Upaya Puslit Arkenas Terbitkan Penelitian Arkeologi Menjadi Bacaan Populer

Upaya Puslit Arkenas Terbitkan Penelitian Arkeologi Menjadi Bacaan Populer
info gambar utama

Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas) menerbitkan sejumlah buku hasil penelitian para tim peneliti. Penerbitan buku ini diharapkan bisa menjembatani arkeologi dengan masyarakat awam

Apalagi dengan perkembangan ilmu pengetahuan membuat hasil penelitian arkeologi tidak lagi berorientasi ke masa lalu saja, tetapi juga isu masa kini. Karena itu, temuan penelitian arkeologi perlu menjadi bacaan populer untuk publik.

Hal inilah yang menjadi pembahasan dalam penerbitan buku hasil Puslit Arkenas secara daring, Selasa (21/12/2021). Ada tiga buku yang didiskusikan pada kegiatan ini, yaitu Cerita dari Flores: Liang Bua dari Manusia Purba Hingga Manusia Modern,Grogol: Kampung Majapahit yang Sirna, serta Meretas Kearifan Lokal di dalam Kancah Modernisasi.

Menjelajahi Situs Danau Matano Melalui Tur Virtual Bawah Air Pertama di Indonesia

"Terbitan ini perdana ini merupakan inovasi dalam program Puslit Arkenas yaitu hilirisasi dari riset untuk menjadi bagian solusi pembangunan nasional," ucap Kepala Pusat Penelitian Arkeologi Nasional, Dr I Made Geria.

Sementara itu Bambang Sulistyanto, editor buku terbitan Puslit Arkenas menyampaikan bahwa penerbitan ini bertujuan untuk menghimpun makalah-makalah yang ada di Puslit Arkenas. Walau begitu dalam prosesnya ternyata membutuhkan banyak tenaga dan pikiran.

Karena itulah dirinya berharap, penerbitan buku dari Puslit Arkenas ini bisa didukung oleh semua pihak. Apalagi proses dari tidak serta merta muncul namun berjalan melalui perkembangan waktu.

Liang Bua dan kisah Mamah Flo

Pada 2001 sejumlah pakar antropolog Australia dan Indonesia menemukan fosil Homo Floresiensis yang memiliki tubuh mini serupa Hobbit di Flores. Para peneliti lalu menjuluki kerangka manusia purba ini sebagai hobbit.

Managing Editor National Geographic Indonesia Mahandis Yoanata Thamrin mengaku lebih menyukai menyebut kerangka ini dengan nama Mama Flo. Mama Flo dianggapnya merupakan "cinta pertama" karena menjadi tajuk pertama kala versi National Geographic bahasa Indonesia terbit pada 2005.

Di sini dirinya memaparkan sebuah buku bertajuk Cerita dari Flores: Liang Bua, dari Manusia Purba hingga Manusia Modern karya Jatmiko, peneliti utama Puslit Arkenas.

Nata, panggilan akrabnya menyebut Jatmiko sebagai seorang yang sangat kompeten untuk menulis mengenai Liang Bua. Pasalnya peneliti dari Puslit Arkenas ini telah melalukan penelitian sejak tahun 1980.

Mengungkap Peradaban Pandai Besi Tertua yang Tenggelam di Danau Matano

Hal yang menarik baginya adalah kisah Mama Flo ini ditampilkan dengan gaya yang populer. Seperti menggambarkan wilayah flores dengan istilah Jurassic in Flores yang bisa menarik pembaca anak-anak muda.

Bagi Nata, buku ini juga memaparkan kondisi terkini ada yang di Liang Bua, seperti toponimi, karst yang subur karena dikelilingi dua sungai. Setelah membaca buku ini diharapkan pembaca bisa menggambarkan kondisi terkini yang ada di situs tersebut.

Buku ini tidak hanya kuat secara narasi, banyaknya visual yang dihadirkan akan sangat mempermudah para pembaca. Termasuk mengimajinasikan kondisi Liang Bua pada masa lampu, termasuk keseharian masyarakat gua saat itu.

"Buku ini sangat menarik untuk paparan kepada publik sehingga bisa mengetahui tahapan penelitian dan aspek arkeologi apa yang diteliti. sehingga arekologi mampu menjembatani sains kepada publik," paparnya.

Kampung Majapahit yang dilupakan

Situs sejarah tidak hanya mengenalkan bahwa wilayah tersebut telah memiliki peradaban, tetapi juga sebagai penujuk arah untuk peradaban masa depan. Namun beberapa situs sejarah malah hilang, tertimbun kepentingan pembangunan.

Kondisi inilah yang ditampilkan dalam buku Grogol: Kampung Majapahit yang Sirna. Dalam buku ini ditulis sebuah cerita tentang kampung masyarakat Majapahit yang ditinggalkan dan hanya menyisakan situs bersejarah.

Sejarawan Universitas Indonesia (UI), Bondan Kanumoyoso juga merasakan hal yang sama dengan para penulis buku tersebut. Dirinya melihat banyak tempat bersejarah, tidak hanya di desa tetapi di kota besar yang mulai hilang karena pembangunan.

"Tidak hanya yang ratusan tahun, tempat bersejarah yang usianya baru puluhan tahun pada masa kolonial banyak dihancurkan. Buku ini banyak menyuarakan kekhawatiran kita semua terutama para akademisi," jelasnya.

Buku ini merupakan hasil penelitian selama dua tahun yang dilakukan oleh Puslit Arkenas. Hal inilah yang menjadikan buku tersebut memiliki data yang cukup lengkap mengenai situs Kampung Grogol.

Tak Hanya Bangunan Fisik, Ibu Kota Negara Baru Perlu Bangun Peradaban

Situs Grogol sendiri ditemukan secara tidak sengaja oleh seorang warga, lalu melaporkan kepada pihak Puslit Arkenas. Bagi Bondan ini menunjukkan masih minimnya peran pemerintah setempat dalam pelestarian situs Sejarah.

Padahal bagi Bondan, Situs Grogol ini sangat penting karena merekam perjalanan sebuah kampung yang bahkan sudah ada sebelum masa Majapahit. Bahkan penulis menyakini kampung ini telah ditinggali selama lima abad mulai dari abad 10 sampai 15 Masehi.

Selain itu juga dijelaskan mengenai kearifan lokal masyarakat, seperti pemamfaatan air sungai. Hal ini cukup menarik karena daerah ini ternyata memiliki eksosistem yang baik sehingga masyarakat bisa memamfaatkan sumber daya alam yang tidak terbatas.

"Bedasarkan temuan arkeologi yang sangat kaya, buku ini dengan jelas menggambarkan arti penting Grogol sebagai tempat pemukiman penting yang terletak di dekat pusat Majapahit," terangnya.

Kearifan lokal yang meretas modernisasi

Kearifan lokal dipercayai sebagai kekayaan yang bernilai bagi komunitas sehingga terus diwariskan turun temurun. Namun, proses perwarisan ini sering mendapat tantangan dari modernisasi.

Melihat dikotomi ini, para peneliti Puslit Arkenas mencoba untuk menjembatani antara upaya pelestarian kearifan lokal dengan modernisasi. Hal inilah yang tersaji dalam buku Meretas Kearifan Lokal di dalam Kancah Modernisasi.

Dekan FISIP UI, Semiarto Aji Purwanto melihat semangat tersebut setelah membaca buku tersebut. Bagi Aji, panggilan akrabnya, kearifan lokal seharusnya bisa melewati batas sehingga memiliki tempat dalam suasana modernisasi.

Dirinya sebagai seorang antropolog juga menilai banyaknya kelestarian lokal yang sering dibenturkan dengan masalah otentisitas. Padahal kelestarian lokal sebenarnya juga berasal dari beragam budaya yang diserap oleh budaya setempat.

"Di masa kini melihat kearifan lokal ada rasa sayang. Tetapi pertanyaanya mana yang dilestarikan? bagaimana caranya? Apakah benar kalau melestarikan ini menguliti supaya menemukan otentisitas agar tidak berubah," bebernya.

Menurutnya sebuah pelestarian kearifan lokal, tidak hanya berfokus pada dokumentasi namun juga menyangkut adaptasi terhadap perkembangan zaman. Jangan sampai, jelas Aji, kearifan lokal ini hanya direkam saja tetapi ternyata sudah tidak dipraktekan oleh masyarakat.

Jejak Peradaban Masa Lampau di Sekitar Wilayah Ibu Kota Negara Baru

"Mana yang lebih penting komunitas ini berlanjut dengan menjalankan kearifan baru, atau kearifan global sehingga bisa survive. Atau sebuah komunitas tetap menjalankan tradisi, tetapi tidak bisa mengikuti ritme malah menjadi marginal?" Tanyanya.

Bagi seorang antropolog, Aji melihat proses pelestarian kearian lokal bukan pada sisi baik atau buruk, namun juga segi adaptasi. Karena itu, banyak catatannya mengenai kearifan lokal yang kini telah ditinggalkan.

Dirinya mencontohkan dari buku tersebut seperti kearifan lokal pemilahan bahan batuan situs Noelbaki di Nusa Tenggara Timur yang kini telah ditinggalkan. Sehingga upaya menjaga kearifan lokal hanya berhenti pada dokumentasi semata.

Tetapi hal ini tidak terjadi di Bali, seperti pengelolaan air di Bali Timur, menurut Aji masyarakat sekitar masih menjaga kearifan lokal ini. Bahkan niscaya bila kearifan lokal ini ditinggalkan akan berdampak buruk kepada masyarakat.

Melihat dua contoh dari buku ini, Aji pun menyampaikan bahwa tantangan menjaga kearifan lokal tidak hanya dalam upaya mendokumentasikan, tetapi juga melakukan refleksi mengenai fungsi dari kearifan lokal ini kepada masyarakat.

Apalagi dengan pesatnya globalisasi, sehingga paparan budaya modern sangat mustahil untuk dicegah. Apalagi bila kearifan lokal ini berhasil pada masa lampau, belum tentu juga akan menjamin pada masa kini.

Selain itu, dirinya juga menyoroti kearifan lokal yang merupakan milik komunitas, terkadang malah "direbut" oleh negara untuk kepentingan pariwisata. Sementara itu, Aji berharap dari buku ini, perbedaan antara kearifan lokal dengan modernisasi bisa dijembatani dengan baik.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini