‘Kuburan’ Pesawat dan Potensi Pemanfaatan Wisata

‘Kuburan’ Pesawat dan Potensi Pemanfaatan Wisata
info gambar utama

Bukan cuma kereta api dengan kondisi tak layak pakai yang punya tempat penampungan atau ‘kuburan’ di Indonesia. Alat transportasi lain dengan ukuran lebih besar nyatanya juga punya tempat serupa, yakni pesawat.

Saat ini, diketahui ada empat kuburan kereta api dengan kesan estetik yang alih-alih menyeramkan, justru menjadi tempat wisata populer. Tak jarang, titik di mana puluhan bahkan ratusan gerbong kereta yang disusun sedemikian rupa tersebut, menjadi lokasi untuk hunting foto bagi para fotografer.

Empat lokasi yang dimaksud di antaranya stasiun Cikaum yang ada di Subang, stasiun Sidotopo di Surabaya, Balai Yasa di Yogyakarta, dan stasiun Purwakarta. Lalu bagaimana dengan kuburan pesawat?

Ada satu lokasi kuburan pesawat yang belum lama ini terungkap, lokasinya berada di Kecamatan Parung, Kabupaten Bogor. Apakah se-estetik kuburan kereta api?

Arul Ismail, Pemuda Asal Ciamis yang Sukses Rintis Usaha Miniatur Pesawat

Baru ada di tahun 2019

Ada cerita menarik di balik keberadaan kuburan pesawat di Parung. Lokasi ini terungkap setelah viral video beberapa waktu lalu, yang menunjukkan macetnya jalanan di kawasan setempat akibat terjebaknya kendaraan pengangkut badan pesawat.

Video tersebut menyita perhatian karena menimbulkan kemacetan di waktu mobilitas masyarakat, tepatnya di pagi hari. Terlihat, jika badan pesawat yang diangkut terbagi menjadi 2 bagian, yakni bagian kepala dan badan.

Setelah viral, ternyata baru terungkap jika di wilayah tersebut terdapat kuburan pesawat yang selama ini bahkan belum banyak diketahui warga setempat. Mengutip Kompas.com,selain badan pesawat di lokasi yang sama juga terdapat bagian tak berfungsi lainnya seperti roda, lemari, dan bagasi yang berserakan.

Lain itu setelah ditelusuri, ternyata lahan kuburan pesawat yang dimaksud sudah ada sejak awal tahun 2019. Pesawat yang dibawa ke lokasi tersebut berasal dari sejumlah maskapai yang ingin membuang armada yang sudah tak lagi berfungsi.

Biasanya pun, pesawat memiliki prosedur pengangkutan dengan cara membelah bagian badannya menjadi beberapa bagian. Lain itu pengangkutannya juga dilakukan di malam hari. Di lain sisi, tak jauh dari lokasi kuburan pesawat tersebut, memang terdapat pangkalan atau landasan utara Atang Sanjaya milik TNI.

Meski di media sosial terlihat tampilan kuburan pesawat dari atas, namun rupanya lokasi tersebut dikatakan sangat tertutup dan tidak semua orang boleh masuk. Karena itu, untuk kuburan pesawat satu ini sayangnya tidak se-estetik kuburan kereta api yang ada, dan bisa diakses kapan saja secara bebas untuk menjadi tujuan wisata kalangan tertentu.

Kisah N250 Gatotkaca, Pesawat Pertama Indonesia Mahakarya BJ Habibie yang Dimuseumkan

Wisata ex-badan pesawat

Di lain sisi, wisata yang memanfaatkan badan pesawat tak terpakai rupanya bukan hal baru di Indonesia. Ada beberapa tempat yang diketahui menjadi ikonik di kalangan wisatawan karena memiliki ciri khas berupa keberadaan badan pesawat yang menarik perhatian.

Beberapa di antaranya ada yang berlokasi di Trenggalek di mana badan pesawat yang ada dijadikan lokasi wisata kuliner dan edukasi, kemudian ada juga di Hutan Koya di Jayapura.

Namun satu yang belakangan paling menarik perhatian adalah keberadaan bangkai pesawat yang berlokasi di atas tebing Pantai Nyang-Nyang, Bali. Lebih tepatnya berada di Desa Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung.

Lebih detail, jenis pesawat yang ditempatkan di tebing tersebut merupakan pesawat Boeing 737-200. Keberadaannya ternyata sengaja dibawa oleh seorang pengusaha asal Rusia bernama Felix Demin. Rupanya, ide penempatan pesawat berangkat dari keprihatinan Felix atas kondisi masyarakat sekitar. Menurutnya, sebagian besar warga di sana menggantungkan pendapatannya dari sektor pariwisata.

Dengan niat mengembangkan peluang dari segi wisata fotografi hyper-luxury, dengan kehadiran ex-pesawat yang menjadi ikon khusus. Di area sekitar pesawat tersebut, nyatanya juga dibangun penunjang parisiwat lain seperti restoran yang punya konsep unik, yakni contribution based restaurant.

Maksudnya, restoran tersebut menerapkan sistem kontribusi, dimana setiap orang dapat makan apa saja dan bayar sesukanya. Hal itu dilakukan untuk menarik minat para wisatawan.

"Tujuan yang ingin dicapainya sangat sederhana, memberikan ikon wisata baru bagi Kabupaten Badung yang sudah terkenal dengan destinasi uniknya. Serta memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Pecatu, Kabupaten Badung melalui kehadiran ikon tersebut (pesawat).” Jelas perwakilan bernama Made Kur, dalam Detik.com.

Dari Salatiga, Mendesign Pesawat Untuk Petani Amerika

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini