Melihat Peran Hewan Kurban dalam Tradisi Masyarakat Bajawa, Flores

Melihat Peran Hewan Kurban dalam Tradisi Masyarakat Bajawa, Flores
info gambar utama

Alam Bajawa di pedalaman Kabupaten Ngada, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur, Selasa (18/3/2008) silam, tiba-tiba cerah sejak pagi. Suasana itu sangat berbeda dengan hari-hari sepekan sebelumnya yang terus diguyur hujan.

Suasana cerah ini memang sangat ditunggu, terutama bagi keluarga suku Jawa di Bajawa karena mereka hari itu akan menguburkan jenazah salah seorang keluarganya, Regina Tenggi yang meninggal pada Minggu (16/3).

“Tidak perlu cemas, saya yakin hari ini hujan baru turun setelah penguburan. Saya sudah menghubungi para leluhur di segala penjuru,” tutur Johannes Djawa, tetua keluarga duka yang dimuat di Kompas.

Entah kebetulan atau karena kekuatan magis, hari itu hujan mengguyur lebat menjelang petang setelah upacara penguburan usai. Sedangkan seusai tradisi, penguburan jenazah apalagi bangsawan dilakukan dengan ritual adat yang disebut sewo benu.

Ritual ini dilakukan dengan penyembelihan hewan kurban berupa babi besar. Sejak lama, masyarakat setempat berpandangan bahwa jumlah (babi) yang dikurbankan ketika penguburan menjadi simbol kebesaran seseorang.

Ritual Kurban, Persembahan Raja Nusantara dan Kendaraan di Akhirat

Hal itu terlihat di depan rumah duka, sejumlah pemuda sibuk mengikat babi kurban. Hewan itu diatur dalam posisi merayap. Kakinya diikat, bagian perut babi menyentuh tanah, dan kepala menghadap pintu rumah duka.

Sementara wakil keluarga yang dibenarkan secara adat, siap memenggal bagian kepala hewan kurban itu dengan parang tajam. Seketika suasana berubah hening, petugas pemenggal dalam posisi siap mengeksekusi.

Tetua Johanes Djawa tampil di depan hewan kurban. Dengan nada lantang dan berirama magis, dia melantunkan doa adat. Doa itu memohon penyertaan dan restu Wujud Tertinggi, leluhur, serta arwah keluarga yang telah meninggal di atas ritual sewo benu.

Begitu usai berdoa, parang tajam yang sudah terhunus, langsung diayunkan ke kepala babi. Sejumlah hewan kurban itu pun serentak mengerang disertai muncratan darah segar. Bagian hati salah seekor babi kemudian diambil dan diantar kepada tetua adat.

Para tetua ini diyakini bisa membaca isyarat tersirat dari bilik garis-garis halus pada permukaan gumpalan daging hati hewan kurban. Katanya dari gumpalan daging itu samar-samar menggambarkan sambungan garis hingga mirip kuburan.

“Ini isyarat, dalam waktu tidak terlalu lama akan ada yang (mati) menyusul Mama Gin. Orangnya dari keluarga jauh, bukan keluarga inti,” ujarnya.

Kurban dalam setiap ritual

Dalam setiap kebudayaan umumnya terdapat sebuah ritual sebagai cara untuk menghormati para leluhur. Dengan demikian dipercaya segala urusan para pelestari budaya akan berjalan secara mulus.

Pada ritual-ritual di masing-masing kebudayaan, setidaknya mewajibkan suatu hal yang disebut sebagai kurban. Tanpa adanya kurban suatu ritual menjadi hampa, tanpa ritual maka kurban pun tak punya makna.

Bagi orang-orang Bajawa, ada tiga hewan yang diperuntukkan sebagai kurban, yakni ayam, babi, dan kerbau yang mempunyai nilai kultural dan sakral dalam keyakinan tertentu. Tidak semua jenis fauna punya legalitas sebagai hewan kurban.

Dalam bahasa Bajawa ayam disebut manu. Tetapi tidak semua ayam diperbolehkan menjadi hewan kurban. Hanya ayam kampung saja yang sah. Sedangkan ayam pedaging, petelur, atau sejenisnya tidak termasuk dalam ranah kultural.

Kemudian babi oleh orang Bajawa disebut ngana. Hewan ini bukan saja dipelihara dan dikonsumsi, babi juga punya nilai kultural. Babi memainkan peran penting bagi kebudayaan masyarakat Bajawa.

Ketika Hewan Kurban Menjadi Pengantin Lewat Ritual Manten Sapi

Terakhir adalah kerbau atau yang disebut kaba. Dalam beberapa hal kerbau melebihi ayam dan babi. Kelebihan dari hewan yang satu ini adalah ukuran, harga yang mahal dan upaya untuk mendapatkannya.

“Populasi yang menurun menjadikan kaba lebih mahal. Karena faktor harga, tidak semua ritual bisa menggunakan kaba sebagai hewan kurban,” jelas Mahandis Yoanata Thamrin dalam Manu, Ngaba, dan Kaba: Cerita Hewan-Hewan Kurban Orang Bajawa yang dimuat National Geographic.

Menurut Mahandis cukup sulit mendeteksi, mengapa hanya tiga hewan ini saja yang mempunyai nilai kultural dan sah sebagai hewan kurban. Padahal orang-orang Bajawa sejak dahulu juga memelihara sapi, anjing, kambing, bebek atau kuda.

Dirinya menduga posisi Bajawa yang secara topografis jauh dari laut dan berada di ketinggian, lebih efektif untuk memelihara ayam kampung, babi, dan kerbau. Sehingga tiga hewan ini yang dipilih menjadi hewan kurban.

“Secara sederhana, bila semua daging dijadikan kurban, orang Bajawa akan menjadi kelompok masyarakat dengan tingkat konsumsi daging paling tinggi,” ucapnya.

Ritual sebelum kurban

Orang Bajawa memiliki ritual sebelum hewan-hewan itu disembelih yang disebut mate. Ritual ini dapat diartikan sebagai semacam doa dan harapan yang dimohonkan pada Sang Pencipta juga para leluhur,

Mahandis menyebut pada ayam disebut mate manu, pada babi disebut mate ngana, dan pada kerbau yang diwakili oleh anak ayam, disebut mate kaba manu. Sebutan untuk menyembelih pun berbeda-beda.

Pada ayam umumnya disebut tau manu, pada babi disebut wela ngana, dan pada kerbau disebut toa kaba. Ketiga hal ini memiliki arti yang sama yakni menyembelih, tetapi karena alat dan cara menyembelihnya berbeda sehingga penyebutannya berbeda.

Mahandis menjelaskan ayam misalnya disembelih dengan cara digorok mulutnya dengan pisau, babi dengan cara dibelah kepalanya dengan parang, dan kerbau dengan cara dipotong lehernya dengan parang panjang bernama sau.

Dia menyebutkan bagian paling penting dari ketiga hewan kurban ini, baik jantan dan betina adalah darah. Darah hewan kurban ini dioles pada dahi atau tangan orang yang memiliki hajat ritual dan pada bagian-bagian penting dari rumat adat (Sao’o).

Setelah dibelah, hati dan bagian dalam lainnya dari ketiga hewan ini kemudian diterawang. Dari situ, terlihat terdapat pertanda-pertanda yang tampak. Kemudian para tetua adat atau Mosa Laki akan dibacakan tanda-tanda itu

Serupa Tapi Tak Sama, Mengenal Perbedaan Kambing dan Domba

“Pesan-pesan dapat disimpulkan dari situ. Ada yang menunjukkan hal-hal baik dan tak jarang pula yang memberi isyarat waspada, berhati-hati, dan bersiap-siap untuk hal-hal yang tidak diinginkan,” paparnya.

Mahandis melanjutkan ketiga hewan kurban itu akan dimasak secara tradisional. Hati dan beberapa bagian lainnya dipersembahkan pertama untuk para leluhur, lalu sesudah itu dikonsumsi secara bersama-sama.

Karena mudah dijangkau, ayam menjadi hewan kurban yang paling sering digunakan dalam semua ritual orang Bajawa. Sedangkan babi dan kerbau, tergantung jenis ritualnya. Babi digunakan bila jumlah orangnya banyak, sedangkan kerbau pada ritual seperti kenduri.

Rahang babi, rahang kerbau, dan tanduk kerbau yang telah dikeringkan dapat digunakan sebagai pajangan pada tiang atau pelataran rumah adat. Selain sebagai aksesoris, bagian ini sebetulnya hendak menunjukkan wibawa keluarga atau waka.

Hingga hari ini, orang Bajawa masih memelihara tiga hewan kurban. Orang Bajawa pun masih terus berusaha untuk mendapatkannya, Namun kebutuhan yang tetap tinggi, agaknya berbanding dengan populasi dan berdampak pada ekonomi.

“Harga ayam kampung, babi, dan kerbau, terus menanjak. Meski demikian, ritual mesti terus dijalankan dan kebudayaan mau tak mau terus dilestarikan,” paparnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini