Jenderal Moestopo, Dokter Gigi yang Ikut Berjuang Membela Republik

Jenderal Moestopo, Dokter Gigi yang Ikut Berjuang Membela Republik
info gambar utama

Ketika berkunjung ke kawasan Senayan, ada salah satu perguruan tinggi swasta yang cukup terkenal yakni Universitas Prof Dr Moestopo. Universitas ini didirikan oleh Mayor Jenderal TNI (Purn) Prof Dr Moestopo.

Moestopo saat itu memiliki profesi dokter gigi dan menjabat sebagai Kepala Bagian Bedah Rahang Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto. Dirinya berkeinginan untuk menciptakan tenaga kerja di bidang kesehatan dan kedokteran gigi.

Lelaki kelahiran Ngadiluwih, Kediri pada 13 Juni 1913 sudah meniti karir sejak muda. Bahkan dalam usia 24 tahun, Moestopo sudah mendapat gelar sebagai dokter gigi dari Sekolah Kedokteran Gigi Surabaya.

Dirinya memang sudah bercita-cita ingin menjadi dokter gigi. Maka setelah lulus sekolah menengah, dia mantap mendaftarkan diri ke Sekolah Kedokteran Gigi milik pemerintah Kolonial Belanda.

Karena kecerdasannya, dia lantas diangkat sebagai asisten dari dokter gigi ternama di Surabaya saat itu yakni Prof Dr. M. Knap. Bahkan bila Knap pergi ke luar negeri, Moestopo sering disuruh untuk menggantikannya.

Tatang Koswara dan Cerita Pertempuran Legendaris Sniper Kelas Dunia

Dimuat di Historia, Moestopo tidak hanya melayani orang-orang kaya saja, dirinya juga mendermakan keahliannya kepada orang-orang miskin. Setiap hari Minggu atau libur, dia telah berangkat ke Gresik guna melakukan pelayanan umum di alun-alun.

Pada 1942, dia sempat ditangkap serdadu Jepang yang mencurigainya sebagai mata-mata Belanda, lantaran postur badannya yang kekar. Dia kemudian bekerja sebagai dokter gigi untuk pemerintah Jepang, sebelum memutuskan masuk pelatihan militer.

Dirinya menerima pelatihan militer di Bogor bersama Sudirman dan Gatot Subroto, di mana mereka mendapat peringkat tertinggi di kelasnya. Selama pelatihan, Moestopo berhasil menggabungkan ilmu kedokteran dengan ilmu strategi perang.

Karena otaknya yang cemerlang, Moestopo langsung diangkat sebagai komandan Pembela Tanah Air (PETA) di Sidoarjo setelah lulus pelatihan militer. Dirinya kemudian beliau diangkat menjadi komandan pasukan yang mengamankan daerah Gresik dan Surabaya.

Tidak banyak orang Indonesia yang menerima promosi jabatan ini, cuma lima orang, dan Moestopo adalah salah satunya. Hingga titik ini, Moestopo memang tampaknya pantas menyandang tugas sebagai tentara.

Dokter prajurit

View this post on Instagram

A post shared by Kediri on The Road (@kediriontheroad)

Pada akhir Oktober 1945, pecah pertempuran melawan Inggris di Surabaya. Sebagai Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) Jawa Timur, dia mendapuk dirinya sebagai Menteri Pertahanan RI ad interim sekaligus pemimpin revolusi di Jawa Timur.

Bahkan karena itu, sempat terjadi pertengkaran mulut antara Moestopo dengan Wakil Presiden Mohammad Hatta. Untung Presiden Soekarno cepat melerai dan mengangkat Moestopo sebagai salah satu penasehat militernya.

Selama Perang Kemerdekaan (1946-1949), dirinya terbilang aktif di berbagai peperangan. Namanya cukup harum di Yogyakarta dan Jawa Barat karena inisiatifnya membentuk Pasukan Tentara Rahasia Tertinggi (Terate).

Pasukan ini dirinya ambil dari lingkungan dunia hitam seperti kaum pencoleng, perampok, dan pekerja seks komersial. Jenderal (Purn) Himawan Soetanto pernah menjadi anak buahnya dan mengenal Moestopo sebagai sosok yang nyentrik.

Dimuat dari Tirto, Moestopo pernah dikirim ke Subang, Jabar pada 1946. Dirinya ditugaskan untuk menahan pergerakan tentara Sekutu yang diboncengi Belanda tidak seberapa lama setelah Indonesia merdeka.

“Mereka disebar untuk menimbulkan kekacauan di pihak musuh, melakukan sabotase, juga menyediakan pasokan logistik dari garis belakang,” tulis Iswara N Raditya dalam “Kegilaan” dan Aksi Nyentrik Moestopo Demi Republik.

Menakar Kekuatan Militer Indonesia di Tahun 2021

Iswara menulis gebrakan serupa kembali dilakukan oleh Moestopo selaku Komandan Badan Keamanan Rakyat (BKR) untuk menghadang pasukan Sekutu (Inggris) sebelum pecahnya pertempuran 10 November 1945 di Surabaya.

Barlan Setiadijaya dalam 10 November 45: Gelora Kepahlawanan Indonesia (1991) menyebut aksi “gila” Moestopo saat zaman perang di awal kemerdekaan. Seperti membakar ujung bambu runcing sampai sedikit hangus, lalu dimasukan ke dalam kotoran kuda.

Bukan tanpa alasan, maksud dari mengoleskan kotoran kuda di ujung bambu runcing adalah agar lawan yang tertusuk terkena penyakit tetanus. Dirinya memang pernah menulis makalah tentang hal ini saat mengikuti pelatihan militer.

Robert B Cribb & Hasan Basari dalam Gejolak Revolusi Indonesia 1945-1949 (1990) mengungkapkan Moestopo pernah memerintahkan pasukanya makan daging kucing. Khasiatnya membuat penglihatan menjadi lebih baik dalam kondisi gelap sekalipun.

“Moestopo adalah perwira yang eksentrik dan imajinatif. Dia juga menorehkan banyak jasa bagi Republik, termasuk berkat tindakannya yang terkadang di luar kelaziman itu,” tulisnya.

Mengabdi kepada dunia pendidikan

Masa perang akhirnya usai pada 1950, Moestopo pun turun gelanggang. Dia kembali menjadi dokter sebagai Kepala Bagian Bedah Rahang di Rumah Sakit Angkatan Darat di Jakarta, serta sering memberikan pelatihan militer.

Ketika pensiun dari tentara, dirinya lebih banyak menjalankan kehidupannya di dunia pendidikannya. Pada 1958, dia kemudian menggagas berdirinya Dental Collage yang berubah menjadi Universitas Moestopo Beragama pada 15 Februari 1961.

R. Muslich, putra Moestopo menyebut kata “beragama” ternyata memiliki makna tersendiri. Nama ini ditambalkan sebagai ciri kepribadian Moestopo yang selalu berupaya menciptakan persatuan dan kesatuan bangsa atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa.

“Bapak akan marah sekali jika ada mahasiswa-nya yang tidak melaksanakan perintah agamanya,” ujar Muslich.

Bahkan dalam buku kecil berjudul Memperingati 100 Hari Wafatnya Bapak Prof. Dr. Moestopo, dirinya secara tegas mengharamkan mahasiswa didikannya untuk mengkonsumsi minuman keras, narkoba, dan terlibat dalam tindakan kriminal.

Kisah Vespa Kongo, Hadiah Soekarno ke Kontingen Garuda yang Harganya Tembus Ratusan Juta

Bahkan secara khusus, Moestopo juga melarang mahasiswanya melakukan praktek-praktek dan perilaku seks yang dianggapnya menyimpang. Tindakan ini disebutnya bisa menyebabkan daya pemikiran dan penangkapan kuliah menjadi lemah.

Sebagai tokoh, Moestopo tentu saja banyak mendapatkan gelar kehormatan. Secara pribadi, sang jenderal eksentrik itu sangat menghargai gelar-gelar kehormatan yang ditabalkan kepadanya.

Dalam berbagai kesempatan, dia tanpa ragu menuliskan 18 gelar yang pernah diterimanya. Bisa jadi, bila ditambah gelar lain yang tak sempat dituliskan, seperti Pahlawan Nasional, Moestopo akan tercatat sebagai pemilik gelar terpanjang sepanjang sejarah Indonesia.

Sang jenderal ini memang mengabadikan sisa hidupnya untuk dunia pendidikan dan sosial kemasyarakatan. Dia menjalani rutinitas itu setelah perang berakhir hingga wafatnya tanggal 29 September 1986.

Kemudian pada 2007, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) atas nama pemerintah RI menganugerahi Moestopo dengan gelar Pahlawan Nasional. Sebuah penghargaan atas jasa-jasanya yang sering tak terduga itu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini