Mengenal Aeroponik, Sistem Pertanian di Udara yang Cocok untuk Masyarakat Perkotaan

Mengenal Aeroponik, Sistem Pertanian di Udara yang Cocok untuk Masyarakat Perkotaan
info gambar utama

Ada banyak cara untuk bercocok tanam di rumah atau di lahan terbatas. Salah satu yang sudah banyak dikenal masyarakat adalah hidroponik. Berbeda dari sistem tanam konvensional, hidroponik dianggap lebih praktis dan efektif untuk menanam sayuran dan buah-buahan hingga kian diminati masyarakat perkotaan.

Hidroponik sendiri adalah budidaya tanaman tanpa menggunakan media tanah, tetapi tetap memanfaatkan sedikit air. Sementara untuk nutrisi tanaman bisa berasal dari beberapa sumber seperti kotoran ikan, kotoran bebek, atau pupuk kimia.

Selain hidroponik, ada juga sistem pertanian lain yang cocok diterapkan di lahan terbatas yaitu aeroponik. Meski konsepnya sama-sama menanam tanpa tanah, aeroponik disebut sebagai pengembangan dari sistem hidroponik yang sudah dianggap sistem tradisional. Seperti apa sistem pertanian aeroponik dan apa saja keunggulannya?

Tim Mahasiswa Unair Buat Pupuk Pertanian dan Perikanan dari Limbah Udang

Memahami pertanian aeroponik

Aeroponik | Wikimedia Commons
info gambar

Pada hidroponik, media tanam direndam pada cairan nutrisi. Sedangkan, pada sistem aeroponik cairan nutrisi diembunkan pada akar tanaman. Sistem aeroponik dibangun dari sistem hidroponik, di mana akar disimpan dalam media tumbuh seperti sabut kelapa, di mana air dipompa secara berkala. Tanaman aeroponik akan menjuntai di udara dan benihnya ditanam dalam potongan busa yang dimasukkan ke dalam pot kecil.

Dalam sistem aeroponik, akar tanaman memiliki akses yang lebih besar ke oksigen sehingga menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat. Untuk nutrisi pada tanaman aeroponik didapatkan dari cairan yang sebelumnya sudah disiapkan.

Cairan nutrisi ini akan diembunkan pada akar tanaman melalui sebuah alat pengkabutan. Sistem ini membuat tanaman dapat menerima 100 persen oksigen dan karbon dioksida yang tersedia ke zona akar, batang, dan daun yang dampaknya adalah mempercepat pertumbuhan biomassa.

Tak hanya bicara efisiensi, aeroponik juga tergolong ramah lingkungan karena didukung oleh kemampuan menanam tanaman dalam jumlah besar di ruang kecil. Pendekatan ini terutama digunakan di pertanian vertikal dalam ruangan yang semakin umum dibuat di perkotaan. Ditambah lagi karena sistem aeroponik tertutup sepenuhnya, tidak ada limpasan nutrisi yang mengotori saluran air di dekatnya.

Adapun beberapa jenis tanaman yang dapat dibudidayakan dengan sistem ini antara lain selada, sawi, tomat, bawang merah, bawang putih, daun bawang, seledri, melon, anggrek, mentimun, dan kaktus.

Node, Jenama Sepatu Lokal yang Memanfaatkan Limbah Produksi Pertanian

Keunggulan dan cara kerja aeroponik

Aeroponik | Wikimedia Commons
info gambar

Pertanian dengan sistem aeroponik tentunya sangat cocok bagi mereka yang ingin bercocok tanam tetapi tidak memiliki lahan yang luas. Anda hanya membutuhkan media tanam berupa styrofoam dan bisa dibuat di pekarangan rumah.

Salah satu kunci dari keunggulan sistem aeroponik adalah oksigenasi dari tiap butiran kabut halus larutan hara yang sampai ke akar. Selama perjalanan dari lubang sprinkler hingga sampai ke akar, butiran akan menambat oksigen dari udara hingga kadar oksigen terlarut dalam butiran meningkat. Proses respirasi pada akar pun dapat berlangsung dengan lancar dan menghasilkan banyak energi.

Adapun kelebihan dari aeroponik adalah hemat air, mengurangi sumber daya manusia yang terlibat, tanaman lebih banyak menerima oksigen karena akarnya di udara, dan oksigen tambahan yang diterima dapat meringankan pertumbuhan patogen berbahaya, kemudian tanaman dapat memanfaatkan karbon dioksida yang kaya oksigen di udara untuk berfotosintesis.

Jika dibandingkan dengan hidroponik, secara umum keduanya sama-sama efisein dalam menanam tanpa media tanah. Kedua sistem ini juga sama-sama menghasilkan produk dan sayuran segar yang sehat. Namun, jika dilihat dari efisiensi penggunaan ruangan, aeroponik dinilai lebih unggul karena menerapkan pengaturan pertumbuhan vertikal dan menggunakan ruang secara efisien.

Sistem hidroponik juga lebih efisien sebesar 90 persen terhadap penggunaan air jika dibandingkan metode konvensional. Namun, ternyata sistem aeroponik bisa lebih efisien lagi karena bisa mengurangi penggunaan air hingga 98 persen.

Untuk mempraktikkan aeroponik, ada beberapa alat dan bahan yang perlu disiapkan. Di antaranya ada pipa PVC, rockwool untuk tempat meletakkan benih tanaman, styrofoam untuk menancapkan bibit tanaman, pompa air, bibit tanaman, dan larutan nutrisi.

Setelah semua perlengkapan selesai disiapkan, Anda bisa merendam terlebih dahulu benih di dalam air. Kemudian lubangi rockwool untuk tempat penyemaian benih. Benih sendiri bisa disimpan di tempat gelap agar lebih cepat berkecambah. Jika bibit tanaman sudah mengeluarkan dua helai daun dari rockwool, segera pindahkan ke styrofoam yang sudah dilubangi dan pastikan posisi akarnya dalam posisi menjuntai ke bawah.

Pada bagian bawah styrofoam terdapat sprinkler atau alat pengabut yang sudah dirakit. Alat ini akan berfungsi untuk memancarkan kabut larutan nutrisi ke arah atas hingga mengenai akar tanaman yang telah ditempatkan di lubang tanaman. Selanjutnya, proses pemancaran kabut larutan nutrisi bisa berjalan dengan bantuan pompa air.

Inilah Pertanian Padi Paling Efisien di Nusantara, dan Tantangannya Kini

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Dian Afrillia lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Dian Afrillia.

Terima kasih telah membaca sampai di sini