Keindahan Terumbu Karang, Perekam Riwayat Letusan Gunung Banda Api

Keindahan Terumbu Karang, Perekam Riwayat Letusan Gunung Banda Api
info gambar utama

Gunung Banda Api, Kepulauan Banda berada di ujung utara deretan gunung api pada busur dalam vulkanik Banda. Puncaknya berketinggian 641 meter dari permukaan laut. Jika dihitung dari dasar laut, tingginya 1.150 meter.

Inilah gunung api yang oleh ahli geologi Belanda, Rogier Verbeek dijuluki sebagai Etna van Indonesia. Sebagaimana Gunung Etna di Italia, Banda Api dikenal dengan karakter letusan berupa semburan bara api susul menyusul.

Gunung Banda Api muncul pada ujung utara deretan gunung api yang terletak di busur dalam vulkanik Banda. Busur itu terbentuk sekitar 1,5 juta tahun yang lalu. Selama empat abad terakhir, setidaknya telah terjadi 24 kali erupsi.

Sejumlah pendapat menyatakan bahwa pulau-pulau di sekitar Gunung Banda Api ini adalah sebuah sisa kaldera raksasa dari gunung api purba. Dalam catatan evolusi kompleks vulkanik Banda terdiri dari empat tahap.

Amukan Gunung Kelud, Cerita Balas Dendam Lembu Sura yang Melegenda

Diawali dengan terbentuknya gunung api purba, yakni, Gunung Lonthoir yang tumbuh dari laut. Gunung ini lantas meletus hebat, serta menghancurkan puncak dan sebagian besar tubuhnya membentuk kaldera Lonthoir.

“Periode berikutnya adalah tumbuhnya Gunung Api Neira yang kemudian meletus dan membuat sebagian tubuhnya hilang,” ujar penyelidik bumi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, Deden Wahyudi yang dimuat dalam Hidup Di Kepulauan Gunung Api Maluku terbitan Litbang Kompas.

Deden menyebut kemudian muncul Gunung Papen yang tumbuh di kawah Neira. Gunung ini kemudian meletus dan menghancurkan tubuhnya. Lalu, dari tengah kaldera bekas Gunung Papen terbentuklah gunung api baru, yakni Banda Api.

Ketika pendudukan VOC, Gunung Banda Api beraktivitas tinggi. Tercatat Gunung Banda Api mengalami erupsi skala VEI 3 pada tahun 1586, 1579, 1609, 1615, 1683, dan 1690. Setelah itu hanya sekali pada tahun 1988 ketika orde baru.

Terumbu perekam riwayat letusan

Berita Berkala Vulkanologi No 193, 1992, menyebutkan, saat meletus tahun 1988, Banda Api mengeluarkan lava dari tiga lubang letusan dan satu rekahan. Letusan pada tahun itu menewaskan 3 orang, serta merobohkan 430 rumah, 2 masjid, dan 2 gedung sekolah.

Namun kini ikan warna-warni berseliweran di sela terumbu karang. Nyaris tak terlihat jejak letusan Gunung Banda Api, Kepulauan Banda yang pernah menghancurkan perairan laut ini pada tanggal 9 Mei 1988.

Di kedalaman 1-18 meter, berbagai jenis terumbu karang tumbuh subur. Terumbu karang berbentuk meja (table coral) selebar lebih dari 2 meter mendominasi. Bahkan tidak perlu menyelam terlalu dalam untuk mengetahui rapatnya hutan terumbu karang.

Hanya dengan snorkeling, aneka jenis terumbu karang di sekitar Gunung Banda Api terlihat berjejalan. Saking rimbunnya, para penyelam harus berhati-hati agar tidak tergores karang ketika berada di kedalaman laut.

Rapatnya terumbu karang dan ramainya kehidupan di laut seperti menghapus jejak kehancuran akibat letusan Gunung Banda Api 24 tahun lalu. Ketika itu, lava dari perut Gunung Banda Api menghancurkan lantai laut dan segala bentuk kehidupan yang dilewati.

Lava yang mengalir ke arah utara melanda Kampung Kalobi dan Batuangus. Selain menghancurkan perkampungan, aliran lava juga mencapai laut sehingga memicu terjadinya freatik. Aliran lava juga merusak koral di perairan itu.

“Terumbu karang yang dahulu rusak akibat letusan tahun 1988 kini tumbuh kembali dengan sangat cepat,” kata Junaedi Ali, dive master di Banda.

Dari Sangihe: Gunung Api Bawah Laut Mahengetang, Kedahsyatan Cincin Api Indonesia

Terumbu karang di kaki Banda Api kini menjadi salah satu tujuan penyelam terbaik di dunia. Salah satu titik penyelam favorit wisatawan di kaki Banda Api disebut Lava Flow. Sesuai namanya, pada tahun 1988 wilayah ini tertutup leleran lava Gunung Banda Api.

Lava yang masuk ke Laut Banda waktu itu diperkirakan menutup area seluas 70.000 meter persegi. Selain menjadi objek wisata, Lava Flow juga menjadi salah satu tempat penelitian untuk mempelajari munculnya kembali kehidupan koral setelah vulkanik.

T Tomascik dan kawan-kawan dalam paper berjudul Rapid Coral Colonization of Recent Lava Flow Following a Volcanic Eruption, Banda Islands, Indonesia menyatakan dari hasil studi pada 1993 ditemukan pertumbuhan kolonisasi karang yang cepat di sekitar aliran lava.

Lima tahun sejak letusan, tumbuh 124 spesies terumbu karang mewakili 40 persen dari total spesies karang di Indonesia bagian timur. Tutupan koloni karang mencapai 60 persen. Sebanyak 35 persen adalah spesies langka, 47 persen biasa, dan 18 persen melimpah.

Hasil studi itu juga menemukan bahwa Acropora merupakan koloni tersukses dan menjadi kumpulan paling berbagai di satu lokasi perairan Indonesia. Sebanyak 45 spesies Acropora ditemukan, salah satunya dinamakan Acropora desalwii.

Tomascik juga menemukan bahwa koloni Acropora yang diamati memiliki rata-rata pertambahan tinggi 30 sentimeter per tahun dan pertambahan melingkar 15 sentimeter per tahun.

Berbagai faktor, ucap Tomascik, menyebabkan pertumbuhan koloni terumbu karang yang begitu cepat. Konsentrasi nutrisi yang tinggi menjadi salah satu penjelasan yang masuk akal mengenai begitu cepatnya kolonisasi terumbu karang di daerah itu.

Mitigasi bencana

Selain sebagai lokasi studi biologi kelautan, pertumbuhan terumbu karang di sekitar Gunung Banda Api sebenarnya juga bisa dimanfaatkan untuk kegiatan mitigasi bencana letusan gunung api.

JM Heikoop dan kawan-kawan dalam paper Corals as Proxy Recorders of Volcanic Activity: Evidence from Banda Api, Indonesia mengatakan pertumbuhan terumbu karang Banda Api merekam kejadian letusan gunung pada masa lalu yang tidak terekam catatan modern.

Heikoop menilai terumbu karang bisa menyediakan rekonstruksi yang lebih lengkap tentang sejarah gunung api. Catatan peristiwa vulkanik pada masa lalu itu tersimpan dalam kerangka koral, yang mencangkup bukti tekanan fisiologis atau hasil kegiatan vulkanis.

Direktorat Pendayagunaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil menyebut keberadaan terumbu karang di kawasan pesisir dilihat dari segi mitigasi bencana berfungsi sebagai penahan abrasi pantai yang disebabkan oleh gelombang dan ombak laut.

Berada di Lingkaran Cincin Api Pasifik, Indonesia Jadi Rumah Bagi 139 Gunung Berapi

Para ilmuwan dari University of Bologna bersama The Nature Conservacy, US Geological Survey, Stanford University, dan University of California Santa Cruz memaparkan peran terumbu karang terhadap pengurangan dan adaptasi risiko di kawasan Atlantik, Pasifik dan Samudra Hindia.

Penelitian ini menyebutkan bahwa terumbu karang dapat memberikan perlindungan substansial terhadap bencana alam dengan mengurangi energi gelombang rata-rata 97 persen.

“Terumbu karang dapat berfungsi sebagai lini pertahanan pertama dan terjangan ombak, badai dan peningkatan permukaan laut,” ujar Michael Beck salah satu peneliti yang disadur dari Kompas.

Dalam penelitian intensif, salah satunya melacak terumbu karang, jejak evolusi Banda Api bisa diketahui. Namun, menurut ahli gunung api dari Pusat Survei Geologi Sutikno Bronto, Gunung Banda Api belum banyak diteliti para peneliti Indonesia.

“Penelitian ke sana sangat minim, kita baru mengetahui sedikit tentang pulau Gunung Api ini,” katanya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini