Peran Media Sosial dan Pentingnya Paham Saring Sebelum Sharing

Peran Media Sosial dan Pentingnya Paham Saring Sebelum Sharing
info gambar utama

Menginjak peringatan ke-7, Hari Media Sosial Nasional yang diperingati setiap tanggal 10 Juni telah dimulai sejak tahun 2015. Lahirnya momen peringatan ini sendiri digagas oleh Handi Irawan, CEO Frontier Group yang juga telah menggagas Hari Pelanggan Nasional.

Meski bukan datang dari inisiasi pemerintah, namun kesadaran akan perlunya momentum untuk menyelami makna penting media sosial telah disambut positif oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo).

Bukan tanpa alasan, pasalnya media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan hampir semua orang di dunia, termasuk Indonesia. Bahkan tak dimungkiri, jika di dalamnya kini telah membentuk perputaran ekonomi, dan menjadi platform sumber penghasilan bagi banyak orang.

Hasil survei dan riset JakPat yang dituliskan dalam Indonesia Social Media Tren 2021 (Semester 2), memperlihatkan bagaimana media sosial berperan bagi masyarakat di tanah air. Secara ringkas dari sebanyak 2.405 responden yang terlibat, terungkap bahwa selain sebagai sarana hiburan mereka memandang media sosial sebagai platform yang bersifat informatif.

Adapun angka persentase sosial media yang dianggap informatif terdiri dari YouTube (33 persen), Instagram (23 persen), Facebook (17 persen), TikTok (13 persen), Twitter (10 persen), dan lainnya seperti LinkedIn, Snapchat, dan sebagainya sebesar 5 persen.

Tren Penggunaan Media Sosial di Indonesia, Youtube Paling Banyak Diakses

Hoax jadi musuh besar di media sosial

Di lain sisi meski bersifat informatif, sayangnya platform media sosial yang sama juga diakui sebagai permasalahan karena kerap menjadi sumber berita bohong atau hoaks. Sejalan dengan persentase sebelumnya, YouTube rupanya menjadi platform media sosial dengan penilaian sumber hoaks tertinggi, nyaris mencapai 50 persen.

Bukan hanya di Indonesia, bukti bahwa YouTube telah menjadi sumber hoaks yang paling dominan juga dipastikan oleh koalisi global organisasi pemeriksa fakta. Mengutip The Guardian, mereka memastikan kalau YouTube yang dikelola oleh Google adalah saluran utama disinformasi dan misinformasi online di seluruh dunia.

Di saat bersamaan, YouTube juga dinilai kurang atau tidak cukup berbuat banyak untuk mengatasi penyebaran berita bohong atau hoaks di platformnya.

Catatan hoaks seputar Covid-19
info gambar

Kembali ke Indonesia, adapun Kemkominfo melaporkan telah menangani atau memblokir sebanyak 565.449 konten hoaks di media sosial sepanjang tahun 2021. Paling banyak, hoaks yang tersebar berkaitan dengan pemberitaan mengenai Covid-19.

Yang mana lebih detail, sejak Januari 2020 hingga Mei 2022, tercatat ada sebanyak 2.185 isu hoaks mengenai Covid-19 yang sebarannya mencapai angka 5.977 di 5 platform media sosial populer. Dari angka tersebut, sebanyak 5.698 telah dihapuskan dan 279 sisanya masih ditindaklanjuti.

Hari Media Sosial, Seperti Apa Cerminan Warganet Indonesia?

Pentingnya bijak bermedia sosial

Ilustrasi media sosial
info gambar

Penanganan akan maraknya konten hoaks di media sosial tidak akan bisa berjalan efektif dan berdampak, jika hanya ditindaklanjuti oleh pemerintah saat sudah tersebar. Dalam hal ini diperlukan peran masyarakat sebagai pengguna aktif media sosial itu sendiri, untuk lebih bijak dalam menerima dan menyebarkan kembali informasi yang dimiliki di ruang digital.

Penting bagi setiap orang untuk terlebih dulu mencari tahu kebenaran suatu berita. Sebuah sumber menyebut jika orang yang tidak memiliki keinginan untuk mencari tahu sumber dan kebenaran atas sebuah berita, memiliki respons yang tidak baik saat dihadapkan dengan informasi menyesatkan.

Akibatnya, muncul rasa stress, respons yang tidak normal, dan perilaku membaca tak menentu. Hal tersebut juga diyakini akan berpengaruh pada aspek psikologis. Di mana orang-orang yang enggan mencari tahu kebenaran suatu berita akan merasa kurang percaya diri dan kerap menganggap diri mereka negatif.

Berangkat dari kondisi tersebut, belakangan juga gencar digaungkan paham saring sebelum sharing. Artinya setiap informasi yang diterima tidak ditelan secara mentah-mentah, akan tetapi perlu diteliti terlebih dahulu apakah berasal dari sumber yang valid dan dapat dipercaya, atau sekedar hoaks.

Adapun beberapa paham yang bisa diterapkan bersamaan dengan praktik saring sebelum sharing di antaranya adalah belajar menilai kabar, memastikan waktu penerbitan informasi, bahkan bisa bertanya langsung kepada ahli atau yang berkaitan di bidangnya.

Menangkis Hoaks dengan Jurus Literasi

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini