Karungut, Lantunan Puisi Penuh Makna dari Suku Dayak Ngaju

Karungut, Lantunan Puisi Penuh Makna dari Suku Dayak Ngaju
info gambar utama

#WritingChallengeGNFI #CeritaDaerahdariKawan

Kalimantan Tengah sebagai salah satu provinsi di Indonesia menyimpan begitu banyak kekayaan alam dan budaya. Kita bisa menemukan salah satu hutan hujan tropis di sini. Sungai-sungai besar dan lebar juga mengelilingi wilayahnya. Ada pula berbagai macam flora dan fauna yang unik.

Tak kalah menarik, sebuah tempat Konservasi Orang Utan yang acap kali menjadi daya tarik wisatawan, baik lokal maupun mancanegara berada di provinsi paling tengah di Pulau Kalimantan ini.

Di balik semua keindahan alam itu, ada sebuah warisan kebudayaan yang erat dengan kehidupan Suku Dayak Ngaju. Suatu sastra lisan yang diturunkan juga dilantunkan dari satu generasi ke generasi lainnya. Kekayaan budaya ini seakan-akan menambah pesona Kalimantan, dan tentunya Indonesia di mata dunia. Kekayaan budaya ini bernama karungut.

Awal Mula Karungut

Karungut merupakan kesenian tradisional masyarakat Dayak Ngaju yang telah ada ratusan tahun yang lalu. Jika Kawan pernah mendengar orang berpantun atau bergurindam, karungut begitu mirip dengan kedua hal tersebut.

Bedanya, karungut dilantunkan dengan iringan musik dan instrumen khas Dayak Ngaju. Kata "karungut" sendiri berasal dari bahasa Sangiang dan bahasa Sangen, bahasa yang digunakan oleh masyarakat Dayak Ngaju kuno yang artinya adalah "Tembang".

https://www.flickr.com/photos/johnmawer/17188502198
info gambar

Awal mula karungut berhubungan erat dengan kendayu, yaitu tembang atau puji-pujian di dalam agama Hindu Kaharingan, kepercayaan nenek-moyang Suku Dayak. Ketika para wanita Dayak hendak menidurkan anaknya, mereka akan melantunkan kendayu dengan cara bernyanyi atau bersenandung agar anak mereka dapat tertidur dengan cepat dan pulas.

Ibarat lagu "Nina Bobo" yang begitu populer di Indonesia, kendayu adalah senandung pengantar tidur yang diandalkan oleh masyarakat Dayak Ngaju pada dahulu kala.

Kemudian, kendayu pun mulai mengalami perubahan. Tembang yang dahulu digunakan sebagai media pengantar tidur anak-anak Dayak, kini telah menjelma menjadi sebuah tembang yang digunakan untuk menyampaikan pesan kebajikan dan petuah kepada siapa pun yang mendengarnya, yaitu karungut.

Alunan Kecapi dan Lantunan Karungut

https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpnbkalbar/karungut-kesenian-kalimantan-tengah/
info gambar

Melantunkan karungut tidak akan lengkap jika tidak diiringi dengan petikan kecapi khas Dayak Ngaju. Orang yang melantunkan Karungut disebut sebagai pangarungut. Sembari pangarungut bersenandung, jari-jemarinya pun dengan lincah memetik dawai-dawai kecapi.

Bahkan, ketika karungut ditampilkan pada acara-acara adat ataupun penyambutan tamu kehormatan. Instrumen yang digunakan akan lebih lengkap, seperti gong, gendang, suling, dan tentu saja kecapi.

Apakah untuk acara besar saja? Tentu tidak. Karungut pun dapat dilantunkan sendirian. Ketika pangarungut ingin melepas penat setelah bekerja ataupun untuk menghabiskan waktu, mereka dapat melantunkan karungut dengan iringan kecapi.

Liriknya pun dapat diciptakan secara spontan selama tidak menyimpang dari aturan yang telah ada di dalam masyarakat Dayak Ngaju. Biasanya, lirik dalam Karungut memiliki pola yang mirip dengan pantun dan paling sedikit terdiri dari satu bait.

Para pelantun karungut dapat menciptakan lirik yang bercerita tentang apapun, bahkan jika lirik tersebut berbicara tentang curahan hati, cinta, nasihat, bahkan kisah seseorang yang dianggap sebagai legenda oleh masyarakat.

Maka dari itu, karungut pun terbagi menjadi beberapa bagian. Ada karungut yang melantunkan lirik tentang cinta, lalu mengajarkan tentang nasihat, dan menceritakan kembali legenda tokoh Dayak yang terkenal, dengan harapan para pendengar dapat mengambil kebaikan dari tokoh tersebut.

Karungut dan Nilai Kebaikan

https://www.cnnindonesia.com/hiburan/20170711211806-243-227203/foto-perburuan-warga-dayak-berpayung-hutan-adat
info gambar

Bagi masyarakat Dayak Ngaju, kesenian karungut tidak hanya berbicara tentang lirik yang indah dan eloknya petikan kecapi yang dimainkan pangarungut. Akan tetapi, lebih dari itu, karungut digunakan untuk mengajarkan nilai-nilai kebaikan juga kebajikan kepada pendengarnya. Suatu nilai yang berguna untuk kehidupan saat ini dan yang akan datang.

Nilai-nilai tersebut dapat kita temukan di dalam kehidupan sehari-hari. Namun, begitu jarang untuk kita lakukan. Contohnya, nilai untuk menghargai lingkungan dengan cara merawat hutan, tidak membuang sampah sembarangan, dan tidak mengotori sungai karena manusia membutuhkan alam untuk bertahan di dalam kehidupan.

Selain itu, ada juga lirik yang mengajarkan tentang kebersamaan dan saling menghormati sebagai bangsa Indonesia dengan cara menghormati setiap perbedaan dan kepercayaan yang diyakini oleh sesama anak bangsa. Mencintai budaya dan melestarikannya juga termasuk salah satu nilai kebaikan yang kerap kali disampaikan melalui Karungut, terutama bagi para pemuda-pemudi Dayak Ngaju yang hidup di tengah-tengah era globalisasi 4.0 ini.

Kesenian karungut merupakan salah satu kekayaan budaya yang perlu untuk kita lestarikan. Di balik lantunan yang indah, petikan kecapi yang memukau, ada pesan-pesan kebaikan serta kebajikan yang dapat menjadi bekal bagi pendengar untuk menghadapi kehidupan saat ini dan akan datang.*

Referensi: Kemdikbud.go.id | Genpi.id | Karungut dan Masyarakat Dayak Ngaju

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI, dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

CS
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini