Potensi Gempa 8,7 M dan Tsunami 10 Meter, Bagaimana Mitigasi di Pesisir Selatan Jawa?

Potensi Gempa 8,7 M dan Tsunami 10 Meter, Bagaimana Mitigasi di Pesisir Selatan Jawa?
info gambar utama

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah berpotensi mengalami gempa berkekuatan 8,7 skala magnitudo (M) yang kemudian disusul tsunami dengan ketinggian air lebih dari 10 meter.

Walau begitu, BMKG meminta masyarakat tidak khawatir dengan adanya prediksi tersebut. Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyebut potensi itu merupakan pemodelan tsunami dengan skenario terburuk.

Hal ini mengingat Cilacap merupakan daerah yang berada di garis Pantai Selatan Jawa dan menghadap langsung dengan zona tumbukan lempeng, antara lempeng Samudra Hindia dengan lempeng Eurasia.

“Dari hasil pemodelan tsunami dengan skenario terburuk, dikhawatirkan berpotensi terjadi tsunami dengan ketinggian lebih dari 10 meter di pantai Cilacap, sebagai akibat dari gempa bumi dengan kekuatan M=8,7 pada zona megathrust dalam tumbukan lempeng tersebut,” kata Dwikorita dalam situs resmi BMKG, Kamis (4/8/2022).

Dwikorita yang melihat potensi bencana itu pun lantas meminta pemerintah daerah dan masyarakat agar segera bersiap menghadapi skenario terburuk. Dirinya mewanti-wanti, perkiraan skenario terburuk bukanlah ramalan, tetapi hasil dari kajian para ahli.

Sejarah Hari Ini (11 April 2012) - Gempa Bumi Besar Guncang Sumatra

Tetapi BMKG, jelas Dwikorita, belum bisa memastikan kapan waktu bencana ini akan terjadi. Dirinya menyebut karena sampai saat ini belum ada satupun teknologi yang mampu memprediksi kapan terjadinya gempa.

Karena itulah, perhitungan skenario terburuk tersebut merupakan acuan untuk mempersiapkan langkah-langkah mitigasi. Sehingga, katanya, bila terjadi gempa bumi dan tsunami, pemerintah dan masyarakat sudah mengetahui apa yang harus dilakukan.

“Hal itu penting, supaya kalau terjadi gempa dan tsunami sewaktu-waktu, diharapkan pemerintah dan masyarakat sudah siap dan tahu apa-apa saja yang harus dilakukan, termasuk kapan dan kemana harus berlari menyelamatkan diri secara mandiri atau kelompok,” jelasnya.

Menurutnya masyarakat perlu memahami apa yang harus dilakukan dan dipersiapkan ketika bencana datang. Sehingga bisa melakukan penyelamatan, mengenali jalur evakuasi dan penyiapan tempat yang aman.

Dwikorita juga meminta kepada pihak swasta dan industri agar membantu dalam upaya mitigasi bencana di wilayah Cilacap. Upaya ini menurutnya sebagai bagian dari sinergi penthelix dalam penanganan bencana.

“Tanpa sistem mitigasi dan peringatan dini yang andal, dampak ikutan dari gempa dan tsunami di kawasan industri berpotensi memperparah intensitas kerusakan yang diakibatkan,” lanjutnya.

Sekolah bencana

Dwikorita menyampaikan bahwa BMKG bekerja sama dengan pemerintah daerah BNPB/BPBD dan multi pihak terkait, rutin menggelar Sekolah Lapang Gempa Bumi (SLG) di titik-titik rawan gempa bumi dan tsunami.

Menurutnya hal ini penting untuk memberikan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat dan pemangku kepentingan di daerah, dalam mengelola risiko dan bencana. Dirinya pun mengharapkan adanya dukungan dari pihak swasta.

Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Setyoajie Prayoedhie menambahkan dengan adanya SLG ini, BMKG ingin memberikan informasi mengenai potensi bahaya gempa bumi dan tsunami di daerah pelaksanaan.

Dicatatnya sejak tahun 2021, pelaksanaan workshop SLG fokus pada edukasi gempa bumi dan tsunami sekaligus menjadi wabah BMKG bersama masyarakat dan komunitas untuk membentuk Masyarakat Siaga Tsunami yang diakui dunia internasional.

Menurut Setyoajie, pemerintah daerah menjadi simpul utama rantai komunikasi dan arahan yang benar kepada masyarakat dan SKPD terkait peringatan dini tsunami. Selain itu, jelasnya, membangun sikap tanggap bagi masyarakat di wilayah berpotensi bencana.

Dia juga menjelaskan bahwa pihaknya membantu Pemkab Cilacap memberikan Peta Bahaya Tsunami di lokasi pelaksanaannya. Hal tersebut lanjutnya bertujuan agar sebagai acuan dalam menyusun mitigasi gempa bumi dan tsunami di daerahnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji juga mengapresiasi dan ucapan terima kasih kepada BMKG yang sudah mengadakan SLG kepada masyarakat pesisir Cilacap.

Sesar Lembang dan Legenda Sangkuriang

SLG ini berlangsung selama 27-28 Juli 2022, kegiatan ini diikuti oleh 60 peserta yang berasal dari berbagai kalangan seperti TNI, Polri, Basarnas, Satpol PP, PMI, perwakilan SPKD, perwakilan pegawai Kelurahan/Desa dan Kecamatan, relawan, dan masyarakat.

“Gempa dan tsunami tidak ada yang bisa memprediksi, semuanya dari Tuhan, dari Allah. Jadi mau tidak mau, suka tidak suka harus siap. Kesiapan ini harus disertai dengan edukasi melalui SLG ini,” ujar Tatto.

Selama beberapa waktu, Pemkab Cilacap bersama BNPB, BUMN, serta institusi lainnya melakukan penghijauan di kawasan pesisir pantai untuk upaya mitigasi. Pada April 2021, mereka menghijaukan Pantai Cemara Sewu, Bunton, Kecamatan Adipala.

Total ada 3.313 pohon dari berbagai jenis yang ditanam. Bahkan ada satu jenis pohon yang secara khusus didatangkan dari Pulau Seram bernama Palaka. Juga ada pohon dengan jenis cemara laut yang dianggap cocok untuk mitigasi bencana.

“Cemara laut merupakan pohon yang cocok sebagai upaya mitigasi bencana di pesisir, di antaranya adalah abrasi dan tsunami. Karena pohon tersebut memiliki cengkraman yang kuat ke tanah,” kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Cilacap Sri Murniyati.

Bersahabat dengan gempa?

Asmoro Widagdo, ahli kegempaan Fakultas Teknik Universitas Soedirman menjelaskan bahwa Pantai Cilacap seperti halnya semua pantai di sepanjang selatan Pulau Jawa merupakan area yang perlu mendapat perhatian terkait potensi bencana.

Menurutnya beberapa gempa dengan kekuatan dan kedalaman bervariasi telah terjadi di selatan Jawa. Ratusan bahkan ribuan korban gempa bumi hingga tsunami telah terekam dan menjadi momok yang menghantui masyarakat.

Tetapi dirinya menghimbau agar masyarakat tidak panik secara berlebihan, dan lebih menyiapkan mitigasi bencana. Karena katanya, ketakutan masyarakat akibat ancaman gempa karena salah menyikapi berbagai pemberitaan di media sosial.

Dirinya menyebut satu hal yang harus diajarkan kepada masyarakat Cilacap dan sekitarnya adalah bahwa bila tekanan atau stress di batuan bawah laut sering dilepaskan sebagai gempa bumi, maka tekanan yang besar tidak akan terjadi.

Gua Laut Indonesia yang Merekam 5.000 Tahun Jejak Tsunami

“Dengan demikian ancaman bencana tsunami juga dapat dihindarkan,” ungkapnya melalui keterangan tertulis.

Dengan demikian, katanya masyarakat tidak perlu khawatir akan adanya ancaman tsunami bila di area Cilacap sering terjadi gempa-gempa kecil (gempa ringan dengan skala 4-4,9 dan gempa minor dengan skala 3-3,9).

Hal ini menurutnya menjadi pertanda bahwa tekanan yang dialami batuan telah dilepaskan dan tidak terjadi tekanan berlebihan yang berbahaya. Dengan demikian kejadian gempa-gempa ringan yang sedang terjadi seharusnya disyukuri.

Malah sebaliknya, masyarakat baru boleh khawatir, bila tidak kunjung datang gempa. Karena hal ini bisa saja menimbulkan gempa dengan kekuatan besar dan memancing datangnya tsunami.

Karena itu, menurutnya penting bagi warga pesisir selatan Jawa untuk menyikapi ancaman gempa dan tsunami dengan benar. Tentunya, lanjutnya, hal seperti ini perlu disampaikan melalui edukasi di sekolah-sekolah hingga menengah di area ini.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini