Arsitektur Masjid Menara Kudus, Keindahan yang Dibalut Toleransi Islam dan Hindu

Arsitektur Masjid Menara Kudus, Keindahan yang Dibalut Toleransi Islam dan Hindu
info gambar utama

Masjid Menara Kudus merupakan salah satu saksi penyebaran Islam di tanah Jawa. Masjid ini tergolong unik karena desain bangunannya yang merupakan penggabungan antara budaya Hindu dan Budaya Islam.

Menurut inskripsi yang berada di mihrab masjid, tempat ibadah ini didirikan pada tahun 956 Hijriah atau tahun 1549 Masehi. Masjid ini didirikan oleh Sunan Kudus atau Ja’far Shodiq yang merupakan putra dari R.Usman Haji atau Sunan Ngudung.

Hal ini terlihat dari batu tulis yang terletak di pengimaman masjid yang bertuliskan dan berbahasa Arab. Batu ini berperisai dan ukuran perisai tersebut memiliki panjang 46 cm, lebar 30 cm.

Konon kabarnya batu tersebut berasal dari Baitul Maqdis (Al Quds) di Yerusalem, Palestina. Dari kata Baitul Maqdis itulah muncul nama kota Kudus yang artinya suci. Sehingga masjid dan kota tersebut memiliki ikatan dengan Palestina.

Melihat perkembangan Islam di tanah Jawa, Masjid Menara Kudus didirikan setelah Masjid Demak (1468 Masehi). Masjid Menara Kudus diklasifikasikan sebagai masjid komunitas, karena fungsinya sebagai tempat pelaksanaan ibadah bagi komunitas di sekitar masjid.

Beberapa Fakta Mengagumkan dari Eksistensi Masjid di Indonesia

Masjid Menara Kudus memiliki luas kurang lebih 5000 meter persegi dengan tembok-tembok membatasi sekeliling masjid dengan perkampungan sekitarnya. Untuk memasuki masjid ini dapat melalui dua gerbang yang disebut Gerbang Bentar.

Gerbang ini terletak di bagian utara dan selatan. Gerbang utara merupakan akses utama untuk langsung masuk ke dalam masjid. Sedangkan gerbang selatan merupakan gerbang yang menuju kompleks pemakaman.

Nama Gapura Bentar diambil dari istilah Hindu yang berarti gerbang. Dalam memasuki Masjid Menara Kudus tidak ada prosesi khusus. Berbeda dengan bangunan pura yang mempunyai aturan khusus untuk memasuki bangunan.

“Penamaan dua gerbang utama dalam Masjid Menara Kudus menunjukan masih kuatnya pengaruh kebudayaan Hindu-Buddha dalam pembangunan masjid,” jelas Andanti Puspita Sari Pradisa dalam Perpaduan Budaya Islam dan Hindu dalam Masjid Kudus.

Menara Kudus sebagai daya pikat

Menara masjid Kudus memiliki corak hindu dan menyerupai sebuah bentuk candi. Dipercaya oleh rakyat, di tempat Menara Kudus terdapat sumur yang airnya dipercaya warga sebagai sumber kehidupan.

Berdasarkan cerita yang beredar bila ada orang yang meninggal, lalu diobati dengan air sumur tersebut. orang itu akan hidup kembali. Karena membahayakan aqidah warga sehingga sumur itu ditutup dengan bangunan menara.

Selain itu dalam tradisi tutur lain, ada yang percaya sumur tersebut digunakan untuk menimbun kitab-kitab agama Hindu agar tidak dipelajari warga, karena dikhawatirkan akan menghambat lajunya dakwah Islam.

“Cerita tersebut mengandung pesan yang bermuatan kearifan lokal bahwa Menara merupakan bangunan suci yang harus dirawat karena terdapat kitab suci,” jelas Moh Rosyid dalam Menara Masjid Al Aqsha Kudus Antara Situs Hindu atau Islam.

Menara Kudus konon pada mulanya adalah bangunan semacam tetenger yang dibuat oleh komunitas Budo di wilayah yang selanjutnya bernama Kudus ini. Sunan Kudus lantas memanfaatkan bangunan itu untuk berdakwah.

Ada pendapat bahwa kata menara berasal dari kata al-manar, sebagaimana orang dahulu menyebut nama atas kebiasaan yang dihubungkan dengan kehidupannya. Bangunan ini memang lebih menarik perhatian masyarakat dibandingkan keberadaan masjid.

Jelajah Tempat Ibadah dengan Arsitektur Unik di Indonesia

Menara Kudus dibangun dengan material bata merah dengan luas 100 m persegi dan tinggi 18 meter. Di bagian bawah terdapat ukiran dengan motif Hindu. Bagian atap menara terdiri dari atap tajug dua tingkat dengan empat kolom yang menopangnya.

Selain dari material bangunan yang berbeda dengan bangunan masjid, proporsi dan bentuk dari Menara Kudus juga menunjukan elemen Hindu yang mendominasi dalam kompleks Masjid Menara Kudus.

Bagian menara dibagi menjadi tiga bagian yaitu, bagian kaki, badan, dan kepala. Bagian kaki terdiri dari ornamen-ornamen motif Hindu. Bagian badan memiliki ruang kecil (relung) yang berukuran 1,4 meter x 0,85 meter.

Relung ini menyerupai relung-relung yang ada dalam bangunan Hindu seperti pura dan candi. Dalam bangunan Hindu, relung ini biasanya diisi oleh patung. Namun dalam Masjid Menara Kudus, relung ini dibiarkan kosong.

Bagian atas menara atau puncak menara berupa ruangan yang ditopang oleh 16 tiang. Di bawah menara atap tergantung sebuah bedug yang menghadap ke utara-selatan. Bedug ini berfungsi untuk memanggil umat Islam ketika waktu salat tiba.

Atap menara juga menyerupai atap meru – berfungsi mengatapi bangunan-bangunan suci dalam pura –. Syafwani dalam buku Menara Masjid Kudus dalam Tinjauan Sejarah dan Arsitektur menyebut atap dua tingkat tersebut mempunyai makna dua kalimat syahadat.

“Ini menunjukan adanya tendensi untuk mengislamkan orang-orang yang beragama Hindu,” ucapnya.

Seni hias Masjid Menara Kudus

Berdasarkan riset arkeolog, hiasan porselen yang tertempel pada dinding bagian luar bangunan Menara Kudus berjumlah 32 buah, 20 buah berwarna biru bermotif pemandangan alam, sedangkan 12 buah lainnya berwarna putih dengan motif bunga.

Pada 28 Agustus 2008, dua arkeolog Jepang, Sakai Takashi dan Takimoto Tadashi datang ke Menara Masjid Kudus untuk menelusuri asal mula berbagai keramik yang menempel di tempat ibadah tersebut.

Menurut keduanya, dua di antara sekian banyak keramik di Menara Kudus yang menempel di atas pintu bagian utara dan selatan adalah produk pabrik keramik di Vietnam abad ke 14 hingga 15 Masehi.

Keramik di bagian utara berbentuk segi empat, berwarna dasar putih. Adapun bagian tengah berwarna sedikit kebiruan dengan motif bunga. Keramik berusia tua yaitu dibuat pada abad ke 14 atau sekitar tahun 1450 Masehi.

Adapun keramik di bagian selatan berbentuk lebih besar dan lebih menarik, didominasi warna biru dengan motif bunga yang bercirikan Vietnam dan bentuknya bernuansa Islam. Motif ini, jelas Rosyid dapat ditemukan di Istanbul Turki.

“Adapun pernik keramik yang sebagian besar ada di Masjid Menara Kudus umumnya buatan China sekitar tahun 1920-an,” tambahnya.

Menurut Rosyid, tradisi pemakaian piring porselen diilhami oleh hiasan porselen tembok sebagai seni bangunan Islam di Asia Barat dan Asia Tengah. Piring porselen di Menara Kudus semula berasal dari Vietnam dan Tiongkok.

Wapauwe, Masjid Kuno Peninggalan Islam yang Tak Lekang oleh Waktu

Adapun ornamen kaligrafi Arab di serambi depan Masjid Kudus yang berupa hiasan gelas patri (stained glass) merupakan hiasan baru yang dibuat setelah penambahan ruang serambi masjid tahun 1933.

Seni hias (ornamen) pada kompleks Menara Kudus pada bagian luar, teras depan, terdapat beberapa hiasan ukiran batu cadas berpola medalion kecil yang ditempel berjajar dengan motif tumbuhan menjalar.

Ornamen pola piagam paling signifikan ditemukan pada dua lawang kembar, pada posisi kanan-kiri daun pintu terdapat hiasan berpola piagam bermotif khas stilisasi dedaunan dan sulur-suluran, tumbuhan khas tropis, meliuk-meliuk bercorak seni khas Majapahit.

“Dengan demikian hiasan berpola medalion di Masjid Menara Kudus merupakan pola kesinambungan tradisi seni hias pra-Islam,” jelas Supatmo dalam Keunikan Ornamen Bermotif Figuratif pada Kompleks Bangunan Masjid Menara Kudus.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini