Gerilya, Program yang Buat Generasi Muda Melek Energi Bersih dan Tenaga Surya

Gerilya, Program yang Buat Generasi Muda Melek Energi Bersih dan Tenaga Surya
info gambar utama

Pengembangan dan praktik energi bersih di Indonesia seharusnya bukan hanya melibatkan pemerintah, pihak swasta, atau lembaga yang memiliki kepentingan di bidang terkait. Jika ingin keberadaannya terus berkembang dan bertahan lama, diperlukan juga keterlibatan anak muda di masa kini yang akan meneruskan pembangunan industrinya di waktu yang akan datang.

Makna dari keterlibatan yang dimaksud salah satunya adalah pemahaman mereka dari segi teknologi, mengenai bagaimana prosedur dan praktik energi bersih seperti pembangkit listrik berbasis EBT bekerja di Indonesia.

Beruntungnya melihat kondisi tersebut, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akhirnya menghadirkan sebuah program yang dinamakan Gerilya. Tujuannya adalah untuk melatih sumber daya manusia (SDM) yang memadai, dan memahami bagaimana pengaplikasian teknologi energi alternatif di tanah air.

Khoiria Oktaviani, selaku Program Manager Gerilya Kementerian ESDM menjelaskan, jika adanya program tersebut merupakan salah satu bentuk kolaborasi untuk mendorong tercapainya target emisi nol bersih Indonesia, dan anak muda yang berperan sebagai aktor utamanya.

"Salah satu (cara) mencapai Net Zero Emission adalah dengan EBT. Kita punya program Gerilya. Mudah-mudahan gerakan tidak berhenti di sini, akan berlanjut dengan gerakan lainnya, dan mencari kolaborasi dengan semua pihak," tutur Khoiria.

"Kita punya target Net Zero Emission di tahun 2060. Dan anak-anak muda yang peduli akan energi terbarukan inilah yang menjadi masa depan bangsa ini," tambahnya lagi.

Kolaborasi Perusahaan Teknologi di Indonesia Dorong Generasi Muda Paham Praktik EBT

Mengenal Gerilya

Menjadi bentuk akronim dari Gerakan Inisiatif Listrik Tenaga Surya, Gerilya jadi program yang memberikan kesempatan kepada para mahasiswa yang menempuh pendidikan dengan jurusan tertentu di industri terkait, untuk mengembangkan kompetensi mereka secara spesifik dan praktis di bidang energi bersih.

Walau sebenarnya secara spesifik, bidang energi bersih yang dimaksud adalah praktik pembangkit listrik tenagara surya (PLTS), khususnya PLTS atap yang saat ini banyak dicari di dunia usaha dan industri.

Lebih detail, program ini dilakukan Kementerian ESDM yang bekerja sama dengan Kemendikbud-Ristek, dan biasanya akan berlangsung dalam kurun waktu satu semester atau enam bulan. Para mahasiswa yang mengambil jurusan perkuliahan di bidang eksakta (sains), biasanya diperkenankan mengikuti program ini saat sudah berada di semester 6 atau setelahnya.

Dalam kurun waktu enam bulan itu pula, para mahasiswa akan mendapatkan pembekalan, pembelajaran, dan pelatihan baik dalam bentuk materi dan terjun langsung ke lapangan. Di mana semua program pembelajaran materi dan praktik tersebut setara dengan program 10-20 SKS jika di perkuliahan.

Mimpi Noor Titan untuk Kembangkan Panel Surya bagi Kemandirian Energi Indonesia

Pemahaman dan praktik nyata

Mahasiswa yang terlibat langsung dalam pengembangan PLTS atap | Dok. Kementerian ESDM
info gambar

Salah satu bukti terlibatnya kalangan anak muda atau mahasiswa dalam industri dan perkembangan PLTS dalam skala besar telah dilakukan pada kisaran bulan April lalu. Sebanyak 57 mahasiswa angkatan kedua program Gerilya terlibat langsung setelah diterjunkan ke berbagai perusahaan solar PV, yang melakukan praktik pemasangan PLTS di berbagai lokasi di Indonesia.

Salah satu mahasiswa yang mendapatkan kesempatan untuk tahu secara langsung bagaimana praktik pengembangan PLTS di lapangan adalah Muhammad Wavi. Pada bulan April lalu, ia terlibat langsung dalam instalasi PLTS atap 47,5 kWp yang berlokasi di PLTGU Tenayan, Riau.

Mengaku jika kesempatan tersebut merupakan proyek dan pengalaman pertamanya terlibat langsung dalam proses instalasi PLTS, Wavi mengaku mendapat banyak pemahaman dan pengetahuan baru.

“Pengalaman yang saya dapatkan sangat luar biasa dan cukup beragam mulai dari pengalaman teknis pemasangan PLTS hingga pengalaman dalam berkoordinasi dengan stakeholder terkait," ujarnya.

Bukan cuma itu, nyatanya pemasangan PLTS yang dilakukan oleh Wavi juga masuk dalam perhitungan upaya, untuk mengejar target porsi bauran energi berbasis EBT di Indonesia menjadi 23 persen pada tahun 2025.

Bukan cuma Wavi, Resya Ariyani yang diketahui berasal dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang juga mahasiswa Gerilya angkatan sebelumnya juga mengungkap apa saja pengetahuan yang didapat, dan seberapa besar hal tersebut berpengaruh terhadap jenjang edukasi yang ia miliki.

"Saya merasakan betul program ini. Kami tidak hanya belajar teori, tapi juga secara praktikal melalui team-based project. Kami diajari mulai dari kulit, daging, sampai biji. Dari kebijakan energi, metode pemanfaatan energi surya, langkah design, marketing bisnis, menyusun proposal hingga proyeksi finansial PLTS atap," paparnya.

2050, Indonesia Bisa 'Panen Raya' Listrik dari 10 Miliar Panel Surya

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini