Misteri Situs Megalitik Tutari Papua, Dibawa ke Jakarta Namun Kembali Sendiri

Misteri Situs Megalitik Tutari Papua, Dibawa ke Jakarta Namun Kembali Sendiri
info gambar utama

Situs Megalitik Tutari terletak di Kampung Doyo Lama, Distrik Waibu, Kabupaten Jayapura, Papua. Tepatnya ada di Bukit Tutari, di tepi Danau Sentani bagian barat. Tempat ini bisa dijangkau dengan kendaraan roda dua maupun empat.

Situs Tutari di bagian utara merupakan bukit meninggi yang ditumbuhi ilalang, semak belukar dan pohon kayu putih serta terdapat batu-batuan besar. Beberapa di antara batu itu digunakan sebagai media lukisan megalitik.

Pada sisi bagian timur dan selatan ke arah kaki bukit, terhampar pemandangan Danau Sentani dengan rumah-rumah warga Kampung Doyo Lama yang tertata mengikuti tepian danau dengan tanjung yang biasa disebut Bukit Teletabis.

Dalam legenda yang dipercaya oleh masyarakat Doyo Lama, Tutari merupakan nama salah satu suku yang mendiami Danau Sentani bagian barat. Suku ini telah punah akibat perang suku di masa lampau.

Dalam cerita masyarakat Doyo yang mendiami wilayah Suku Tutari, disebutkan sekitar 600 tahun lalu di kawasan bukit di tepi Danau Sentani Barat pernah tinggal Suku Tutari. di perkampungan yang bernama Tutari Yoku Tamaiyoku.

“Hingga kini masyarakat Doyo Lama percaya bahwa Bukit Turari merupakan tempat keramat yang dihuni makhluk-makhluk gaib,” tulis Yudha Manggala P Putra dalam artikel Rahasia Situs Tutari dan Wisata Sejarah Papua yang dimuat Republika, Senin (13/6/2022).

Mengulik Cerita di Balik Rencana Pemekaran 5 Provinsi Baru Papua

Namun, tulisnya dalam legenda ini tidak menceritakan tentang lukisan pada batu-batu yang ada. Hal ini karena menurut warga setempat lukisan-lukisan itu telah ada sebelum nenek moyang mereka menempatinya.

Peneliti dari Balai Arkeologi Papua, Hari Suroto menyebut masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan Situs Tutari sekarang ini bukanlah keturunan dari suku Tutari. Pasalnya nenek moyang mereka semula tinggal di Pulau Yonoqom di Danau Sentani.

Namun pada masa lampau secara tiba-tiba mereka konon menyerang dan membantai habis masyarakat Suku Tutari, setelah itu mereka pindah dan bermukim di Tanjung Waroko, kemudian berpindah ke Ayauge dan bermukim tetap di tepi Danau Sentani.

Hari berpendapat masyarakat Tutari pada masa prasejarah sudah mengenal kepercayaan animisme, dinamisme, dan mempercayai roh nenek moyang. Hal ini terlihat melalui motif-motif lukisan yang terdapat pada batu-batu di Bukit Tutari.

“Gambaran tersebut menunjukkan bahwa aktivitas religi masyarakat Tutari mendominasi hampir pada seluruh aspek kehidupan mereka, terutama berhubungan dengan roh nenek moyang maupun dengan kekuatan-kekuatan supranatural,” paparnya.

Misteri batu megalitikum

Hari mengatakan di Situs Megalitik Tutari, seluruh permukaan Bukit Tutari penuh dengan bongkahan batu berwarna hitam. Pada sebagian batu-batu tersebut terdapat lukisan di permukaannya.

“Lukisan ini peninggalan Suku Tutari pada masa prasejarah, dibuat dengan cara menggores” katanya yang dikutip dari Tempo.

Hari menyebut motif yang digoreskan berupa flora dan fauna yang ada di Danau Sentani, manusia, benda budaya, dan geometris. Di puncak Bukit Tutari dengan ketinggian 300 meter ini terdapat menhir yang berjumlah 110 buah.

Masyarakat sekitar percaya bahwa puncak Bukit Tutari merupakan tempat yang sakral. Bahkan ada sebuah cerita yang disampaikan mengenai kesakralan menhir ini. Pada 1990 an, kata Hari, ada yang memboyong menhir ke Jakarta, namun tiba-tiba menghilang.

“Dicari-cari tidak ketemu” ucapnya.

Namun setelah dilacak kembali, ternyata menhir ini sudah kembali ke tempat semula yakni di puncak Bukit Tutari. Menhir yang tiba-tiba kembali ini kemudian oleh masyarakat Kampung Doyo Lama dianggap sebagai spesial.

Agats, Kota di Papua yang Jadikan Motor Listrik Sebagai Kendaraan Utama

Hari menyebut masyarakat Dayo percaya batu-batu yang ada di Bukit Tutari adalah masyarakat suku Tutari yang kalah perang dan berubah menjadi batu. Karena itulah, batu tersebut tidak bisa dipindah dari tempatnya.

Selain itu terdapat versi mengenai keberadaan menhir ini, pertama kompleks menhir ini sebagai tempat musyawarah orang Tutari dan batu tegak yang ada dianggap sebagai simbol tokoh-tokoh adat yang hadir dalam musyawarah.

Hari menyebut pada versi kedua,situs ini dianggap sebagai kompleks Dootomo atau pekuburan pria dengan 110 menhir “mini”, setinggi lutut orang dewasa yang tegak menghadap Danau Sentani.

Sedangkan mengenai goresan atau lukisan-lukisan batu di Situs Megalitik Tutari mengandung nilai estetika, juga menggambarkan kehidupan sosial, budaya, ekonomi, dan kepercayaan masyarakat pada waktu itu.

Misalnya motif budaya terlihat dalam bentuk kapak batu, sedangkan motif lukisan geometris garis-garis melingkar, garis zigzag dan lingkaran. Ada juga motif manusia, flora seperti berbentuk kuntum bunga dan fauna seperti ikan, kadal, dan kura-kura.

Perlu dilestarikan

Bagi Hari, Situs Megalitik Tutari sangat penting untuk dilestarikan. Hal ini karena memiliki nilai penting dan bermamfaat bagi umat manusia dan identitas prasejarah bagi Papua apalagi dilindungi dengan undang-undang cagar budaya.

Dirinya sangat menyayangkan terjadinya penurunan nilai prasejarah, karena lumut-lumut mulai menutupi sejumlah lukisan di batu, lalu penggunaan lahan situs untuk tower PLN, penggusuran lahan dan savana serta pohon kayu putih di areal situs sering terbakar.

Menurutnya, Situs Megalitik Tutari perlu mendapatkan perawatan dan pelestarian. Apalagi katanya saat ini pada permukaan batu banyak dijumpai alga, lichen, lumut, jamur, serta terkena dampak dari kebakaran lahan.

Hari juga menyebut Situs Megalitik Tutari sempat menjadi destinasi wisata para wisatawan dalam atlet Pekan Olahraga Nasional (PON) XX 2020 dan Pekan Paralimpiade Nasional (Perpanas) XVI Papua karena letaknya memang dekat dengan lokasi penyelenggaraan.

Selain itu, upaya pelestarian ini tidak hanya berkaitan dengan peninggalan sejarah. Namun juga pemerintah melalui Balai Arkeologi Papua berusaha menyejahterakan masyarakat di sekitar situs, Danau Sentani bahkan Jayapura.

Ararem, Tradisi Pengantaran Mas Kawin dan Makna Penting Piring Gantung di Papua

Masyarakat di sekitar Danau Sentani yang memiliki tradisi membuat gerabah, juga menuangkan motif Tutari dalam karya yang mereka buat. Perlu diketahui, gerabah asal Jawa dan Papu memiliki perbedaan.

Bila gerabah di Jawa memiliki pegangan, gerabah yang terdapat di Danau Sentani ini tidak memiliki pegangan dan dasarnya berbentuk bulat sehingga butuh penopang tambahan ketika diletakkan.

“Motif Tutari yang dituangkan dalam gerabah Sentani menujukkan konsep megalitik Tutari. Gerabah Sentani jika tidak memiliki penopang bisa goyah, sama dengan kyakinan Tutari yang menggambarkan bahwa pemimpin jika tidak ada rakyatnya sebagai penopang juga bisa goyah.” Hari menambahkan yang dikutip dari Detik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini