Kisah Cinta Tragis Putri Pejabat Kompeni di Balik Istilah Pria Hidung Belang

Kisah Cinta Tragis Putri Pejabat Kompeni di Balik Istilah Pria Hidung Belang
info gambar utama

Pada abad ke 17, Batavia sudah menjadi daerah yang banyak dihuni oleh lelaki Eropa berkulit putih. Namun, ketika itu hanya sedikit wanita yang berkulit putih, karena jauhnya jarak Hindia Belanda dengan Eropa.

Bagi mereka yang memiliki istri, boleh saja membawa istri beserta anak mereka dari Belanda ke negeri koloni. Tetapi tidak bagi serdadu rendahan. Agar bisa memenuhi hasrat, para serdadu ini ada yang melakukan perkawinan campur atau pergundikan.

Tetapi tidak semua bernasib nahas, Pieter Cortenhoeff yang biasa menjaga Kastil Batavia bernasib lebih beruntung. Sosok Vaandrig (serdadu bawahan) berumur 17 tahun berdarah campuran Belanda kelahiran Arakan, Myanmar ini memang berwajah tampan.

Kerupawanannya menarik banyak perhatian wanita di Istana, salah satunya Sara Specx. Sara merupakan anak yang dititipkan kepada Jan Pieterszoon Coen dari koleganya Jacques Specx ketika akan kembali ke Belanda.

Sebelum pergi, Jacques begitu mempercayai sosok Gubernur Jenderal Hindia Belanda ini, sehingga rela menitipkan anaknya. Kisah lengkap Sara diungkap oleh jurnalis senior, Alwi Shahab dalam bukunya berjudul Robin Hood Betawi.

Kenangan dari Tanamur: Dentuman Disko dari Diskotek Tertua di Asia Tenggara

“Sara atau sering dipanggil dengan nama Saartje merupakan putri pejabat VOC yang bernama Jacques Specx dengan seorang gundiknya yang berkebangsaan Jepang.”

Sara yang lahir di basis perdagangan Belanda di Pulau Hirado tidak bisa pergi ke Belanda. Hal ini karena peraturan VOC yang melarang orang dari perkawinan tak resmi datang ke negerinya, sehingga Sara dititipkan ayahnya ke Coen di Batavia.

Sara yang merupakan anak pejabat tinggi VOC tinggal di rumah Coen, penguasa Batavia ketika itu. Dirinya hidup di dalam lingkungan kastil yang juga merupakan benteng kota Batavia yang baru berdiri.

Sara yang ketika itu masih berusia 12 tahun sangat senang tinggal di rumah Gubernur Jenderal. Seperti lazimnya rumah penguasa, ketika itu kediaman Sara dijaga para prajurit-prajurit gagah dan tampan.

Ketika itu kawasan Batavia memang sangat rawan, apalagi pihak Kesultanan Banten dan Mataram Islam tidak menyukai keberadaan Belanda di Sunda Kelapa. Karena itulah banyak orang Eropa lebih memilih menghabiskan hidupnya di dalam lingkungan benteng.

“Demikian pula yang terjadi pada Sara Specx di Batavia,” tulis Arie Saksono dalam Kisah Sara Specx Batavia 1629.

Kisah cinta terlarang

Karena sehari-hari tinggal di lingkungan rumah Coen yang dikelilingi penjaga yang gagah-gagah tersebut. Sara yang masih muda belia lama kelamaan mulai jatuh hati pada salah satu prajurit muda dan tampan, yaitu Pieter Cortenhoeff

Penjaga kastil yang ketika itu berusia 17 tahun tersebut ternyata juga bernyali besar. Dia berani mengencani Sara yang memang cintanya tidak bertepuk sebelah tangan. Karena Sara juga sudah tergila-gila dengan ketampanan sang serdadu.

Keduanya terlibat hubungan asmara secara diam-diam. Hal ini mengingat usia Sara yang masih sangat belia untuk urusan semacam itu. Sementara Sang Gubernur Jenderal awalnya tak ambil pusing dengan kabar angin tersebut.

Bagi Coen ada urusan yang lebih di Batavia. Dirinya lebih mementingkan urusan pertahanan benteng Batavia dari gempuran pasukan Mataram. Dibanding memikirkan masalah percintaan anak muda yang sedang di mabuk asmara.

Pada awalnya hubungan keduanya berjalan lancar, hingga pada suatu malam sebuah peristiwa menggemparkan terjadi di lingkungan kastil Batavia. Hubungan asmara Sara dengan Peter sampai pada puncaknya.

Pada suatu malam, Sara dengan diam-diam mengijinkan sang pujaan hatinya masuk ke kamarnya yang notabene rumah Sang Gubernur Jenderal. Lingkungan kastil yang indah dengan desiran angin laut membuat suasana menjadi semakin romantis.

Memori Landhuis Pondok Gede, Rumah Mewah yang Kini Telah Lenyap

Hal inilah yang membuat dua sejoli tersebut semakin lupa diri. Sara pun jatuh dalam pelukan hangat Pieter. Selanjutnya kisahnya menjadi berubah mengerikan, karena hubungan tercela itu diketahui Coen.

Sang Gubernur Jenderal menjadi sangat murka. Dia tidak terima kediamannya dinodai oleh perbuatan zinah Sara dan anak buahnya. Coen memang terkenal sebagai seorang penganut Kristen yang sangat kuat.

Apalagi ketika itu norma-norma gereja dan aturan yang dibawanya ke tanah kolonial sangat ketat. Sehingga perbuatan yang dilakukan Sara dan Pieter benar-benar dianggap sudah melampaui batas.

“Seketika itu pula sang penguasa Batavia ini langsung memerintahkan untuk mendirikan tiang gantungan bagi keduanya,” ungkap Arie.

Namun untunglah ada pimpinan Dewan Pengadilan Batavia atau Raad van Justitie yang langsung turun tangan. Dewan ini menengahi masalah tersebut dan menyatakan kasus tersebut harus dibawa ke meja pengadilan terlebih dahulu.

Lahir istilah hidung belang

Dewan kehakiman yang berkantor di Balai Kota -kini Museum Fatahillah- pun melakukan sidang. Pada 18 Juni 1629, Raad van Justitie pun menetapkan kedua sejoli tersebut bersalah telah melakukan perbuatan zinah.

Pieter dijatuhi hukuman mati dengan cara dipenggal. Sementara Sara yang ketika itu masih berusia 12 tahun terkena hukuman cambuk berkali-kali. Tempat eksekusi ini dilakukan di depan gerbang Balai Kota.

Masyarakat kota Batavia pun berdatangan untuk menyaksikan eksekusi kedua orang Eropa itu. Pada masa itu, hukuman mati dan sejenisnya memang lazim menjadi hiburan untuk masyarakat kota Batavia.

Sedangkan Coen yang memiliki kekuasaan sebagai Gubernur Jenderal pun tidak mau menggunakan kekuasaannya. Dirinya memiliki prinsip yang salah tetap harus dihukum sesuai dengan aturan yang berlaku.

Coen juga tidak memperdulikan status Sara yang merupakan anak pejabat tinggi VOC. Padahal dia bisa saja mengganti eksekusi yang kejam terhadap Sara tersebut dengan mengurungnya di dalam rutan spesial di benteng Batavia.

Pada tanggal 19 Juni 1629, di depan umum di halaman Balai Kota, Pieter kemudian dieksekusi, kepalanya dipenggal. Sama seperti Sara yang dicambuk berkali-kali di hadapan masyarakat yang hadir menonton.

Jalan di Jakarta Diganti Nama Tokoh Betawi, Sudahkah Melalui Kajian?

Sebelum mencabut nyawa Pieter, Coen yang merasa dipermalukan mencoreng hidung mantan serdadunya itu dengan arang sebagai bentuk penghinaan karena perbuatan cabulnya. Karena hal ini, hidungnya terlihat belang-belang.

Ketika kepala Pieter terpisah dari badanya dan menggelinding di tanah usai dipenggal algojo, ratusan orang melihat hidungnya belang-belang. Sejak saat itu, sebutan hidung belang menyebar dan disematkan kepada pria genit dan sering main perempuan.

Bahkan kisah itu diolah menjadi lelucon dan banyolan untuk menyerang sikap Coen. Di Belanda, kisah itu dijadikan naskah drama sebelas babak yang pernah dilarang pementasannya oleh pemerintah setempat.

Remy Sylado, seorang sastrawan yang mempopulerkan istilah tersebut melalui tulisannya dalam bahasa Rubrik Bahasa Harian Kompas yang berjudul Setali Tiga Uang: Hidung Belang dan Mata Keranjang.

“...Sejak itu semua yang kedapatan berzina ditangkap, lantas dibelangi hidungnya atau dicorengi wajahnya dengan arang. Karenanya lahir istilah yang unik ini. Sekurangnya membelangi hidung dengan arang masih lebih lunak dan santun ketimbang yang dilakukan orang-orang sekarang, abad ke 21, menelanjangi dan mengarak di jalan, bahkan kemudian membakarnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini