Sejarah Stadion Menteng, Saksi Lika-liku Persija dan Sepak Bola Jakarta

Sejarah Stadion Menteng, Saksi Lika-liku Persija dan Sepak Bola Jakarta
info gambar utama

Sejarah Stadion Menteng mengandung beragam kisah tentang lika-liku persepakbolaan Jakarta. Di sana, sepak bola Jakarta khususnya Persija melalui perjalanan panjang.

Apa saja yang ada di Menteng? Kebanyakan orang mungkin akan menyebut pemukiman elite, kantor, tempat usaha, atau taman nan cantik. Namun, berapa banyak orang tahu bahwa di sana juga pernah ada stadion?

Ya, sebuah stadion pernah berdiri di Menteng. Namanya sesuai dengan daerah itu: Stadion Menteng. Pada masanya, stadion tersebut pernah riuh dengan aktivitas sepak bola. Berbagai prestasi terukir dari sana.

Kini, keriuhan itu sudah tidak bisa ditemukan lagi. Sebab, stadionnya sendiri sudah lenyap dan lokasi tempatnya dulu berdiri pun telah bersalin rupa seiring dengan pesatnya pembangunan kota Jakarta.

Selain JIS, Stadion Berstandar Internasional Juga Resmi Berdiri di Banten

Sejarah Stadion Menteng

Masyarakat Jakarta mungkin tidak asing dengan Taman Menteng. Di ruang terbuka hijau itulah tempat dulu Stadion Menteng berdiri. Lokasinya strategis karena berada di jantung kota dan berdekatan dengan sejumlah tempat penting seperti Bundaran Hotel Indonesia dan Monumen Nasional.

Sejarah Stadion Menteng bermula pada era kolonial Belanda. Wieke Dwiharti dalam buku Jakarta: Panduan Wisata Tanpa Mal menerangkan bahwa Stadion Menteng telah berdiri sejak 1921 dengan nama Stadion Voetbalbond Indische Omstreken Sport (VIOS). Pembangunannya diarsiteki dua orang dari Belanda, yakni F.J. Kubatz dan P.A.J. Moojen.

VIOS sebetulnya adalah nama klub sepak bola yang eksis di masa kolonial Belanda. Seperti diwartakan Skor.id, VIOS yang merupakan akronim dari Voorwarts Is Ons Straven merupakan klub elite di Batavia alias Jakarta pada masanya.

Memasuki era setelah kemerdekaan Indonesia, Stadion Menteng kemudian digunakan oleh Persija. Sebelumnya, Persija bermarkas di Stadion IKADA. Presiden Sukarno memberikan Stadion Menteng kepada Persija pada awal 1960-an setelah Stadion IKADA untuk dirubuhkan pembangunan Monas.

Sejak digunakan Persija, Stadion Menteng juga kerap disebut Stadion Persija. Ada banyak kenangan yang dimiliki klub berjuluk Macan Kemayoran itu di Stadion Menteng. Di sanalah Persija mengharumkan nama Jakarta di kancah sepak bola lewat koleksi gelar juara nasional.

Puncak prestasi sepak bola Jakarta yang diwakili Persija selama bermarkas di Stadion Menteng terjadi pada era 1960-an hingga 1970-an. Persija di laman resminya mencatat bahwa pada medio tersebut, sukses meraih empat gelar juara liga, yakni pada 1964, 1973, 1975, dan di 1979.

Selama berdekade-dekade, Stadion Menteng dihuni oleh Persija. Selama itu, Persija tidak selalu menggunakan Stadion Menteng untuk menggelar pertandingan resmi. Persija pernah menggunakannya hanya sebagai tempat latihan sementara stadion yang digunakan untuk pertandingan adalah Stadion Lebak Bulus.

Kenangan terhadap Stadion Menteng masih terekam di kepala sejumlah pemain yang pernah membela Persija. Salah satunya adalah Elie Aiboy yang berseragam Persija pada 2003 hingga 2005. Elie ingat bagaimana Stadion Menteng menjadi tempatnya berinteraksi dengan para suporter.

“Stadion Menteng itu sangat luar biasa. Berada di tengah pusat kota ada lapangan di situ. Saat itu Menteng juga menjadi identitas Persija. Saya masih ingat usai latihan, kita berkumpul bersama Jakmania di Menteng,” ujar Elie kepada Indosport.com.

Setelah sekian lama, Stadion Menteng akhirnya harus berpisah. Bukan hanya dengan Persija, namun juga berpisah dengan sepak bola untuk selamanya. Ini disebabkan oleh kebijakan pemerintah yang memutuskan untuk merubuhkan Stadion Menteng.

Kisah Mesra Indonesia-Rusia: Berawal dari Ideologi hingga Bangun Stadion GBK

Hilangnya Stadion Menteng

Rencana penggusuran Stadion Menteng muncul saat Jakarta berada di bawah kepemimpinan Gubernur Sutiyoso. Pemprov DKI Jakarta ingin menjadikan lahan Stadion Menteng sebagai taman dan tempat parkir. Banyak yang bersuara menentang rencana tersebut. Salah satunya adalah Persija.

Sekretaris Umum Persija, Biner Tobing, mewakili klub menyuarakan penolakan. Biner menyamakan rencana penggusuran sebagai upaya untuk menghapus fakta sejarah berhubung Stadion Menteng adalah cagar budaya.

"Stadion ini sudah jadi bagian dari bangsa Indonesia, maka tindakan Pemprov untuk menggusur tempat ini menunjukkan bahwa mereka lupa akan sejarah," kata Biner seperti dilansir Kompas.com.

"Tempat ini adalah tempat bersejarah untuk Persija karena dari sini banyak lahir pesepakbola handal yang direkrut dalam pembentukan tim nasional Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), contohnya seperti Pak D.I Mawardi," lanjutnya.

Selain soal sejarah, alasan rencana penggusuran Stadion Menteng adalah terancam terganggunya pembinaan pemain muda. Klub-klub internal Persija yang diperkuat para pemain muda memang biasa bertanding di Stadion Menteng.

“Pembinaan olahraga sepakbola, khususnya untuk pembinaan generasi muda jelas terganggu dan terancam terhenti. Padahal ada sekitar 30 klub yang mengikuti kompetisi yang termasuk di dalamnya klub dari perguruan tinggi seperti dari Universitas Indonesia (UI), Trisakti, dan Perbanas," kata Biner.

Untuk alasan pembinaan, pemerintah pusat pun turut menyesalkan rencana Pemprov DKI Jakarta. Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault, mengaku menyesalkan dan prihatin karena menggusur Stadion Menteng sama dengan mengurangi sarana dan prasarana olahraga yang ada di DKI Jakarta.

Kendati protes ramai bermunculan, Pemprov DKI Jakarta tidak mengubah pendiriannya. Stadion Menteng tetap digusur untuk dijadikan taman. Pada 26 Juli 2006, penggusuran akhirnya benar-benar terjadi. Stadion bersejarah itu rata dengan tanah.

Bekas Stadion Menteng kini telah bersaling rupa menjadi Taman Menteng. Sekilas, tidak ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa taman tersebut dulunya adalah stadion.

Saat Stadion Menteng digusur. Persija sudah berkandang di Stadion Lebak Bulus. Beberapa tahun setelahnya, Stadion Lebak Bulus juga mengalami penggusuran karena lahannya dijadikan depo kereta mass rapid transit (MRT).

Setelah dua stadion di Jakarta menghilang, Persija juga kerap diterpa masalah perihal stadion untuk menggelar pertandingan kandang. Persija kerap menggunakan Stadion Utama Gelora Bung Karno, namun tidak jarang mereka harus menggelar pertandingan di luar kota, biasanya di Solo, Jawa Tengah.

Baru akhir-akhir ini Jakarta dan Persija punya stadion baru. Pemprov DKI Jakarta membangun Jakarta International Stadium (JIS) di Jakarta Utara. Stadion canggih berkapasitas besar ini diproyeksikan untuk menggelar pertandingan sepak bola khususnya Persija serta kegiatan lain seperti konser musik dan acara keagamaan.

Apakah JIS adalah pengganti Stadion Menteng dan semua sejarahnya? Bagi kelompok suporter Persija, Jakmania, jawabannya adalah: Iya.

“Ini yang dihilangkan Pemda dan belum ada gantinya. Saya harap JIS jadi stadion pengganti dari Stadion Menteng itu,” ujar Ketua Umum Persija, Diky Soermarno, dikutip dari Idntimes.com.

Sejarah Hari Ini (24 Maret 1956) - Peresmian Stadion Siliwangi Diwarnai Kemenangan Timnas

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan A Reza lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel A Reza.

Terima kasih telah membaca sampai di sini