Meramu Langkah Menyejahterakan Petani di Tengah Swasembada Beras

Meramu Langkah Menyejahterakan Petani di Tengah Swasembada Beras
info gambar utama

International Rice Research Institute (IRRI) memberikan penghargaan ketahanan pangan bagi Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta, Minggu (14/8). Penghargaan tersebut diserahkan kepada Presiden Joko Widodo (Jokowi) oleh Direktur Jenderal IRRI Jean Balie.

Berdasarkan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Indonesia mencapai 90 persen lebih rasio swasembada atau rasio antara produksi dalam negeri dengan total permintaan. Dicatat ini adalah pencapaian yang sangat besar.

Selain itu, Indonesia juga dianggap mampu melakukan swasembada beras karena selama tiga tahun terakhir tak impor beras. Sedangkan produksi beras cukup memenuhi kebutuhan dalam negeri.

TaniHub dan Deretan Startup Pertanian Indonesia yang Berhasil Raih Investasi Miliaran

Tetapi di tengah kebanggaan ini ternyata tidak berimbas kepada kondisi petani. Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyebut kondisi petani Indonesia masih berada di bawah garis kemiskinan.

Dirinya mengacu pada angka produktivitas gabah kering panen (GKP) 5,2 ton per hektare dan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah Rp4.400 per kilogram, dan biaya produksi Rp12,5 juta per hektare hanya Rp10,38 juta per tahun.

Zulhas kemudian lebih merinci dalam dua musim tanam Indonesia, keuntungan petani hanya Rp5,2 juta per hektare per musim atau Rp1,3 juta per tahun. Karena itu dengan kepemilikan 0,66 hektare, maka rumah tangga tani hanya berpenghasilan Rp860 ribu.

Bila satu keluarga tani memiliki lima orang, maka pendapatan bersih anggota tani cuma Rp172 ribu per bulan. Bila mengacu kepada BPS yang menggolongkan penghasilan di bawah Rp474 ribu artinya petani Indonesia berada di bawah garis kemiskinan.

“Maka alangkah memprihatinkan nasib petani kita saat ini,” ujar Zulhas yang dimuat Detik.

Momen menaikan kesejahteraan

Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) mencatat terjadinya penurunan harga beras di tingkat petani, hal ini berdampak pada pendapatan petani dalam tiga tahun terakhir. Karena itu penghargaan tersebut tidak memberikan keuntungan pada petani padi.

Harga padi di tingkat petani selalu naik turun. Harganya bahkan bisa tiba-tiba terjun bebas ketika pemerintah menghembuskan wacana impor di musim panen raya, seperti yang terjadi pada 2021 silam.

Selain itu, di lapangan sering terjadi persoalan, misalnya para petani di Desa Tegoldowo, Rembang, Jawa Tengah yang menolak tambang. Di sana para petani kesulitan mencari pupuk dan ada alih fungsi sebagai lahan pertambangan.

KRKP dalam risetnya pada April 2020 silam menunjukan terjadinya penurunan harga gabah di tingkat petani hingga Rp1.000 selama berbulan-bulan. Karena itu, KRKP mendorong penghargaan ini jadi momentum perbaikan kesejahteraan petani.

“Ini jadi satu momentum pemerintah untuk melihat bahwa keberhasilan itu alat ukurnya jangan dari produksi saja, tetapi seberapa mampu program dan kebijakan itu mendorong perubahan kehidupan di subjeknya (petani),” kata Koordinator KRKP Ayip Said Abdullah yang diwartakan BBC Indonesia.

Inovasi Berkelanjutan dalam Upaya Menjaga Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi

Pada sisi penurunan nilai tukar petani (NTP) yang merupakan rujukan kesejahteraan petani. Angka NTP petani dalam tiga tahun ini selalu di bawah 100 yang menunjukkan kenaikan pendapatan petani lebih kecil dari pengeluarannya.

Dalam catatan KRKP, NTP petani subsektor tanaman pangan menghasilkan 101,43 pada 2020. Tetapi kemudian turun 98,21 pada 2021, dan sampai Juli 2022 angkanya kembali merosot menjadi 97,98.

“Nilai tukar petani padi selalu lebih rendah dibandingkan NTP petani secara umum. Artinya memang petani padi masih menjadi kelompok yang paling rendah kesejahteraannya,” tambah Ayip.

Langkah pemerintah

Sekretaris Jenderal Kementerian Pertanian, Kasdi Subagyono menyebut pemerintah terus mendorong kesejahteraan petani dengan menggaungkan pengembangan kewirausahaan inovatif melalui digitalisasi pertanian.

Pada akhir Juli lalu, jelas Kasdi, para anggota G20 sedang menggaungkan bahasan mengenai kesejahteraan petani. Selain itu ada juga pembahasan sistem pangan yang berkelanjutan dan perdagangan pangan yang transparan.

“Memajukan kewirausahaan pertanian yang inovatif melalui digitalisasi pertanian, untuk meningkatkan kehidupan petani di pedesaan. Diapresiasi kontennya,” kata Kasdi dalam siaran pers.

Tetapi bagi Wayan Supadno, praktisi dan pengamat pertanian menyebut ada dua persoalan yang membuat petani Indonesia sulit maju dan berkembang yakni belum adanya jiwa wirausaha yang kuat dan profesi petani belum menjanjikan kehidupan yang makmur.

Tahukah Kamu Bahwa Ekspor Komoditas Ini di Tahun 2018 Meningkat Pesat?

Dirinya melihat dalam indeks globalnya, kemampuan berinovasi Indonesia pun masih rendah, yaitu 85 dari 131 negara. Kondisi kesejahteraan yang buruk pun membuat 0,5 juta KK petani beralih ke profesi lain setiap tahun.

“Maka satu hal yang perlu dilakukan agar petani betah dan anak muda mau bertani yakni kehidupan petani harus sejahtera,” paparnya yang dimuat Antaranews.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
AH
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini