Peran Anak Muda Tingkatkan Literasi dan Jaga Perdamaian di Ranah Digital

Peran Anak Muda Tingkatkan Literasi dan Jaga Perdamaian di Ranah Digital
info gambar utama

Selalu ada dua sisi dari berbagai kemajuan yang terjadi, termasuk dalam hal teknologi yang dapat memberikan akses penyebaran informasi secara bebas. Bukan hanya menghadirkan kemudahan dalam mengakses berbagai informasi dan kepentingan komunikasi, ada juga sisi negatif yang mengikuti dan wajib mendapat perhatian dari berbagai pihak.

Salah satu sisi negatif yang dimaksud adalah tersebarnya berita bohong atau hoaks, yang kemudian dapat menjurus kepada konflik di ranah digital. Yang bukan tidak mungkin, hal tersebut juga dapat menimbulkan kondisi perpecahan.

Sebagai contoh, berdasarkan data Kemkominfo di tahun 2021 saja tercatat jika ada sebanyak 565.449 konten hoaks di media sosial. Di mana hoaks yang paling banyak tersebar berkaitan dengan pemberitaan mengenai Covid-19.

Saat ini dikala kondisi pandemi telah usai, bukan berarti penyebaran berita yang memicu konflik akan mereda. Ada berbagai momen dan kesempatan di waktu akan datang yang diantisipasi dapat memunculkan kondisi serupa, salah satunya masa menjelang Pemilihan Umum (Pemili) 2024.

Lantas, apa yang bisa dilakukan?

Peran Media Sosial dan Pentingnya Paham Saring Sebelum Sharing

Peran besar anak muda

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) yang dimuat dalam Katadata, Jika dilihat berdasarkan usia, penetrasi internet tertinggi Indonesia berada di kelompok usia 13-18 tahun.

Di mana hampir seluruhnya atau sekitar 99,16 persen kelompok usia tersebut terhubung ke internet. Ditambah kelompok usia muda selanjutnya yang berada di kisaran 19-34 tahun, memiliki penetrasi internet sebesar 98,64 persen.

Kondisi itu menghadirkan kesadaran akan pentingnya peran kalangan anak di usia muda, untuk ikut berperan menjaga ranah digital menjadi lebih kondusif dan aman dari berita hoaks.

Berangkat dari kondisi tersebut, Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO) bersama The United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) dan didukung oleh European Union (Uni Eropa) bekerja sama dalam mengembangkan dua pelatihan yang berhubungan dengan ranah digital bagi anak muda.

Dua pelatihan yang dimaksud yakni “Pelatihan Kampanye Perdamaian di Kanal Digital/Media Sosial bagi Komunitas atau Civil Society Organization (CSO)” dan “Pelatihan Edukasi Literasi Media dan Informasi (Media and Information/MIL)”.

Dilaksanakan sejak 7 April 2022, puncak acara dari program ini adalah dengan diadakannya final dan selebrasi Kompetisi Konten Social Media 4 Peace dan Periksa Fakta dengan Tema Perdamaian, pada Hari Kamis (14/7).

Seperti Apa Cerminan Warganet Indonesia?

Agen perdamaian

Ilustrasi anak muda | Blue Planet Studio/Shutterstock
info gambar

Disambut dengan antusias, kedua kompetisi di atas nyatanya telah diikuti oleh sebanyak 97 peserta dari seluruh Indonesia, baik umum maupun yang telah mengikuti pelatihan bersama MAFINDO dan UNESCO.

Adapun asal daerah peserta lomba sangat luas dan berasal dari berbagai daerah di seluruh Indonesia yang nyaris merata. Mulai dari Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Barat, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tenggara, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, hingga Papua.

Dalam prosesnya, diketahui jika potensi anak muda dalam membuat konten kreatif ternyata cukup tinggi selama difasilitasi dengan kompetisi dan dukungan yang memadai.

Kompetisi yang dimaksud juga melibatkan sederet juri yang kompeten di bidang terkait seperti Wahyu Dhyatmika selaku Direktur Tempo dan Jurnalis Senior di Indonesia, Hesti Murti (Perwakilan Unesco), Yosi Mokalu (Ketua Umum Siberkreasi dan Konten Kreator), dan masih banyak lagi.

Melalui kegiatan ini, para peserta diharapkan dapat menjadi agen perdamaian di Internet. Ditambah lagi, masyarakat Indonesia dapat lebih bijak dalam bermedia sosial serta mengusung gerakan perdamaian di Internet.

Shafiq Pontoh selaku Program Manager Social Media 4Peace MAFINDO menjelaskan, bahwa kegiatan ini adalah langkah pertama dari program Social Media 4Peace di Indonesia. Sekaligus menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang dijadikan pilot project untuk mengusung perdamaian di internet.

MAFINDO juga berharap program ini dapat menjadi solusi bagi permasalahan anak muda dalam menavigasi informasi yang ada di internet, termasuk media online dan media sosial. Terutama dalam menghadapi informasi yang mengandung ujaran kebencian, hoaks, dan polarisasi yang mengancam persatuan serta perdamaian.

Sikapi Hoaks dengan Tabayyun dan Data Valid

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini