Menjejaki Danau Dendam Tak Sudah yang Cantik Walau Berselimut Misteri

Menjejaki Danau Dendam Tak Sudah yang Cantik Walau Berselimut Misteri
info gambar utama

Di Provinsi Bengkulu terdapat sebuah danau cantik dengan nama unik yakni Danau Dendam Tak Sudah. Danau ini berlokasi di Kelurahan Dusun Besar, Kecamatan Singaran Pati, Kota Bengkulu.

Selain memiliki pemandangan indah, legenda yang melekat dengan danau ini menarik perhatian wisata. Ada beberapa legenda yang beredar di masyarakat sekitar tentang asal mula nama danau ini.

Konon, nama Danau Dendam Tak Sudah berasal dari legenda pasangan anak muda yang bunuh diri dengan menceburkan diri ke danau. Hal ini karena hubungan mereka tak direstui oleh orang tua perempuan.

Sejak saat itu, masyarakat Bengkulu percaya ada dua ekor lintah raksasa yang hidup di danau dan merupakan jelmaan sepasang kekasih tersebut. Mereka terus hidup dengan menyimpan rasa dendam.

Dimuat Wikipedia, ada juga cerita bahwa nama danau ini berasal dari buaya Danau Dendam Tak Sudah yang bertarung melawan buaya asal Lampung. Dalam pertarungan tersebut buaya Danau Dendam Tak Sudah berhasil mengalahkan buaya asal Lampung.

10 Danau Terluas di Indonesia

Hanya saja, dalam pertarungan itu buaya asal Danau Dendam Tak Sudah kehilangan ekor. Konon ketika itu, hewan ini bersumpah kepada buaya asal Lampung bahwa dirinya tidak akan mendapat makan ketika datang ke tempat ini.

Konon sejak adanya dendam buaya tersebut, warga setempat kemudian menyebutnya dengan Danau Dendam Tak Sudah. Sosok buaya di danau ini pun di keramatkan oleh warga dan dipercaya kemunculannya merupakan pertanda bencana.

Kisah lain terkait nama yang cukup aneh di telinga ini, berasal dari pembangunan dam yang dikerjakan Pemerintah Kolonial Belanda. Konon, pemerintah kolonial membangun bendungan untuk menampung banjir.

Tetapi hingga penjajahan berakhir, bendungan itu tak kunjung usai dan ditinggalkan begitu saja. Akibatnya, luka dan dendam penduduk Bengkulu tak berkesudahan. Hal inilah yang dikaitkan dengan nama Dendam Tak Sudah yang berasal dari Dam Tak Sudah.

Keindahan danau

Namun, di balik namanya yang terdengar cukup aneh, Danau Dendam Tak Sudah menawarkan keindahan yang luar biasa. Dengan luas 37,50 hektare, danau ini dikelilingi bukit-bukit hijau yang memanjakan mata.

Danau ini diperkirakan terbentuk dari aktivitas gunung berapi di daerah tersebut. Mengingat penting dan strategisnya danau ini, pada tahun 1936, Danau Dendam Tak Sudah ditetapkan sebagai cagar alam dengan luas 11,5 hektare oleh pemerintah Hindia Belanda.

Kemudian, pada tahun 1979, kawasan cagar alam ini diperluas menjadi 430 hektare. Sedangkan pada tahun 1999, wilayah cagar alam ini kembali diperluas menjadi 577 hektare yang mencangkup luasnya kini.

Dimuat dari CNN Indonesia, danau ini memang merupakan kawasan cagar alam karena dikelilingi bukit-bukit hijau yang menyimpan banyak potensi ekologi dan juga keseimbangan ekosistem bagi habitat fauna dan flora.

Karena lingkungannya yang masih sangat asri, sehingga tak mengherankan bila Danau Dendam Tak Sudah menjadi habitat flora dan fauna langka. Di sini bisa ditemukan beberapa tumbuhan endemik yang langka.

Danau-danau Penuh Pesona di Atas Gunung

Tumbuh subur di danau ini tanaman seperti anggrek matahari, nipah, plawi, pulai, bakung, gelam, terentang, sikeduduk, brosong, ambacang rawa, dan pakis. Ada juga beberapa jenis ikan langka yang berasal dari famili Anabantidae, Bagridae, dan Cyprindae.

Di danau ini juga merupakan habitat dari flora yang dilindungi yakni anggrek pensil (Papilionanthe hookeriana) atau dijuluki “Ratu Anggrek”. Beragam jenis kantong semar juga tumbuh subur di kawasan ini.

Di mana pada Januari 2021, kantong semar ini sempat menghebohkan warga Kota bengkulu dengan aroma pandannya yang tercium sampai beberapa kilometer. Karena bunga ini mekar secara bersamaan.

Hadirnya hewan-hewan seperti lutung atau kera ekor panjang, burung kutilang, babi hutan, siamang, dan ular phyton yang hidup di sekitar danau, juga menjadi daya tarik sendiri bagi wisatawan.

Jadi objek wisata

Dengan keindahan yang disajikan, tak heran Danau Dendam Tak Sudah menjadi salah satu tempat yang paling banyak diminati para wisatawan. Berbagai fasilitas, seperti tempat duduk pun telah disediakan oleh pengelola.

Bagi wisatawan yang ingin menikmati air danau yang tenang, refleksi langit yang biru langsung terpantul dengan jelas di atas air, seolah Danau Dendam Tak Sudah merupakan sebuah cermin yang besar.

Dipaparkan Beritagar, selain bisa melihat keindahan danau, berbagai flora dan fauna. Wisatawan juga bisa menikmati waktu dengan menyantap kuliner khas Bengkulu di area pondok makanan seperti perut punai, lempuk, dan kue tat.

Bila berkunjung pada hari Minggu pukul enam hingga delapan pagi, akan ada Komunitas Tobo Berondo yang beirisi para pemuda Bengkulu. Mereka akan berkumpul di tepi danau dan membagikan kopi gratis bagi pengunjung.

“Kopi akan disajikan dalam cangkir dan batok kelapa. Mereka juga menyediakan teh manis,” tulis Dian Afrilia dalam Piknik ke Danau Dendam Tak Sudah.

Ketua Komunitas Tobo Berendo, Dedi Setiadi menyebut budaya ngopi telah menjadi kebiasaan masyarakat Suku Lembak, istilahnya neron. Anggota komunitas ini memilih ngopi para pagi hari karena bisa melihat matahari terbit dan udaranya sejuk.

Menjelajahi Situs Danau Matano Melalui Tur Virtual Bawah Air Pertama di Indonesia

Pemerintah telah berencana melakukan perubahan pada status Danau Dendam Tak Sudah dari cagar budaya menjadi taman wisata alam. Hal ini atas saran dari masyarakat serta komunitas pemuda setempat.

Tokoh pemuda Lembak, Nuzuluddin, perubahan status ini diharapkan bisa menjadi pendongkrak ekonomi masyarakat setempat dengan memanfaatkan lahan tersebut menjadi destinasi wisata.

“Danau Dendam Tak Sudah memiliki banyak potensi untuk dijadikan sebagai objek wisata, terlebih lokasinya sangat strategis,” kata Nuzuluddin.

Menurut Kepala Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Kota Bengkulu, Agung Tri Jarmiko, upaya penetapan taman wisata alam, karena danau dan lingkungan sekitarnya memiliki karakteristik yang sesuai dengan kriteria hutan wisata.

Walau memang namanya agak “mengerikan”, namun danau ini tidak akan membuat pengunjung menjadi galau. Dengan membayar biaya kontribusi sebesar Rp1.500, matahari tenggelam pada pantulan danau bisa menjadi penutup hari yang sangat menyenangkan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo. Artikel ini dilengkapi fitur Wikipedia Preview, kerjasama Wikimedia Foundation dan Good News From Indonesia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini