Dampak yang Mengintai di Balik Kebiasaan Mencampur Pertamax dan Pertalite

Dampak yang Mengintai di Balik Kebiasaan Mencampur Pertamax dan Pertalite
info gambar utama

Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) berjenis Pertamax memang memberikan dampak besar bagi banyak orang. Akibat kebijakan tersebut, berbagai kalangan yang biasa melakukan mobilitas dengan kendaraan berbahan bakar pertamax, memutar otak agar pengeluaran untuk kebutuhan transportasi tetap aman dan tidak memengaruhi kondisi keuangan.

Ada sebagian orang yang akhirnya memutuskan untuk mulai beralih ke transportasi publik, sebagian tetap bertahan menggunakan pertamax dengan menanggung biaya tambahan untuk transportasi.

Bersamaan dengan berbagai solusi alternatif lainnya, ada satu siasat yang dipilih sebagian kalangan dalam menyikapi kenaikan harga BBM, yaitu dengan mencampur dua jenis bahan bakar.

Bukan hal baru sebenarnya, kebiasaan mencampur bahan bakar berjenis pertamax dan pertalite sebelumnya sudah banyak dilakukan pemilik kendaraan. Namun semenjak kenaikan pertamax terjadi, cara tersebut kembali banyak dilirik sebagai solusi untuk tetap mendapatkan kualitas bahan bakar yang prima, meski mencampurnya dengan kelas bahan bakar yang lebih rendah.

Tapi, amankah sebenarnya mencampur bahan bakar dengan kualitas dan tingkat oktan yang berbeda?

Kenaikan BBM Picu Ragam Reaksi, Adakah Dampak Positif dari Segi Ekonomi?

Perbedaan kualitas dan kandungan

Sebelum membahas mengenai dampak yang bisa dialami kendaraan jika mencampur BBM berupa pertamax dan pertallite sekaligus, sangat penting untuk memahami sebagain kecil perbedaan penting dari karakteristik dan kualitas kedua bahan bakar yang dimaksud, terutama bagi orang awam yang juga sedang dilanda kebingungan karena kenaikan harga BBM yang terjadi.

Dilihat dari segi tampilan, perbedaan nampak dari warna di mana pertalite berwarna kehijauan, sedangkan pertamax memiliki warna biru.

Hal lain yang juga paling banyak diketahui perbedaannya adalah dari segi nilai oktan atau Research Octane Number (RON). Sekadar informasi, bilangan oktan adalah angka yang menunjukkan seberapa besar tekanan yang bisa diberikan sebelum bensin terbakar secara spontan.

Angka oktan lebih tinggi dapat membuat proses pembakaran lebih baik dan tidak meninggalkan residu pada ruang bakar mesin. Semakin tinggi nilai oktan maka akan lebih lama BBM terbakar, hal tersebut akan menentukan seberapa banyak pemakaian bahan bakar pada mesin.

Dalam hal ini, pertamax memiliki nilai oktan lebih tinggi yakni 92 dibanding pertalite di angka 90. Perbedaan lain dari segi kandungan lebih unggul juga dimiliki Pertamax, yang di dalamnya terdapat teknologi PERTATEC (Pertamina Technology).

Mengutip CNN Indonesia, selain dapat menghasilkan pembakaran yang sempurna, teknologi tersebut mengandung formula zat aditif yang memiliki kemampuan untuk membersihkan endapan kotoran pada mesin sehingga mesin jadi lebih awet, menjaga mesin dari karat, serta membuat pemakaian bahan bakar menjadi lebih efisien.

Keunggulan yang paling dikenal, kandungan zat aditif yang sama juga diklaim dapat membersihkan endapan kotoran pada bagian mesin dengan lebih baik, dan juga membersihkan endapan kotoran pada bagian injektor.

Proporsi Jumlah Konsumsi Bahan Bakar Kendaraan di Indonesia

Dampak mencampur BBM bagi mesin

Ilustrasi pertamax dan pertalite
info gambar

Sebelumnya, kebiasaan mencampurkan pertamax dan pertalite kerap dilakukan banyak orang dengan berbagai anggapan. Salah satunya adalah keyakinan akan tujuan untuk ‘membersihkan mesin’ dari penggunaan bahan bakar pertalite yang biasa dikonsumsi kendaraan sehari-hari.

Anggapan lainnya, ada juga yang berpendapat jika mencampurkan pertamax dan pertalite akan membuat bahan bakar tercampur memiliki kandungan oktan/RON lebih tinggi, dan bisa mendorong performa mesin.

Benarkah demikian?

Sayangnya, hingga saat ini tidak ada pembuktian ilmiah yang mendukung anggapan tersebut baik dari pihak perusahaan BBM seperti misalnya Pertamina, para ahli otomotif, bahkan hingga peneliti yang melakukan uji coba pencampuran dan pengamatan secara langsung.

Alih-alih mendapat keunggulan dan performa bahan bakar yang diklaim lebih baik, dampak yang didapat justru berupa penurunan performa atau kinerja mesin kendaraan.

Mengutip penjelasan Pertamina Fuels, kebiasaan mencampur bahan bakar pertamax dan pertalite lama kelamaan akan menimbulkan kerak di beberapa bagian mesin seperti piston, sekeliling payung klep, dan juga kepala silinder. Ketika kerak menumpuk, hal tersebut bisa menimbulkan masalah yang dalam dunia otomotif dikenal dengan istilah knocking atau ngelitik.

Kemudian alih-alih menimbulkan RON atau oktan yang lebih tinggi, pencampuran pertamax dan pertalite justru akan membuat kemampuan unggul dan kandungan optimal pertamax hilang dan tidak berfungsi, salah satunya kemampuan untuk membersihkan mesin.

Tantangan Dekarbonisasi dan Pilihan Bahan Bakar Alternatif yang Ideal

Mempercepat kerusakan mesin

Sementara itu menurut penelitian yang dilakukan oleh David Kurniawan Putra dan Gunawan Sakti dari Universitas Penerbangan Surabaya, pencampuran yang tidak memperhitungkan persentase campuran dan tipe mesin juga dapat mempercepat kerusakan mesin.

Dalam penelitian yang dimaksud, keduanya diketahui mencampurkan kedua RON bensin dengan lima perbandingan yang berbeda, yakni:

  • 10 persen pertalite : 90 persen pertamax,
  • 20 persen pertalite : 80 persen pertamax ,
  • 30 persen pertalite : 70 persen pertamax,
  • 40 persen pertalite : 60 persen pertamax, dan
  • 50 persen pertalite : 50 persen pertamax.

Dari semua percobaan tersebut, diperoleh kesimpulan jika pencampuran yang dilakukan sama sekali tidak merubah kemampuan mesin pada tenaga maksimal, torsi, dan emisi gas buang.

Di saat bersamaan, beberapa ahli mengungkap jika kebibasaan mencampurkan bahan bakar berbeda akan menimbulkan kebingungan proses pembakaran, akan oktan yang sebenarnya diperoleh untuk memberikan tenaga bagi mesin.

Hal tersebut sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Wakil Ketua Umum Ikatan Motor Indoensia (IMI) di bidang mobilitas, yakni Rifat Sungkar. Menurutnya, anggapan yang menyebut mencampur pertamax dan pertalite dapat menghasilkan nilai RON lebih tinggi sepenuhnya keliru.

"Sebenarnya bukan oktannya saja yang berbeda, tapi struktur molekul bahan bakar, jumlah asupan oksigen yang diperlukan, dan aditifnya berbeda. Ini tentu tidak baik. Karena akan memaksa ECU (engine control unit) berpikir panjang menentukan jenis bahan bakar dan tentu saja akan berpengaruh ke pengapian," jelas Rifat Sungkar, mengutip Sindonews.com.

Mencermati Peta Jalan Bahan Bakar Nabati di Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini