Cara Bersyukur Masyarakat Dayak dalam Penyelenggaran Ritual Naik Dango

Cara Bersyukur Masyarakat Dayak dalam Penyelenggaran Ritual Naik Dango
info gambar utama

Bagi masyarakat Dayak, padi dipercaya memiliki semangat atau roh. Padi begitu penting dalam kehidupan sebagai sumber makanan, sehingga diperlakukan layaknya manusia yang ditimang dan disayang dengan iringan alunan nyanyian serta peralatan musik tradisional.

Padi telah memberi penghidupan bagi manusia, termasuk bagi masyarakat Dayak, khususnya warga Dayak Kanayatn. Karena itu, mulai dari menanam, memanen, hingga menyimpan padi diatur melalui ritual adat yang disebut Naik Dango.

Ritual itu juga sebagai bentuk rasa syukur kepada Nek Jubata (Sang Pencipta) atas hasil panen. Biasanya akan ada penari yang mengantarkan padi hasil panen yang masih bertangkai ke lumbung, yang disebut oleh masyarakat setempat sebagai dango.

Tradisi Lawang Sakepeng Bermakna Pemutus Rintangan dan Malapetaka dalam Pernikahan Adat Dayak Ngaju

Dimuat dalam Tradisi Berbagi dan Bersyukur Suku Dayak terbitan Kompas, rangkaian prosesi itu disebut ngantat tangkeatn ka dango padi. Setelah tiba di dalam lumbung padi, dilanjutkan dengan ritual inti, yakni nyangahatn atau memanjatkan doa dengan mantra.

Nyangahatn dibacakan oleh seorang Pangyangahatn (orang yang memanjatkan doa). Doa yang dipanjatkan berupa syukur atas rezeki dan memanggil semangat atau roh padi agar berkumpul dalam dango serta izin menggunakan padi untuk kebutuhan sehari-hari.

Setelah selesai nyangahatn, di bawah terik sinar mentari, satu per satu perwakilan dari masing-masing daerah yang terdiri dari empat sampai tujuh orang laki-laki dan perempuan, secara bergantian menari mengantarkan sesajian dari halaman rumah menuju dango.

Hasil panen itu dibawa dalam sebuah tempat khusus, ada yang berbentuk kotak, dan ada pula yang berbentuk perahu naga yang dihias khusus dengan ukiran. Tempat itu dibawa sembari menari menuju dango. Rangkaian itu dinamakan Ngantat Panompo.

Sarana interaksi

Temanggong Binua Landak, Visentius Syaidina Lungkar menyebut dalam tradisi yang murni, Naik Dango merupakan bentuk interaksi masyarakat Dayak Kanayatn dalam kehidupan masyarakat pada suatu wilayah yang disebut kampong.

Pada mitologi Dayak Kanayatn, bila belum semua masyarakat panen, tetapi sudah ada yang melaksanakan Naik Dango, diyakini bisa memanggil semangat atau roh padi yang dimiliki salah satu warga yang belum panen.

“Hal itu membuat sial dan diyakini hasil panen pada tahun berikutnya bisa berkurang. Kalaupun bisa panen, padi yang ada di dango akan cepat habis,” tutur Syaidina.

Sementara itu pada tradisi nenek moyang Dayak Kanayatn, Naik Dango akan diawali dengan pertemuan antar penduduk di kampong sehabis panen. Hal ini dilakukan untuk memuluskan kegiatan tradisi tersebut.

Mengenal Kuntau Bangkui, Silat dari Suku Dayak Ngaju

Pertemuan akan dilaksanakan beberapa hari sebelum pelaksanaan ritual itu diselenggarakan. Setelah diputuskan hari pelaksanaannya, setiap keluarga di kampong sehari sebelumnya akan memasak beberapa makanan.

Makanan ini akan menjadi simbol hasil dari kebudayaan agraris masyarakat, antara lain beras ketan dimasak di dalam buluh (bambu berukuran besar), dan tumpi (semacam roti cucu).

Selain itu, nasi yang dibungkus harus di dalam daun layang, kemudian disediakan pula ayam yang masih hidup. Bahan-bahan itu akan dibawa ke dango bersama dengan padi hasil panen.

“Setelah ritual selesai, semua keluarga yang ada di kampung makan bersama di rumah salah satu penduduk yang biasanya ketua tani setempat. Setiap keluarga membawa menu makanan masing-masing, kemudian saling mencoba masakan satu dengan yang lainnya. Itulah tata cara pelaksanaannya yang aslinya,” kata Syaidina.

Ritual pemersatu

Hingga masa modern kini, ritual Naik Dango masih tetap dipertahankan, namun dengan kemasan acara yang berbeda dan sebagai sarana pemersatu. Meskipun demikian, hal yang berkaitan dengan substansi ritual adat yang tetap sama.

Syaidina menyebut dalam perkembangannya, ritual Naik Dango yang dulunya hanya diselenggarakan di kampong, sekarang diikuti perwakilan dari Kabupaten Landak, Mempawah, dan Kubu Raya.

Jumlahnya ada puluhan kelompok perwakilan yang beranggotakan ratusan orang. Di ketiga kabupaten itulah yang dianggap menjadi persebaran masyarakat Dayak Kanayatn. Mereka yang hadir, membawa hasil panen serta sejumlah perlengkapan ritual ini disebut kontingen.

Karungut, Lantunan Puisi Penuh Makna dari Suku Dayak Ngaju

Para penari yang mengantarkan padi ke dango pun menggunakan pakaian khas Dayak, yang ada unsur kreativitas terutama dari anak-anak muda. Corak pakaian lebih berbagai kreativitasnya.

Bahkan, pakaiannya ada yang dikolaborasikan dengan perhiasan bernuansa modern, sehingga generasi muda juga mempertahankan budaya itu, tanpa menghilangkan jati diri kebudayaan aslinya

Tak hanya itu, di dalam rangkaian ritual Naik Dango, saat ini diselingi dengan perlombaan tradisional, antara lain pangka gasing, menumbak, dan menyumpit. Selain itu, ada perlombaan nyanyi lagu-lagu tradisional serta pemilihan dara cantik dan pria tampan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini