Pasar Papringan dan Upaya Revitalisasi Desa yang Gairahkan Perputaran Ekonomi

Pasar Papringan dan Upaya Revitalisasi Desa yang Gairahkan Perputaran Ekonomi
info gambar utama

Pada kisaran tahun 2016-2017, di jagat maya populer destinasi wisata di sebuah desa yang memiliki konsep tak biasa. Destinasi yang dimaksud pada dasarnya adalah sebuah pasar tradisional, yang mana di dalamnya terdapat bermacam-macam pedagang produk hasil ekonomi kreatif mulai dari kerajinan hingga ragam kuliner tradisional, yakni Pasar Papringan.

Keunikan pertama muncul dari sistem pembayaran yang berlaku di pasar tradisonal tersebut. Di mana untuk bisa melakukan transaksi jual beli, pengunjung hanya bisa menggunakan alat pembayaran khusus bernama pring yang dibuat dari kayu bambu.

Lokasi dari pasar tradisional juga menjadi hal lain yang tak kalah menyita perhatian, karena tempatnya berada di tengah hutan bambu yang tadinya terbengkalai, dan hanya menjadi tempat pembuangan sampah.

Bukan sekadar destinasi wisata biasa, ada gerakan besar yang nyatanya dilakukan untuk memberdayakan desa tempat pasar papringan berada. Digerakan oleh sebuah gerakan perubahan bernama Spedagi, penggarapan destinasi ini berjalan di bawah sebuah program revitalisasi desa.

Fakta Sepeda Bambu Spedagi yang Dipakai PM Australia dan Presiden RI

Pemberdayaan masyarakat desa

Revitalisasi yang dilakukan oleh Spedagi sendiri diinisiasi oleh seorang pria bernama Singgih S. Kartono. Pasar Papringan Ngadiprono yang berada di Temanggung ini sebenarnya adalah proyek percontohan dari revitalisasi desa yang ia inisiasi.

Singgih ingin meningkatkan kesadaran akan pentingnya memanfaatkan sumber daya dari sebuah desa seperti bambu, yang keberadaannya kerap disepelekan dan berujung menjadi sumber daya yang terbengkalai.

Menggandeng pemuda asli Desa Ngadipuro yakni Imam Abdul Rofiq dan rekan lainnya, mereka mengawali penggarapan dengan melakukan pemetaan sosial. Terungkap jika awalnya mereka mendatangi warga dari pintu ke pintu, melakukan puluhan kali pertemuan formal dan informal, dan berbagai upaya penjajakan lainnya.

Yang patut dijadikan acuan, sejak awal warga desa setempat turut diajak memikirkan akan seperti apa pemberdayaan yang berjalan. Hal tersebut bertujuan agar tidak terjadi kesan bahwa mereka adalah penerima bantuan, melainkan pihak yang juga terlibat dalam pengembangan potensi desa tersebut.

Setelah konsep diperoleh, sejumlah pihak akhirnya mengumpulkan potensi yang dimiliki mulai dari kuliner, hasil pertanian, dan kerajinan tradisional yang bisa menjadi objek penarik perhatian. Mereka mulai me-rekoleksi berbagai macam makanan tradisional mulai dari gatot, tiwul, wedang, gudeg, sayuran, dan buah-buahan hasil bumi, makanan kering, hingga mainan kayu.

Kemudian mereka bersama-sama merekonstruksi makanan, penampilan, rasa, cara menata, mengemas, dan berjualan dengan cara sedemikian rupa, sehingga memiliki daya tarik tersendiri. Digelar perdana pada tahun 2016, akhirnya mereka berhasil menyulap hutan bambu papringan yang tadinya kumuh, gelap, dan banyak nyamuk menjadi bersih dan tertata.

Kampung Tobati, Desa Wisata di Jayapura dengan Keunikan Hutan Perempuan

Populer meski terbatas

Sudah berjalan selama kurang lebih 6 tahun, pasar papringan hingga saat ini masih menjadi salah satu destinasi populer di Temanggung. Tak meredup dan terus diminati, hal tersebut lantaran sistem pembukaan pasar yang memang berbeda dari destinasi biasa.

Pasar papringan hanya dibuka selama 2 hari dalam waktu satu bulan, biasanya setiap hari Minggu Pon dan Minggu Wage dalam kalender Jawa. Penetapan tanggal ini juga dikenal dengan istilah dua kali selapan, hal tersebut dilakukan agar ritme dan kultur desa tidak banyak berubah.

Sejak berdiri tahun 2016, sekitar 80 persen dari 110 kepala keluarga di desa tersebut turut berpartisipasi sebagai pedagang. Sebelum hari pembukaan tiba, biasanya warga akan bergotong royong melakukan pembersihan dan berbagai persiapan untuk pembukaan pasar papringan.

Diketahui jika dalam satu hari pembukaan pasar, diperkirakan ada sekitar 3.000 pengunjung yang datang. Mereka antusias menikmati suasana perkampungan tempo dulu dengan ragam jajanan tradisional, ditambah lagi di lokasi juga terdapat hiburan berupa gamelan yang memang dipersiapkan secara khusus untuk membuat suasana pedesaan khas Jawa kental terasa.

Dalam bertransaksi, mereka menggunakan alat tukar pring dari bambu yang satu unitnya bernilai Rp2.000. Untuk bisa mendapatkan pring, saat awal memasuki area pasar akan terdapat lokasi penukaran uang.

Mengutip Media Indonesia, terungkap jika Perputaran ekonomi di pasar papringan bisa mencapai Rp90 juta untuk satu hari. Setelahnya tidak dilepas begitu saja, agar hasil yang diperoleh terkelola dengan baik, masyarakat desa yang berpartisipasi juga diberikan pembekalan mengelola uang agar pendapatan mereka tidak dibarengi dengan perilaku konsumtif.

Adapun pada saat pandemi lalu, gelaran pasar papringan memang sempat tertunda selama hampir dua tahun lamanya. Namun sejak awal tahun 2022, gelaran yang banyak didatangi oleh wisatawan lokal bahkan mancanegara ini kembali dibuka dan sudah memiliki tanggal rencana gelaran hingga akhir tahun.

Seperti misalnya di bulan ini, pasar papringan akan kembali dibuka pada tanggal 12 dan 26 Juni. Terus berlangsung dua kali di bulan-bulan setelahnya, hingga pada akhir tahun rencananya pasar tradisional ini akan digelar pada tanggal 4 dan 18 Desember.

Adapun pada tanggal 13 Maret kemarin, gelaran pasar papringan juga secara langsung mendapat kunjungan dan apresiasi dari pihak Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

“Saya mengapresiasi Pak Singgih selaku pendiri atau penggagas Pasar Papringan yang telah menghadirkan destinasi wisata yang memiliki keunikan. Menurut saya ini jadi inovasi sebagai tatanan ekonomi baru. Biasanya kebun bambu gelap, tapi ini disulap jadi destinasi wisata yang membuka peluang usaha dan lapangan kerja,” ujar Menparekraf Sandiaga Uno.

Ke depannya, baik Spedagi sendiri disebutkan akan berupaya melakukan pemberdayaan serupa di desa-desa lain. Sementara itu Bupati Temanggung, Muhammad Al Khadziq juga mengungkap jika dukungan terhadap konsep pembangunan serupa akan terus dilakukan.

“Model pengembangan seperti desa wisata ini akan kita kembangkan. Sehingga kunjungan akan semakin banyak. Dan diharapkan wisatawan dari Borobudur bisa berkunjung ke Temanggung,” pungkasnya.

3 Desa Wisata Perwakilan Indonesia dalam UNWTO Best Tourism Villages

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini