Boyong 2 Pesawat Airbus, Pelita Air Siap Ramaikan Maskapai Penerbangan Reguler RI

Boyong 2 Pesawat Airbus, Pelita Air Siap Ramaikan Maskapai Penerbangan Reguler RI
info gambar utama

Industri maskapai penerbangan komersial di Indonesia akan kembali kedatangan pemain baru. Setelah kehadiran Super Air Jet pada tahun 2021 lalu, kini calon pemain yang siap mengambil langkah serupa adalah Pelita Air.

Kabar mengenai langkah bisnis ini sebenarnya sudah terdengar sejak tahun lalu, hingga akhirnya tepat pada hari Senin (11/4/2022), Bandara Internasional Soekarno-Hatta menjadi saksi mendaratnya dua armada pertama, yang akan digunakan Pelita Air untuk membuka layanan penerbangan berjadwal, yakni Airbus A320.

Mengutip keterangan resmi yang dipublikasi oleh induk perusahaan Pelita Air yakni Pertamina, disebutkan jika dua pesawat Airbus yang dimaksud terbang dari Bandara Montpellier, Prancis (MPL) dan Bandara Internasional Sharjah - Uni Emirat Arab (SHJ).

Pada pesawat tersebut pula, sudah disertakan livery atau corak aserta logo khas yang akan digunakan Pelita untuk seluruh pesawatnya kelak. Diberi nama “Ribbon” Livery, corak tersebut menyerupai pita yang menyelimuti ekor dan sebagian badan pesawat dengan tiga warna yaitu merah, biru dan hijau.

Ketiga warna tersebut dimaknai sebagai keberagaman dan kebebasan berekspresi. Sementara di lain sisi warna tersebut juga merupakan warna identitas Pertamina, sebagai perusahaan induk Pelita Air.

Mengenal Super Air Jet, Maskapai Terbaru Indonesia yang Meluncur Saat Pandemi

Target beroperasi pertengahan tahun

Menurut Pelaksana Tugas Harian (PTH) Direktur Utama PT Pelita Air Service (PAS), Muhammad S. Fauzani, kedatangan pesawat Airbus A320 Pelita Air merupakan momen bersejarah sekaligus milestone baru bagi perusahaan.

“Saat ini Pelita Air masih dalam proses sertifikasi pesawat Airbus 320 yang terus berjalan dalam rangka membuka penerbangan berjadwal dan kami harapkan dapat beroperasi dalam waktu dekat," ujar Fauzani.

Sementara itu dalam kesempatan berbeda, Sekretaris Perusahaan PAS Umar Ibnu Hasan mengungkap jika perusahaan menargetkan maskapainya dapat mulai membuka layanan penerbangan berjadwal mulai pertengahan tahun atau pada kisaran akhir semester I 2022.

“Untuk operasi, kami targetkan pada pertengahan tahun ini, kemungkinannya Juni atau Juli. Kami memang akan masuk ke layanan medium. Menurut kami layanan medium akan lebih mudah diterima oleh pasar. Pasalnya kami berada di tengah-tengah untuk bisa menggaet segmen pasar di antara LCC dan Full Service,” papar Hasan, menukil Bisnis.com.

Mengenai keputusan Pelita Air yang lebih memilih masuk ke segmen medium ketimbang segmen Low Cost Carrier/LCC atau Full Services, rupanya hal tersebut mendapat respons dan tanggapan positif dari sejumlah pengamat. Salah satunya Bima Yudhistira, selaku Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS).

Menurut Bima, PAS memiliki kesempatan untuk membuka rute-rute baru yang selama ini belum dilayani oleh maskapai penerbangan di segmen LCC dan Full service. Menurutnya, Pelita Air bisa mulai masuk ke rute-rute di wilayah Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.

“Memang jangan masuk ke LCC persaingannya sudah berdarah-darah dan ketat. Lebih baik memang masuk ke medium dengan segmentasi tadi. Juga jangan masuk full service karena segmen ini untuk kembali beroperasi normal butuh waktu lama,” papar Bima.

Maskapai Berbiaya Murah Indonesia ini Buka Rute Internasional Ke-7 dan 8

Babak baru ‘anak’ Pertamina

Seperti yang telah disebutkan, sebagai anak perusahaan PT Pertamina, sebenarnya Pelita Air sendiri bukan entitas bisnis baru di industri penerbangan. Hanya saja, selama ini perusahaan tersebut lebih fokus pada layanan penerbangan charter.

Sedikit informasi kilas balik mengenai riwayatnya, Pelita Air Service sendiri awalnya berasal dari divisi pelayanan transportasi udara Pertamina Air Service milik Pertamina, yang didirikan pada tahun 1963. Kala itu, layanan ini diperuntukkan bagi mobilitas pegawai dalam menjalani kegiatan eksplorasi ladang minyak dan gas alam.

Baru di tahun 1970, divisi transportasi tersebut kemudian resmi dipisah dari Pertamina dan berdiri sendiri dengan nama PT Pelita Air Service. Sehingga tidak hanya melayani Pertamina, di tahun-tahun berikutnya perusahaan penerbangan ini melayani permintaan transportasi udara untuk industri minyak dan gas di Indonesia dengan sistem sewa.

Sebenarnya, pada tahun 2000 Pelita Air sempat mencoba masuk ke industri maskapai penerbangan komersial/berjadwal dengan nama Pelita AirVenture. Namun karena ketatnya persaingan, akhirnya operasional tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat yakni sekitar 2 tahun.

Di tahun-tahun berikutnya hingga saat ini, Pelita Air telah memperluas layanan untuk penerbangan VVIP, angkutan penumpang untuk kebutuhan tertentu, kargo, jet eksekutif, transportasi lepas pantai, muatan eksternal, evakuasi medis, operasi seismik, survei geologi, hingga pemadam kebakaran hutan.

Dan sampai di titik ini dengan adanya potensi yang terlihat, Pelita Air akhirnya kembali mencoba untuk masuk ke maskapai penerbangan komersial berjadwal. Menurut pihak Pertamina selaku induk perusahaan, babak baru ini diharapkan dapat memberi kontribusi besar dan warna baru dalam ekosistem penerbangan Indonesia.

Mengenal Sepak Terjang 5 Maskapai Terbaik Indonesia, dan Beragam Jenis Layanannya

Armada Pelita Air

Pelita Air
info gambar

Sementara itu jika bicara mengenai armada, tentu Pelita Air tidak hanya mengandalkan dua unit pesawat yang baru datang pada hari Senin Kemarin. Sebelumnya pihak Kementerian BUMN memang mengonfirmasi jika Pelita Air telah memesan sejumlah pesawat Airbus A320 untuk memulai penerbangan berjadwalnya dalam waktu dekat.

Namun, hingga saat ini belum ada informasi pasti mengenai berapa banyak jumlah pesawat yang sudah dipesan dan bagaimana rencana pengoperasiannya. Sementara itu mengutip sumber lainnya, selain dua armada yang sudah mendarat di Indonesia, Pelita Air disebut masih menunggu 23 unit Airbus A320 lain yang masih dalam pemesanan dan akan dikirim secara bertahap hingga tahun 2023.

Selain itu, dikabarkan juga ada sekitar 30 unit Airbus A220 yang sedang dalam kajian untuk pemesanan, dan 6 unit Airbus A330 yang juga sedang dalam kajian pemesanan untuk penerbangan umrah dan haji.

Generasi Terbaru Airbus di Pelukan Maskapai Indonesia

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini