Misteri Ritual Aneh di Gunung Sanggabuana

Misteri Ritual Aneh di Gunung Sanggabuana
info gambar utama

Setiap malam 1 Suro, banyak ritual yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat. Tidak hanya yang normal, namun juga yang terdengar aneh yakni ritual membuang celana dalam dan kutang.

Ritual ini ternyata masih banyak dilakukan oleh orang-orang yang mempercayai mitosnya. Ritual membuang kutang dan celana dalam ini banyak dilakukan di Gunung Sanggabuana, Karawang, Jawa Barat.

Misalnya pada 2021 silam, video berdurasi 59 detik menghebohkan dunia warganet karena memperlihatkan tiga orang yang tengah mengumpulkan celana dalam dan kutang di Gunung Sanggabuana.

Banyak warganet yang heran dengan kelakuan para peziarah yang membuang celana dalam di kawasan pegunungan itu. Lebih heran lagi, celana dalam yang dibuang rata-rata milik perempuan.

Dimuat oleh Solopos yang diwartakan dari akun instagram @info_karawang, ritual membuang celana dalam ini dilakukan saat bulan Maulid atau Rabiul Awal. Ritual buang celana dalam di Pegunungan Sanggabuana ini diyakini dapat membuang sial.

Para pendaki pun menemukan celana dalam tersangkut di semak belukar pegunungan. Ketika dikumpulkan, jumlahnya sangat banyak dan mencapai satu karung. Bahkan dahulu warga menemukannya hingga 10-20 karung tumpukan celana dalam.

Misteri Kuncen Berkepala Anjing di Gunung Sanggabuana

Ahmad Abdul Karim, warga setempat mengaku tidak heran dengan fenomena para peziarah tersebut. Baginya, fenomena itu adalah kepercayaan para peziarah yang sengaja datang ke Gunung Sanggabuana untuk melakukan ritual tertentu.

“Jadi kalau ada orang luar yang mandi di air terjun, dia harus membuang pakaian dalamnya. Kalau perempuan buang celana dalam dan bra, kalau laki-laki hanya celana dalam saja. Tujuannya membuang sial, soalnya mandi di tempat keramat. Di beberapa daerah di Loji ada juga yang melakukan itu,” kata Karim yang dimuat Kumparan.

Kepercayan lokal yang berkembang di Sanggabuana, jelasnya, bahwa siapapun yang mandi di pancuran atau air terjun, kemudian membuang pakaian dalamnya, dipercaya kesialannya juga ikut hilang.

Hal yang sama disampaikan oleh Bahrudin, aparatur Desa Jatilaksana, Kecamatan Pangkalan Acim yang menyebut warga setempat sudah terbiasa dengan fenomena ini, karena memang sudah dilakukan sejak lama.

“Setahu saya, fenomena ini sudah lama dilakukan para peziarah. Dari dulu, kami sudah terbiasa dengan pakaian dalam yang berjejer di pepohonan.”

Bertarif mahal

Budayawan Karawang, Asep Sundapura menjelaskan bahwa ritual yang dilakukan para peziarah mengalami pergeseran tempat. Dahulu, ritual buang pakaian dalam pernah dilakukan di Curug (air terjun Cigentis), bukan di puncak Gunung Sanggabuana.

Musababnya kata Asep, dulu nama Curug Cigentis adalah Curug Panyipuhan. Sementara itu Panyipuhan berasal dari bahasa Sunda yang memiliki arti pembersih atau pembuang sial, inilah yang diyakini oleh masyarakat.

“Artinya, curug ini diyakini bisa menghilangkan atau membersihkan kesialan dan hal-hal negatif dari tubuh manusia. Semacam buang sial dan semacamnya. Itu cerita lama yang berkembang di Karawang Selatan,” katanya.

Sedangkan di puncak Gunung Sanggabuana, jelas Asep, hal tersebut dahulu jarang sekali ditemukan. Dirinya menuturkan bahwa hal ini baru mulai ditemukan sejak tahun 2000-an awal, ketika menjamurnya kuburan-kuburan yang ada di sana.

Diketahui para peziarah akan membuang kutang juga celana dalam selepas berdoa di makam juga petilasan yang ada di Gunung Sanggabuana. Total ada 14 makam yang dipercaya sebagai objek ritual.

Beberapa makam diberi nama seperti, Makam Eyang Ganda Mandir, Taji Malela, Kyai Bagasworo, Ibu Ratu Galuh, Eyang Abdul Kasep, Eyang Sapujagat, Eyang Langlang Buana, Eyang Jagapati, dan Eyang Cakrabuana.

Mengenal 10 Gunung Berapi Tertinggi di Benua Asia, ada Dua dari Indonesia

Sementara itu dalam penjelajahan tim Ekspedisi Flora dan Fauna Pegunungan Sanggabuana, juga menemukan 4 mata air yang dipercaya sebagai tempat keramat, yakni Pancuran Mas, Pancuran Kejayaan, Pancuran Kahirupan, dan Pancuran Sumur Tujuh.

“Dari 4 mata air dan 14 makam itu dipakai buang sial,” tutur Bernard T Wahyu, Ketua Ekspedisi Flora dan Fauna Pegunungan Sanggabuana.

Hal yang aneh bagi Bernard, para peziarah pun akan dikenakan tarif ketika ingin melakukan ritual. Para kuncen akan memandu para peziarah ini dengan membayar Rp250 ribu rupiah untuk memandu ritual dan ubo rampe (bunga tujuh rupa untuk sesajian).

Karena adanya fenomena ini, warga lokal dan pegiat Sanggabuana pernah membongkar makam tersebut, namun seiring berjalannya waktu kembali muncul. Sedangkan oknum yang mengaku kuncen, disebut Bernard ternyata bukan berasal dari warga sekitar.

Musababnya, setelah makam-makam itu dibongkar, kuncen dari warga lokal sudah tidak ada lagi di tempat wisata tersebut. Menurutnya beberapa tahun setelah pembongkaran, bermunculan orang yang mengaku kuncen tetapi dari luar wilayah.

Merusak lingkungan

Ritual membuang celana dalam dan kutang di Gunung Sanggabuana memang telah meresahkan warga sekitar. Pasalnya, aktivitas ini justru bisa mengancam lingkungan gunung karena mengotori kawasan alam ini.

Bernard menyebut sebagian orang yang mengaku kuncen ini telah memanfaatkannya untuk meraup keuntungan dan mengancam kelestarian lingkungan. Pasalnya sampah pakaian dalam akan mengotori aliran air.

Dijelaskannya ketika pengunjung dari berbagai kalangan dan daerah datang, kemudian berharap berkah dari pancuran air, tetapi tidak sedang dalam kondisi sehat tentunya berpotensi menyebarkan penyakit menular.

Sementara itu dikhawatirkan ritual tersebut akan bertahan dan melekat sehingga menjadi keyakinan baru. Padahal warga sekitar tidak ada yang melakukan ritual tersebut, terkhusus di malam 1 Suro.

“Kalau warga seperti jelang malam 1 Suro ini paling besok itu bikin sedekah bumi atau hajat bumi tidak mengotori alam sekitar atau Sanggabuana sendiri,” katanya yang diwartakan Detik.

Inilah 7 Gunung dan Puncak Tertinggi di Indonesia

Sedangkan perihal ritual buang celana dalam dan kutang, tim SFC dan pegiat alam lainnya sering melakukan operasi bersih (opsih) celana dalam dan kutang. Tetapi mereka memang harus bekerja keras untuk membersihkannya.

Karena itu, dirinya meminta agar pemerintah setempat untuk turun tangan agar menertibkan ritual ini. Karena aktivitas tersebut bisa mengganggu kelestarian alam yang di Gunung Sanggabuana.

“Bagi kami Pemkab harus segera turun tangan untuk menertibkan ritual buang celana dalam ini dan kuncen-kuncen juga makom-makom perlu didata apakah benar atau sebenarnya bukan,” pungkasnya.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kabupaten Karawang, Yudi Yudiawan mengatakan pihaknya menyayangkan adanya aksi peziarah yang membuang pakaian dalam itu. Hal tersebut berdampak pada kondisi lingkungan sekitar yang menjadi kumuh.

“Kita menyayangkan dengan adanya aktivitas tersebut, karena wilayah Sanggabuana. Di kawasan wisata alam seharusnya kebersihan harus terjaga,” ungkapnya yang dimuat Tribun Jateng.

Memang terlepas dari fenomena ini, Gunung Sanggabuana merupakan wilayah dengan keragaman alam yang baik. Bahkan Komisi IV DPR dan KLHK sepakat mengusulkan kawasan Pegunungan Sanggabuana menjadi taman nasional pada tahun 2021 lalu.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini