sama lain, mengalami momen kebersamaan dengan menciptakan benda-benda dengan menggunakan tangan sendiri.

“Kami juga sangat senang dapat menyambut kembali anak-anak dan keluarga mereka untuk menikmati proyek baru ini, di dalam museum dan juga melalui lokakarya yang telah disiapkan tim pendidikan kami dengan sekolah-sekolah di seluruh Indonesia,” ucapnya.

Melibatkan sekolah

Pameran Kembara Biru juga dirancang untuk menghubungkan siswa dan sekolah di seluruh Indonesia. 12 sekolah dari 10 provinsi akan menerima materi dari sejumlah alat-alat yang memungkinkan mereka mengikuti serangkaian acara secara daring.

Muhammad Mahrus, guru dari sekolah SDN 05 Petamburan menyatakan selama ini Museum MACAN telah membuktikan kepeduliannya terhadap pendidikan anak-anak. Hal ini terlihat dalam setiap program yang mereka jalankan.

Di museum MACAN, jelas Mahrus, kegiatannya selalu dikaitkan dengan pengajaran di sekolah, seperti pembelajaran untuk kelas 1 hingga 6 sekolah dasar (SD). Baginya ini menjadi sebuah jembatan yang baik antara dunia pembelajaran dengan permuseuman.

Tri Yuli, guru dari SLB Talenta juga menambahkan bahwa program museum MACAN selalu kontekstual dengan situasi dan kondisi. Karyanya yang kontemporer juga memperluas pemahaman siswa bahwa karya seni tidak terbatas.

“Saya bangga dengan program yang dibuat. Bagi guru dan siswa itu tentu sangat bermanfaat. Selain keterampilan, juga bisa mengeksplorasi konsep pemikiran.” jelasnya.

Sementara itu Dwi Jatmiko, guru dari Erudio Indonesia menegaskan bahwa program edukasi seni di Indonesia harus semakin inklusif. Anak-anak tidak hanya akan mengenal karya seni luki, atau membuat patung, namun beragam media lainnya.

Museum Macan: Salah Satu Tempat Terbaik Versi Time Magazine

Hal ini, katanya, akan memberikan eksplorasi bagi anak-anak dan menjadi sangat menyenangkan untuk dilakukan. Selain itu, pendidikan seni, jelasnya akan membuat anak memiliki sudut pandang beragam dalam menyikapi suatu permasalahan.

Museum MACAN sendiri memang bekerja sama dengan sekolah-sekolah dari seluruh Indonesia. Nantinya Kembara Biru akan membantu anak-anak untuk membuat pameran kecil di dalam kelas dan rumah mereka.

Selama pandemi, Museum MACAN memang masih melakukan pembatasan kunjungan. Walau kini sudah memasuki level endemi, tetapi pengunjung masih harus menerapkan protokol kesehatan.

Sebagai contoh, untuk Kembara Biru, peserta yang bisa memasuki ruangan hanya 10 orang. Nantinya di dalam ruangan anak-anak ini akan diawasi oleh orang tua dan akan diberikan sanitizer selama kegiatan berlangsung.

“Di museum macan kita masih menerapkan protokol yang ditetapkan oleh pemerintah jadi kita menggunakan aplikasi Peduli Lindungi, kalau anak-anak 6 tahun harus didampingi oleh orang tua yang sudah kategori hijau. Jadi kita mengikuti aturan dari pemerintah,” tegas Nin Djani, Kurator Edukasi dan Program Publik, Museum MACAN.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini