Fosil Daun Mengungkap Hutan Purba Berusia 4 Juta Tahun di Kalimantan

Fosil Daun Mengungkap Hutan Purba Berusia 4 Juta Tahun di Kalimantan
info gambar utama

Borneo, julukan dari Pulau Kalimantan, baru-baru ini mendapat sorotan dari para peneliti dunia. Kelompok peneliti dari Penn State University menyebut Pulau Kalimantan memiliki pohon tertua yang setidaknya berada sejak empat juta tahun lalu.

Temuan tersebut berdasarkan hasil studi daun yang pertama kalinya dilakukan. Fosil daun yang ditemukan di Kalimantan dipelajari secara rinci. Studi ini mengungkap bahwa hutan hujan telah menutupi permukaan pulau sejak zaman dahulu.

Kelompok pohon ini memiliki nama dipterokarpa yang dominan di Kalimantan. Hal ini diketahui setelah tim peneliti ini mempelajari fosil daun pohon yang mirip dengan periode Pliosen sekitar 2,6-5,3 juta tahun yang lalu.

“Ini adalah demonstrasi pertama bahwa bentuk kehidupan dominan yang khas di Kalimantan dan seluruh daerah tropis basah Asia, pohon dipterokarpa, tidak hanya hadir tetapi sebenarnya dominan,” kata Peter Wilf, seorang peneliti dan profesor geosains di Penn State College Earth and Mineral Sciences yang dimuat Pikiran Rakyat, Senin (8/5/2022).

Kalimantan memang mempunyai hutan yang luas, kaya akan jenis pohon, terutama dari jenis-jenis dipterokarpa. Pohon ini mempunyai nilai ekonomi dan ekologi yang tinggi dalam sektor pembangunan maupun konservasi hutan.

Memburu Kuyang, Hantu Perempuan Pemburu Darah Bayi untuk Awet Muda

Hasil eksplorasi teridentifikasi sebanyak 38 jenis dipterokarpa dari 152 spesimen herbarium dari Hutan Lindung Gunung Lumut dan Meratus yang terdiri dari 6 marga yaitu Shorea, Dipterocarpus, Vatica, Hopea, Dryobalanops dan Anisoptera.

“Kamu menemukan lebih banyak fosil dipterokarpa daripada kelompok tumbuhan lainnya,” katanya menambahkan.

Wilf menyebut daun fosil di daerah tropis basah sangat langka karena tutupan hutan yang luas dan tanah yang sangat lapuk sehingga mengaburkan paparan batuan. Karena itu penemuan ini mengundang perhatian publik.

Peneliti pun menggabungkan dua hasil penelitian untuk mengidentifikasi hutan purba Kalimantan pada masa silam. Pertama adalah fosil serbuk sari yang telah digunakan untuk mempelajari kehidupan tumbuhan di Kalimantan serta temuan terbaru yaitu fosil daun.

“Hasilnya kita benar-benar melihat seperti apa lingkungan jutaan tahun yang lalu. Itu sangat mirip dengan apa yang dapat Anda temukan sekarang meski telah banyak pohon yang ditebang,” ungkap Wilf.

Mengenal dipterokarpa

Disadur dari Science Alert yang dimuat Kompas, Kalimantan adalah rumah bagi hampir 270 spesies dipterokarpa. Jumlah tersebut merupakan lebih dari setengah total spesies yang terdapat di dunia.

Dipterokarpa sendiri memiliki peranan yang sangat penting. Karena merupakan spesies tanaman pendukung keanekaragaman hayati tropis Asia dan penyedia sumber makanan yang sangat besar melalui penyerbukan dan benihnya yang bergizi.

Dipterokarpa juga merupakan salah satu pohon tropis tertinggi di dunia, beberapa di antaranya bahkan dapat tumbuh hingga mencapai 100 meter. Namun memang fosil daun ini sulit untuk ditemukan.

Pengembangan dan pengelolaan hutan dipterokarpa diyakini mampu memberikan nilai tambah bagi ekonomi masyarakat. Pasalnya kelompok tumbuhan pantropis ini banyak dimanfaatkan untuk kehidupan sehari-hari.

Komponen unsur biologi dan ekologi yang telah dimanfaatkan masyarakat biasanya diperuntukkan untuk diri sendiri. Hasil-hasil yang diperoleh misalnya: kayu untuk kayu bakar sebagai sarana untuk memasak.

Kisah Makhluk Misterius Budaya Dayak Penjaga Hutan Kalimantan

Hutan dipterokarpa juga memiliki sumber daya yang melimpah untuk kayu. Keberadaan kayu ini memang dibutuhkan oleh masyarakat sekitar untuk kebutuhannya sehari-hari. Seperti untuk tempat tinggal, ekonomi atau spritual.

Misal, kayu keruing (Dipterocarpus elongatus), bangkirai (Shorea laevis) dan tengkawang (S Pinanga). Pemanfaatan kayu bangunan didominasi oleh petani yang memiliki lahan usaha tani dalam kawasan.

Kayu tersebut digunakan hanya untuk membangun produk ladang dan tidak untuk komersial. Jenis kayu yang dimanfaatkan masyarakat untuk digunakan sebagai bahan bangunan diantaranya marpu’ung (Macaranga spp.)

Namun pemanfaatan lain sebagai hasil hutan, bukan hanya kayu tetapi juga salah satunya untuk kesehatan. Hal inilah yang telah dilakukan jajaran Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Ekosistem Hutan Dipterokarpa Samarinda.

Hasil penelitian balai besar tersebut produk olahan dari jenis dipterokarpa, contohnya Teh Irai, merupakan air rebusan dari daun bengkirai yang bermanfaat sebagai terapi bagi penyakit diabetes, hipertensi, kolesterol, kesuburan, dan memperbaiki stamina tubuh.

Ancaman terhadap hutan

Hutan dataran rendah dengan dominasi jenis pohon dipterocarpaceae berada di wilayah Malesia bagian barat (Sumatra dan Kalimantan). Sumatra memiliki 125 spesies dipterocarpaceae sementara Kalimantan ada 230 spesies.

Namun hutan dataran rendah merupakan ekosistem yang mengalami kerusakan paling parah dari aktivitas Hak Pengelolaan hutan. Padahal di sini menjadi habitat bagi spesies mamalia besar

Sementara itu seperti yang kita tahu, hutan Kalimantan berada di bawah tekanan dari kegiatan penebangan, konservasi lahan pertanian, dan perubahan iklim. Sehingga mempertahankan dan menjaga kelestarian hutan pun menjadi prioritas utama.

Terutama dalam hal ini adalah pohon dipterokarpa yang berfungsi sebagai dasar kehidupan bagi berbagai jenis flora dan fauna, termasuk bekantan, macan dahan, beruang madu, dan rangkong badak.

Namun hingga kini ada sekitar 89 persen dari 460 spesies dipterokarpa Asia berstatus Hampir Terancam Punah, sedangkan 57 persen berstatus Terancam Punah dan sangat terancam punah.

Bila ini terjadi, maka masyarakat Indonesia bahkan dunia akan kehilangan hutan yang berharga dan juga kesempatan untuk mempelajari segalanya. Tentunya akan juga menghancurkan populasi di hutan tersebut.

Kemilau Montrado, Dinamika Kota Tambang Emas dari Kalimantan

“Hal ini menjadi ironi sekaligus dilematis, karena ketika jumlah populasi manusia bertambah maka kebutuhan terhadap lahan hutan juga semakin meningkat. Ketika ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju maka dampak kerusakan terhadap hutan semakin besar,” kata Agus Wahyudi, peneliti di B2P2EHD.

Agus menambahkan, semakin terbukanya ekonomi dan perdagangan akan memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap eksploitasi dan alokasi sumber daya hutan dengan skala yang jauh lebih besar dari sebelumnya.

Karena itu, dirinya memprediksi dengan adanya tekanan ini, hutan dipterokarpa yang tersisa akan semakin terdegradasi, sehingga sebaran dan keragaman jenis dipterokarpa yang ada semakin menurun hingga bisa saja punah.

“Maka sudah seharusnya jenis dipterokarpa menjadi prioritas utama konservasi tumbuhan di Indonesia, karena sekali hilang, spesies punah selamanya,” tambah Agus.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini