Menangkis Hoaks dengan Jurus Literasi

Menangkis Hoaks dengan Jurus Literasi

© Pixabay

Stereotip yang berkembang di masyarakat tentang perempuan yang suka bergosip kadang membuat geram, karena faktanya tidak semua perempuan menyukai aktivitas yang satu ini.

Bahkan ada kaum lelaki yang lebih berjiwa penggosip dibanding perempuan. Namun pelabelan ini sudah berkembang di masyarakat dan seolah diamini.

Kebutuhan wanita untuk berbicara sekitar 20.000 kata per hari memang jauh lebih banyak dibandingkan kaum pria yang hanya sekitar 7.000 kata saja.

Mungkin dasar ini juga yang menjadi alasan kenapa citra wanita dan gosip begitu lekat di masyarakat. Meskipun sebenarnya pembicaraan perempuan tidak selalu bermuatan gosip.

Untuk itulah, perempuan harus semakin terampil menyaring segala informasi yang diterimanya sebelum menyebarkan kembali informasi tersebut. Tabayun atau klarifikasi kebenaran berita itu menjadi hal penting yang harus dilakukan sebelum kita benar-benar menelannya, atau bahkan menyebarkannya.

Terutama saat ini, dengan semakin pesatnya perkembangan teknologi, melahirkan banyaknya ruang publik baru yang kita sebut media sosial. Jangkauan komunikasi semakin luas tanpa harus bertatap muka, begitupun dengan penyebaran informasi.

Banyak hal positif yang dapat kita ambil dengan kehadiran beragam media sosial, dan kemudahan akses informasi untuk menambah menambah wawasan bagi kita, selain memperluas jalinan silaturahmi.

Namun begitu, kemudahan mengakses informasi secara daring melalui portal berita atau media sosial misalnya, tak terlepas pula dari besarnya dampak negatif seperti penyebaran hoaks yang kian merajalela. Hoaks dapat memicu perpecahan dan melahirkan permusuhan di kalangan masyarakat.

Mudahnya penyebaran hoaks disinyalir sebagai salah satu dampak dari rendahnya literasi masyarakat. Padahal budaya literasi dapat meningkatkan daya kritis masyarakat.

Kegemaran membaca akan menambah wawasan masyarakat dan meningkatkan kemampuan berpikir, sehingga dapat mengkaji masalah dari berbagai sudut pandang. Mengecek kebenaran berita dari berbagai sumber, tidak menelan mentah-mentah berita yang didapat begitu saja.

Menyampaikan kebenaran melalui sebuah tulisan akan terlahir dari budaya literasi, sebagai salah satu upaya melawan penyebaran hoaks. Membuat tulisan yang bermutu dan bermanfaat bagi masyarakat juga dapat menjadi ladang amal bagi kita.

Kaum perempuan sebagai ibu adalah madrasah pertama bagi anak, memiliki peran penting dalam membangun budaya literasi dalam keluarga sebagai upaya membentengi diri dari hoaks.

Diawali dengan menumbuhkan minat baca pada anak sejak dini dan memberikan teladan, karena keluarga merupakan lingkungan pertama yang akan mempengaruhi pembentukan kebiasaan dan karakter seseorang.

Mengenalkan anak pada literasi yang sesungguhnya. Di mana kegiatan literasi perlu melibatkan hati nurani yang akan menuntun kita untuk mampu menyampaikan kebenaran, karena dilandasi sebuah kesadaran bahwa setiap tulisan yang dibuat akan dipertanggung jawabkan.

Perempuan penulis akan mengedukasi orang-orang di sekitarnya bahwa hoaks adalah berita bohong, bukan berita yang tidak kita sukai atau tidak kita harapkan.

Kebenaran adalah kebenaran, sekalipun terasa pahit itulah fakta yang harus disampaikan. Jangan sampai menjadi kabur oleh fanatisme yang berlebihan.

Pilih BanggaBangga0%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi100%
Pilih TerpukauTerpukau0%

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

Editor:
Aditya Jaya Iswara

Perempuan Penulis, Sikapi Hoaks dengan Tabayyun dan Data Valid Sebelummnya

Perempuan Penulis, Sikapi Hoaks dengan Tabayyun dan Data Valid

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri Selanjutnya

Indonesia dan Brunei (Mungkin) Saling Iri

0 Komentar

Beri Komentar

Silakan masuk terlebih dahulu untuk berkomentar memakai akun Anda.