Ilmuwan Temukan Bukti Amputasi Tertua pada Manusia di Gua Kalimantan

Ilmuwan Temukan Bukti Amputasi Tertua pada Manusia di Gua Kalimantan
info gambar utama

Kerjasama tim arkeolog Indonesia dan Australia kembali mengejutkan dunia internasional. Sebelumnya masyarakat dunia pernah dikejutkan dengan penemuan lukisan perburuan tertua di dunia di situs Leang Bulu Sipong 4 di Sulawesi Selatan.

Kini para peneliti berhasil menemukan kerangka yang diduga kuat merupakan bukti adanya praktek operasi amputasi di situs Liang Tebo, Kalimantan Timur. Kerangka manusia zaman batu itu diperkirakan berusia 31.000 tahun.

Fosil itu 20 ribu tahun lebih tua dibandingkan amputasi tulang yang pernah ditemukan sebelumnya di Prancis. Temuan lainnya adalah fosil manusia yang ditemukan di gua tersebut tidak meninggal setelah menjalankan operasi, malah bertahan hidup selama 10 tahun.

Temuan ini awalnya dianggap sebagai temuan biasa, namun setelah diteliti, kerangka yang ditemukan pada tahun 2020 ini menyimpan rahasia yang mampu mengubah pengetahuan manusia mengenai medis.

Petirtaan Ngawonggo dan Tradisi Warga Melestarikan Situs agar Bermanfaat Ekonomi

Temuan ini juga dinilai sangat penting karena menggambarkan bahwa manusia Asia, pada kurun waktu tersebut telah bisa melakukan praktek pengobatan rumit terkait operasi bagian tubuh yang diklaim baru ditemukan pada zaman modern.

“Keberadaan masyarakat agrikultur yang tidak lagi nomaden tetap memunculkan penyakit-penyakit baru. Ini memicu inovasi besar dalam praktik kedokteran purba. Salah satunya adalah perkembangan praktik operasi pada bagian tubuh,” ujar Tim Maloney ketika konferensi pers untuk mengungkapkan penemuan ini pada Kamis (8/9/2022).

Situs Liang Tebo merupakan kawasan pegunungan karst. Selain temuan kerangka yang diduga kuat diamputasi, arkeolog juga menemukan lukisan gua. Kerangka yang ditemukan diberi kode TB1, memiliki kaki yang tidak lengkap.

Dalam foto ditunjukan, bagian kaki kiri, di bawah lutut sudah tidak ada. Menurut peneliti, di saat manusia itu berumur sekitar 19 atau 21 tahun, bagian bawah kaki kirinya diamputasi dengan hati-hati.

“Temuan amputasi kaki kiri ini mengejutkan. Ini berarti pada masa itu di Asia, manusia modern yang hidup di daerah tropis sudah memiliki dan mengembangkan pengetahuan medis yang rumit, jauh sebelum temuan di Eropa.”

Kalahkan Eropa?

Maxime Aubert, profesor dari Pusat Penelitian Sosial dan Budaya Universitas Griffith Queensland mengatakan temuan ini sangat penting karena mendorong pengetahuan manusia tentang operasi dan pengobatan kompleks.

Karena penemuan ini juga membantah keyakinan ilmuwan bahwa manusia purba dahulu tidak memiliki keahlian untuk melakukan prosedur sulit. Diketahui di dunia Barat amputasi baru menjadi hal biasa sekitar 100 tahun lalu sebab resikonya sangat besar, yakni kematian.

“Kehilangan darah, syok, dan infeksi berikutnya adalah sumber utama amputasi yang berakibat fatal hingga baru-baru ini dalam sejarah manusia,” papar Tim Maloney.

Tetapi dengan adanya temuan ini telah menunjukan adanya kemajuan medis pada manusia zaman itu, sebab tidak ditemukannya jejak infeksi pada tulang kerangka dan juga pertumbuhan tulang baru di area yang diamputasi.

Menguak Tabir Peradaban Masa Lalu dari Candi Buddha Terbesar di Jawa Timur

Menurut penelitian, manusia itu diamputasi oleh seorang yang ahli menggunakan pisau bedah batu, memiliki pengetahuan rinci tentang anatomi, sistem otot, pembuluh darah dan saraf untuk mencegah kehilangan darah yang fatal atau infeksi

“Saya pikir yang paling menakjubkan ini adalah bukti nyata, arkeologis langsung, bukti nyata untuk tingkat kepedulian masyarakat yang sangat tinggi,” ucapnya.

Hal yang menarik bagi Maloney adalah kemampuan anak itu untuk bertahan hidup sampai menjelang dewasa, menunjukan adanya perawatan setelah operasi serta dukungan lainnya untuk bisa hidup di daerah pegunungan tersebut.

Baginya orang tersebut sangat dihargai di komunitasnya. Karena, jelas Maloney sangat kecil kemungkinan dia akan tetap bertahan hidup, bila tanpa adanya perawatan yang bagus dari komunitasnya.

Lebih banyak yang terungkap

Selain di Liang Tebo, pada waktu bersamaan di Eropa, juga ada bukti tindakan amputasi jari tangan namun dengan alasan yang berbeda. Penemuan ini ditemukan di kawasan selatan Polandia bernama Oblazowa yang berupa jari tangan tanpa potongan tubuh lain.

“Ini sudah diduga oleh mereka yang menemukan sebagai bukti adanya jari tangan yang diamputasi,” ucap Andy Herries dari University di Melbourne.

Tetapi jelasnya, amputasi yang dilakukan di Polandia kemungkinan untuk alasan simbolis. Hal ini berbeda dengan yang terjadi di Liang Tebo yang tampaknya tindakan untuk menyelamatkan hidup seseorang.

Upaya Puslit Arkenas Terbitkan Penelitian Arkeologi Menjadi Bacaan Populer

Dr Joannes-Boyau menyebut peneliti masih akan terus mendalami penemuan fosil tersebut untuk menentukan pasti beberapa usianya ketika orang tersebut diamputasi, dengan melakukan penelitian lebih mendalam terhadap giginya.

Profesor Maxime Aubert dari Griffith University yang memimpin tim arkeolog juga akan terus melakukan penggalian di Liang Tebo dan berharap menemukan temuan bersejarah baru sehingga bisa menjawab peradaban yang terjadi di masa silam.

“Kami akan melakukan lebih banyak penggalian juga lebih dalam ke dasar gua, dan lebih luas juga, kami berharap akan menemukan banyak hal baru,” kata Profesor Aubert.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini