Stasiun Ambarawa, Denyut Nadi Kota Militer yang Lama Terlelap

Stasiun Ambarawa, Denyut Nadi Kota Militer yang Lama Terlelap
info gambar utama

Ambarawa yang terletak di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah terkenal sebagai penghasil kopi yang terkenal. Adanya nama jalan koffiestraat menjadi salah satu bukti bahwa Ambarawa pernah menjadi pusat penanaman kopi.

Kota Ambarawa yang berupa lembah dan menyerupai cekungan yang dikelilingi pegunungan sehingga hawanya sejuk namun tidak terlalu dingin sehingga sangat cocok sebagai daerah perkebunan.

Maka tidak heran Ambarawa berhasil menjadi daerah penghasil kopi yang utama di Jateng. Hal ini pula yang mendorong lahirnya perkebunan baru di sekitarnya. Pada perkembangan selanjutnya terdapat 80 perkebunan baru di sekitar Salatiga dan Ambarawa.

“Selain kopi, Ambarawa merupakan pemasok hasil perkebunan berupa karet, kina, coklat, kapuk, pala, dan lada,” tulis Gendro Keling dari Balai Arkeolog Denpasar dalam artikel Latar Belakang Alih Fungsi Stasiun Kereta Api Willem I Menjadi Museum Kereta Api Ambarawa.

Namun kata Gendro, di sisi lain hasil bumi yang melimpah ini justru mendatangkan persoalan dalam hal pengangkutan. Oleh sebab itu pemerintah Belanda merasa perlu untuk mencari alternatif transportasi yang bisa mengangkut hasil bumi yang lebih banyak.

Menghidupkan Kembali Bon-Bon, Lokomotif Listrik Pertama di Indonesia

Karena itu pemerintah Belanda memutuskan untuk membangun jaringan Kereta Api di Pulau Jawa. Pembangunan rel kereta api di Jawa diusulkan oleh Kolonel Jhr. van Wijk pada tanggal 15 Agustus 1840.

Menurutnya pembangunan rel kereta api di Jawa akan membawa keuntungan yang banyak terutama untuk keperluan militer. Dia mengusulkan jalur rel dari Surabaya ke Jakarta lewat Surakarta, Yogyakarta dan Bandung.

Sementara itu beberapa kalangan meminta agar pembangunan rel kereta api melewati pusat perkebunan ke pelabuhan Semarang. Akhirnya pada 28 Agustus 1862, disepakati rel kereta api akan melewai Kedungjati dan Ambarawa.

Ambarawa memang menjadi salah satu daerah perkebunan dalam wilayah Karesidenan Semarang. Pembangun jalur kereta ini selain untuk kepentingan ekonomi juga menghubungkan pusat militer di Ambarawa dengan Purworejo-Magelang.

Kisah Stasiun Willem I

Karena itu untuk menunjang sarana transportasi pula, pemerintah Belanda membangun simpul-simpul di beberapa lintasan. Salah satu di antaranya adalah di Ambarawa dan diberi nama Stasiun Willem I atau Stasiun Ambarawa.

Pada awalnya pembangunan Stasiun Willem I bertujuan untuk mengangkut hasil bumi dari pedalaman di Ambarawa ke pelabuhan di Semarang. Namun setelahnya kereta api di Ambarawa lebih banyak digunakan sebagai alat angkut militer.

Dinukil dari National Geographic, pada era Hindia Belanda, stasiun ini menjadi bagian penting jalur kereta api pada masa-masa awal. Stasiun ini selesai dibangun dan mulai dioperasikan untuk lintas kereta api cabang Semarang-Kedungjati-Ambarawa pada 21 Mei 1873.

Jalur rel menuju Ambarawa merupakan percabangan dari perlintasan utama stasiun kereta api pertama di Stasiun Semarang menuju Vorstenlanden atau daerah yang dikuasai raja-raja pribumi di Surakarta dan Yogyakarta.

Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) menjadi perusahaan yang membangun jalur kereta api ini. Saat pembangunan jalur Semarang-Vorstenlanden, NIS didera kesulitan modal.

Tetapi Pemerintah Hindia Belanda bersedia memberikan pinjaman modal dengan bunga 4,5 persen. Salah satu persyaratannya, NIS wajib membangun perlintasan kereta api hingga Ambarawa.

Kisah Lampegan, Terowongan Tertua di Indonesia dan Misteri Hilangnya Penari Ronggeng

NIS diberi keistimewaan, pembangunan jalur Kedungjati-Ambarawa tidak dibebani bunga modal pinjaman dari pemerintah Hindia Belanda. Beberapa stasiun Tempuran, Gogodalem, Beringin, dan Tuntang, menjadi tempat-tempat penting pada masanya.

Nama Willem I dipakai sesuai nama benteng logistik dan barak militer Hindia Belanda - Benteng Willem I - yang tak jauh lokasinya dari stasiun. Adapun benteng ini selesai dibangun pada 1834-1845.

Masyarakat setempat hingga kini menyebutnya sebagai Benteng Pendem (terpendam). Sedangkan Willem I sendiri diambil dari nama raja pertama Kerajaan Belanda, Willem Frederik Prins van Oranje Nassau (1772-1843).

Ambarawa dipilih sebagai benteng pertahanan militer setelah Perang Diponegoro (1825-1830) karena lokasinya yang strategis. Kota ini juga menjadi jalur perlintasan arah Semarang menuju Yogyakarta dan Surakarta.

“Pembangunan rel kereta api di Ambarawa sangat penting untuk pengerahan militer Hindia Belanda waktu itu,” kata pengamat transportasi Djoko Setijowarno,

Saking pentingnya wilayah Jawa Tengah, jelas Djoko, pada era Hindia Belanda seluruh wilayah kabupaten atau kota di Jateng dilewati jalur kereta api. Hanya ada satu kabupaten yang tidak dilewati kereta api, yaitu Salatiga itu pun karena faktor geografis.

Dihidupkan kembali?

Tetapi sejalan dengan waktu, pertumbuhan ekonomi dan perkembangan infrastruktur jalan raya yang membuat perjalanan dari Semarang ke Ambarawa menjadi lebih singkat. Kereta api secara lambat namun pasti kalah bersaing.

Pada 1976, Perusahaan Jawatan Kereta Api atau PJKA menghentikan pengoperasian Stasiun Willem I dan rute sekitarnya seperti Ambarawa - Secang - Magelang dan Ambarawa - Parakan - Temanggung.

Kemudian, Kepala PJKA atau Perusahaan Biro Kereta Api Ir. Soeharso bertemu dengan Gubernur Jawa Tengah Soepardjo Roestam untuk membahas rencana pembangunan museum kereta api.

Stasiun Willem I atau Stasiun Ambarawa ini akan dijadikan sebagai Museum Kereta Api Indonesia dengan mengumpulkan beberapa lokomotif uap dan lokomotif lainnya yang akan diletakkan di stasiun Ambarawa.

Stasiun yang telah jadi museum ini memiliki beberapa koleksi antara lain telepon kuno dan telegraf morse kuno. Ada pula lonceng, kursi, meja, lemari dan peralatan sinyal. Sebanyak 21 lokomotif tua juga jadi koleksi yang tak ternilai.

Hingga kini Stasiun Willem I masih terlelap tidur. Tidak melayani jalur angkutan penumpang dan barang. Namun diungkapkan oleh supervisor Museum Kereta Api Ambarawa, Hardika, jalur Ambarawa ke Semarang akan dihidupkan lagi.

Asal Mula Stasiun Duri, Stasiun Dekat Kali Anyar

“Belum tahu jalur satunya lagi yang ke Yogyakarta, apakah akan dihidupkan lagi atau tidak?” ujarnya.

Menurut Djoko, reaktivasi dengan menghidupkan kembali jalur kereta api yang mati sekarang makin berpeluang. Hal ini karena kondisi jalan raya yang terlampau banyak membebani kendaraan dan banyaknya bencana alam yang kian mengganggu perjalanan.

Direktur Komersial PT Kereta API Indonesia Sulistyo Wimbo Hardjito dalam satu paparan menyampaikan bahwa harus ada keberpihakan pemerintah untuk mendukung pengalihan moda transportasi.

Dirinya mencontohkan angkutan barang di jalan raya. Perjalanan truk barang dari Jakarta menuju Surabaya membutuhkan waktu lama, setidaknya 2-3 hari. Hal ini tentu berbeda jauh dengan perjalanan dengan kereta api yang hanya butuh waktu 18-23 jam.

Sedangkan untuk kapasitas angkut truk sekali jalan maksimal 30 ton. Sementara kereta api di Jawa bisa menarik 30 gerbong dengan kapasitas 40 ton per gerbong. Di Sumatra bahkan bisa sampai 60 gerbong dengan kapasitas 50 ton per gerbong.

Angkutan truk juga berpotensi menyebabkan kemacetan di jalur umum, sedangkan kereta api jelas-jelas menggunakan jalurnya sendiri. Karena itu ditengah masalah kualitas dan kenyamanan, jalan raya yang disoal, jalur kereta api bisa menjadi solusi.

“Bukan sekadar untuk nostalgia, melainkan menjadi solusi persoalan transportasi dan mobilisasi manusia dan barang. Tidak ada kata terlambat untuk memulai dan menyusul jalur-jalur mati yang lain,” jelas Palupi Annisa Auliani dalam artikel berjudul Stasiun Willem I Lelap di Ambarawa

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini