Misteri Makam Tua di Tengah Jalan Purwokerto yang Tak Bisa Dipindah

Misteri Makam Tua di Tengah Jalan Purwokerto yang Tak Bisa Dipindah
info gambar utama

Kota Purwokerto, Jawa Tengah (Jateng), sama seperti daerah di Pulau Jawa lainnya yang terus berubah dan berkembang. Dari waktu ke waktu, kota ini juga selalu sibuk dengan ribuan orang yang lalu lalang.

Namun, hanya satu yang tak ada perubahan yakni sebuah bangunan berbentuk kotak persegi panjang di tengah simpang tiga jalan timur Alun-Alun Purwokerto. Bangunan ini disebut sebagai Makam Ragasemangsang, makam keramat di tengah jalan.

Dilansir dari Liputan6, Rabu (25/5/2022), letak Makam Ragasemangsang ini berhimpitan langsung dengan kompleks Pendopo Bupati Banyumas, tepatnya di Kelurahan Sokanagara, Purwokerto Utara.

Bentuk makam mengingatkan pada benteng-benteng kuno pada masa silam. Bangunan yang berukuran sedang, sekitar 2,5x1,5 meter bertinggi 1,8 meter itu berdiri kokoh di persimpangan jalan.

Makam ini memiliki pintu kecil berukuran 70 sentimeter dengan atap melengkung berada pada dinding bagian selatan. Di dinding barat dan timur terdapat semacam lubang intai. Bagian atap tertutup oleh cor yang dibangun pada masa pemerintahan Belanda.

Mengenal Abdillah, Penjaga Makam Pendiri Kota Samarinda sekaligus Pahlawan Kemanusiaan

Bangunan ini menggunakan tembok batu bata tebal yang mengelilinginya seperti zaman dahulu. Makam ini memang selalu tertutup, tetapi bisa dimasuki melalui sebuah pintu kecil. Di dalamnya sering terdapat dupa dan taburan bunga mawar.

Karto Suwito, warga sekitar menyebut bangunan tersebut adalah makam tua yang diduga milik Ragasemangsang. Dirinya menambahkan, makam yang terletak 200 meter dari timur alun-alun Purwokerto ini sudah berumur ratusan tahun.

Ia menyebut masyarakat sekitar tidak pernah berziarah ke makam tersebut. Malah katanya, peziarah dari luar daerah yang sering datang mengunjungi makam, seperti dari Tasikmalaya dan Surabaya.

“Kalau di sini dulu itu orang Tionghoa yang sering masuk ke dalam untuk sowan. Keistimewaan itu, tetapi untuk yang percaya. Meskipun jalan itu sibuk tetapi tidak pernah terjadi kecelakaan, jadi seolah-olah ada yang melindungi,” imbuhnya yang dimuat Solopos.

Sosok Ragasemangsang?

Asal pemberian nama Ragasemangsang diambil dari kata ‘raga’ dan ‘temangsang’ yang berarti tubuh yang tergantung. Walaupun tidak diketahui nama aslinya, tokoh ini diyakini adalah orang yang berpengaruh.

Terdapat beberapa versi di balik keberadaan makam ini. Walaupun memiliki beragam versi, tetapi semua cerita mengarah pada akhir yang sama, yakni kematian pria yang tragis tergantung di atas pohon.

Pada versi pertama, makam ini dikabarkan milik seorang tokoh sakti. Konon katanya, walaupun tubuhnya dipotong menjadi banyak bagian, dia tidak akan mati selama tubuhnya masih menyentuh tanah.

Suatu hari, sosok pria ini bertarung dengan seseorang yang bernama Kyai Pekih. Ternyata Kyai Pekih adalah tokoh yang juga memiliki kesaktian serupa. Dalam pertarungan itu, Ragasemangsang berhasil mengalahkan Kyai Pekih.

Ketika itu sebenarnya Ragasemangsang tubuhnya telah dipotong-potong oleh senjata, tetapi selalu menyatu kembali setiap menyentuh tanah. Namun, karena kalah ilmu, justru Raden Pekih luka parah dalam adu kesaktian hingga sampai akhirnya tewas.

Makam Nyai Tembong, Pusara Kucing Kesayangan PB X di Trotoar Solo Baru

“Mbah Ragasemangsang itu hanya dapat mati jika digantung, intinya tak bersentuhan dengan tanah. Lokasi makam sekarang itu, tempat pertapaan Mbah Ragasemangsang yang lantas dikeramatkan,” ujar Suwito.

Versi lain, dikisahkan makam ini merupakan tempat peristirahatan terakhir milik seorang pengikut Pangeran Diponegoro yang sakti dan disegani karena perjuangannya untuk memberantas penjajah.

Ketika itu Belanda sulit menaklukkannya karena prajurit sakti ini memiliki sebuah ilmu gaib bernama Rawa Rontek. Berkat ilmunya, sang prajurit dikisahkan sulit celaka dan hanya bisa mati ketika kepalanya dipenggal dengan keadaan tubuh tak menyentuh tanah.

Dengan adanya syarat itu, konon katanya prajurit itu akhirnya berhasil terbunuh saat tubuhnya digantung di sebuah pohon beringin setempat sebelum kepalanya dipenggal dan dikuburkan.

Tidak bisa dipindah

Meski sudah tidak lagi memiliki nisan dan gundukan tanah khas kuburan, makam Ragasemangsang ini tetap dibiarkan eksis di pertigaan jalan, karena adanya sebuah pantangan untuk mengusik makam tersebut.

Beragam mitos yang menyebut bila makam ini dibongkar atau dipindahkan, maka akan menimbulkan malapetaka yang berujung kematian tragis. Sehingga tidak ada yang berani memindahkannya.

Suwito menyebut makam tersebut sempat akan dipindah. Namun rencana itu batal karena tidak ada yang kuat untuk memindahkannya. Dirinya mengingat dahulu makam tersebut berada di pinggir jalan, tetapi makam tersebut tidak dipindah.

Ada juga kisah tentang pengerjaan membuat galian saluran air yang melintasi makam untuk disalurkan ke perkampungan. Namun tiba-tiba, ketika proses penggalian, salah satu pekerjanya jatuh pingsan tidak sadarkan diri.

Sudah tidak terhitung upaya untuk memindahkan makam keramat yang disebut mengganggu lalu lintas ini. Namun memang usaha ini selalu gagal, baik pemborong, hingga petinggi daerah selalu bertemu “penghuni makam” yang menolak dipindah.

Risiko bagi pemindah makam pun besar, selain bisa pingsan, beberapa yang lain diceritakan mendadak sakit, bahkan sampai meninggal dunia. Hal inilah yang menyebabkan makam ini tetap berada di lokasi asalnya.

Makam ini juga dikeramatkan, para petinggi dari daerah atau kota yang mau naik jabatan hingga bakul warung bila ingin laris dagangannya, kerap bertapa, bersemedi, atau sekadar menaburkan bunga dan meletakkan sesaji di tempat ini.

Sementara itu, cerita-cerita yang berkembang di masyarakat tentang sosok yang dimakamkan tersebut juga belum bisa dipastikan kebenarannya. Pihak pemerintah daerah malah mengaku akan mendorongnya sebagai cagar budaya.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pemuda dan Olahraga, Budaya dan Pariwisata Banyumas, Deskart Sotyo Jatmiko, mengatakan makam ini pantas dijadikan cagar budaya. Karena jadi saksi bisu perpindahan pendopo kabupaten dari Banyumas ke Purwokerto.

Terkait beberapa macam versi, Jatmiko mengakui cerita paling benar mungkin putus sebab laju perpindahan penduduk di pusat kota cenderung tinggi. Modernisasi dia sebut telah memutus ingatan.

Sunan Giri, Sosok 'Paus Islam' yang Mengesahkan Sultan di Tanah Jawa

“Orang-orang yang tinggal awal mula di daerah Sokanegara itu mungkin sudah tidak ada. Karena laju pembangunan kan tinggi dan mereka sudah pindah. Sampai kini ya memang misterius asal mulanya, bagaimana,” ungkapnya dalam Merdeka.

Sedangkan alasan mengapa makam itu tidak pernah dipindah. Dirinya mengatakan masyarakat di Purwokerto tak jarang memiliki keyakinan bahwa suatu tempat tertentu memiliki kekuatan gaib di luar daya tangkap manusia.

Tempat-tempat ini diyakini tak boleh diusik sebab bisa mengakibatkan malapetaka tertentu. Karena itu, dirinya berharap kisah makam ini diambil dari sisi moralnya, yakni keberanian berjuang dan kebaikan yang selalu mengalahkan kejahatan.

Makam Ragasemangsang hingga kini masih menampilkan keganjilan di tengah pertumbuhan dan peralihan kota yang begitu cepat, di antara kebisingan roda-roda jalan raya, laju pembangunan yang dikepung mall, hotel dan gedung-gedung.

Makam ini mungkin masih memberikan pandangan spiritual bagi banyak warga Purwokerto. Di antara sesajen bunga-bunga, menyan yang dibakar di dalam makam, sekian versi cerita tentang makam Ragasemangsang telah menjadi semacam teka-teki.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini