Mengenal Pindekan, Kesenian Baling-Baling Bernada Rindik Khas Bali

Mengenal Pindekan, Kesenian Baling-Baling Bernada Rindik Khas Bali
info gambar utama

Jika berkunjung ke Bali, ada satu ciri khas yang selalu dijumpai dan hampir tak pernah absen mengiringi suasana di setiap wilayah Pulau Dewata ini, yaitu alunan musik rindik. Rindik adalah lantunan musik yang tercipta dari alat musik tradisional bernama sama dan terbuat dari batang bambu.

Biasanya, musik rindik akan selalu terdengar hampir di setiap wilayah Bali, terutama ketika memasuki wilayah perdesaan. Namun selain Rindik, alunan musik yang sama biasanya juga dihasilkan dari salah satu alat kesenian tradisional yang ada di pulau tersebut, yakni Pindekan.

Tidak memiliki fungsi utama sebagai alat musik, alat ini dikenal lewat wujudnya yang menyerupai baling-baling atau kincir, dengan beberapa bagian pasak yang bergerak memutar saat tertiup angin. Putaran pasak itu lah yang nyatanya menghasilkan suara persis alunan musik rindik, dan menghidupkan suasan pedesaan, meski tanpa adanya rangkaian alat musik rindik atau gamelan khas Bali.

Mengenal Rindik, Alat Musik Tradisional Bali

Penghias rumah hingga alat andalan petani

Mengutip etnis.id, pindekan sebenarnya adalah sejenis instrumen musik dengan bentuk baling-baling atau kincir yang dapat mengeluarkan bunyi apabila tertiup angin.

Alat ini biasanya ditancapkan pada lahan terbuka dengan tiang pancang bambu dengan ketinggian menjulang. Hal tersebut bertujuan agar pindekan mendapat hembusan angin yang cukup untuk menggerakan kincir dan memutarkan baling-baling di dalamnya.

Secara umum, alat ini banyak dijumpai di halaman rumah penduduk desa Bali, yang dipasang hampir di setiap sudut rumah. Namun selain itu, pindekan juga banyak dipasang dan memiliki perannya sendiri di area persawahan.

Bukan tanpa alasan, keberadaan pindekan di sawah rupanya dimanfaatkan oleh para petani untuk mengusir hama burung yang biasa merusak sawah. Karena bunyi yang dikeluarkan dari alat itu sendiri memang terdengar nyaring dan riuh.

Selain itu, pola alunan musik yang mirip dengan gending gamelan Bali, membuat pindekan menjadi media untuk menikmati lingkungan sekitar tersendiri bagi para petani di tengah melakukan aktivitas bertani.

Sejarah Teko Blirik, Dari Identitas Belanda Sampai Jadi Simbol Perjuangan Petani

Proses pembuatan Pindekan

Meski asing bagi masyarakat luar Bali, namun di pulau tersebut pindekan masih banyak dilestarikan dan dibuat oleh sejumlah seniman pembuat alat kesenian tradisonal. Salah satunya adalah Kadek Dwika Ari Kusuma, pemuda asal Banjar Kebonkuri Tengah Denpasar, yang sudah menekuni dunia seni sejak kecil dan cukup akrab dengan alat satu ini.

Mengutip Kompas.com, Ari membuat pindekan dengan memanfaatkan material utama berupa kayu dari pohon waru berukuran 2-2,5 meter. Dalam pembuatannya, kayu pohon waru terlebih dulu dibelah menjadi dua bagian, selanjutnya dijemur selama satu bulan atau lebih untuk mendapatkan kualitas terbaik.

Setelahnya kayu waru baru diproses dengan diserut agar rata, lalu dibentuk dengan bentuk utama pindekan atau baling-baling. Kemudian pada bagian ujungnya dibuat tipis sesuai patokan nada yang diinginkan, untuk mengasilkan alunan nada dan suara yang merdu.

Sementara itu prinsip kerja putaran kincir angin pindekan sendiri hampir serupa seperti putaran pedal pada sepeda kayuh. Kayu yang dipakai sebagai bilah nada harus dalam keadaan kering, agar menghasilkan suara yang nyaring.

Untuk menentukan tuning atau tinggi-rendahnya bilah nada, tebal tipisnya bilah kayu yang diserut atau dibuat sangat berpengaruh, dan biasanya para seniman pembuat pindekan sudah memiliki patokan ketentuannya sendiri.

Selain Ari, satu seniman lain yang juga dikenal sebagai pembuat pindekan adalah Edi Budiana, yang memang diketahui membuat berbagai macam alat musik tradisional Bali berbahan kayu, di antaranya rindik, angklung, dan sejenisnya.

Lebih spesifik, Edi sendiri biasa membuat berbagai alat kesenian Bali dengan berbagai ukuran. Untuk pindekan ia biasa membuat dengan pilihan nada yang berbeda, atau lebih detailnya terdiri dari pindekan 4 nada, 5 nada, hingga 7 nada.

Perbedaannya, semakin banyak jumlah nada yang juga ditandai dengan semakin banyaknya ruas baling-baling, semakin panjang pula pola lantunan musik serupa rindik yang dihasilkan pindekan. Sementara itu dari akun media sosialnya, terlihat jika pindekan buatan Edi juga kerap dipesan oleh masyarakat yang berasal dari luar wilayah Bali, seperti Jakarta dan lain-lain.

Pindekan paling sederhana dijual dengan harga mulai Rp250 ribu, sementara untuk pindekan yang sudah dihias dengan desain estetik untuk keperluan hiasan terlihat dijual dengan harga hingga kisaran Rp1,8 juta.

Tehyan, Lalove, dan Alat Musik Tradisional Indonesia yang Belum Banyak Diketahui

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini