Tak Hanya Bangunan Fisik, Ibu Kota Negara Baru Perlu Bangun Peradaban

Tak Hanya Bangunan Fisik, Ibu Kota Negara Baru Perlu Bangun Peradaban
info gambar utama

Proyek pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) baru di Kalimantan Timur (Kaltim) tetap akan berjalan pada tahun depan. Berlanjutnya perencanaan ini terlihat dalam dokumen Rencana Kerja Pemerintah (RKP) tahun 2022.

Pemerintah telah menyiapkan alokasi anggaran hingga Rp510 miliar untuk tahap pembangunan IKN. Bedasarkan Undang-Undang Ibu Kota Negara (RUU IKN) Pasal 3, pemindahan IKN dari DKI Jakarta akan terlaksana pada Semester I 2024.

Melihat hal ini membuat Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Arkenas) melakukan riset untuk melihat kondisi masyarakat dan budaya di sekitar wilayah IKN. Riset ini dilakukan untuk memberikan rekomendasi terhadap nilai penting dan pelestarian aset sejarah serta kekayaan budaya bangsa.

Kepala Pusat Penelitian Arkenas, I Made Geria, menegaskan bahwa pembangunan IKN tetap harus berpegang pada kepentingan konservasi alam dan budaya. Jelasnya proses pembangunan IKN jangan hanya berfokus pada fisik bangunan saja, tetapi juga peradabannya.

"Membangun peradaban tentunya melihat Kalimantan itu bukan tanah kosong, tetapi sudah ada sebelumnya aktivitas masyarakat di situ yang mewariskan alam pikir," ucapnya dalam webinar bertajuk Rona Awal Peradaban di Ibu Kota Negara, Senin (1/11/2021).

Karena itulah menjadi penting bagi Arkenas untuk terlibat memberikan solusi kepada pemerintah agar pembangunan IKN berjalan secara baik. Hal inilah yang coba dilihat dalam riset lapangan selama empat tahun terhitung sejak 2020 silam.

"Bicara peradaban, tentu ada aspek penting yang harus kita telusuri di situ. Ada elemen penting yang antara lain ada migrasi manusia, kemudian organisasi dan regulasi, termasuk juga peradaban yang berkelanjutan." jelas pria lulusan Master Lingkungan Hidup, Universitas Udayana ini.

Melihat dari aspek migrasi, Kalimantan telah banyak bersentuhan dengan beragam masyarakat. Kondisi ini bisa terlihat dari keberagaman masyarakat itu sendiri baik dari lokal hingga para pendatang yang mampu berbaur.

Proyek-Proyek yang Jalan Terus di Tengah Pandemi Covid-19

Hal ini bahkan telah terintegrasi sejak lama sebelum berdirinya republik. Cita-cita yang terus diwariskan oleh para leluhur hingga sekarang masih terjaga.

Made menyinggung tentang semangat persatuan yang digaungkan oleh Kerajaan Singosari dengan istilah Dipantara dan juga Nusantara yang muncul pada masa Majapahit. Selain itu, semangat toleransi yang menurutnya telah ada sejak zaman dahulu.

Karena itu, Arkenas mengaku memiliki kepentingan untuk mewariskan budaya tersebut sehingga tidak hilang karena kepentingan pembangunan. Bukan hanya terkait budaya, tetapi juga lingkungan serta masyarakat sekitar yang bisa saja terancam.

Apalagi Made mengenal Kalimantan sebagai daerah dengan sumber daya alam dan budaya yang sangat kaya. Hal ini terlihat dari masyarakat lokal seperti Dayak yang telah ratusan tahun menjaga hutan-hutan Kalimantan sebagai paru-paru dunia.

"Tentunya memaksimalkan aset kapital di sekitar situ untuk mensejahterakan masyarakat. Kemudian menguatkan masyarakat untuk mencintai dan membangkitkan kreativitas dalam kegiatan mendukung kota," pungkasnya.

Kalimantan bukanlah ruang hampa

Hal senada diungkapkan oleh Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko, yang menyatakan bahwa Kalimantan bukanlah ruang hampa. Karena itulah pemetaan, khususnya di wilayah IKN yang akan dibangun, menjadi sangat penting.

Dirinya berharap penelitian ini dapat memberi mamfaat kepada anak cucu Indonesia pada masa yang akan datang. Apalagi riset ini masih akan dilakukan selama dua tahun lagi sehingga menjadi kesempatan emas sebelum pembangunan IKN berjalan.

"Kita sudah tahu disana ada banyak (peradaban) hal. Riset ini harus secepatnya, mumpung ada waktu sebelum ada proses fisik di sana. Agar secepatnya bisa memetakan, sehingga kita mampu memberi rekomendasi," papar pria kelahiran Malang, Jawa Timur (Jatim) ini.

Handoko menyebut bahwa rekomendasi ini tidak hanya terkait arkeologi tetapi juga masalah lingkungan. Baginya hasil riset dari Arkenas ini sangat penting untuk memberikan solusi dan menjadi jalan tengah dalam proses pembangunan.

Baginya hal ini sebagai upaya agar lingkungan yang ada tetap bisa terwariskan pada generasi selanjutnya. Lalu pembangunan tidak hanya berorentasi kepada masa kini, tapi juga memberi mamfaat untuk masa depan

Ternyata, Bandung pun Pernah Jadi Ibukota Negeri ini

Sementara itu Ketua Tim Arkeologi Arkenas, Harry Truman Simanjuntak, juga melihat bahwa upaya pembangunan IKN haruslah melihat beberapa aspek seperti geografi, demografi, dan budaya yang ada di sana.

Menurutnya, dengan pembangunan gedung beserta sarana dan prasarana serta datangnya penduduk baru dari luar daerah akan berpengaruh kepada kondisi sosial dan budaya di Kalimantan.

"Akan terjadi perubahan besar, di mana para pendatang membawa budayanya dengan latar belakang keberagaman. Itu juga akan memperkenalkan budaya keragaman di wilayah IKN itu," kata pria yang pernah meraih penghargaan Sarwono Award dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

Truman juga meminta pembangunan IKN perlu memperhatikan keseimbangan ekosistem, terutama mempertahankan peradaban lokal. Jangan sampai, ucapnya, pembangunan ini malah menghilangkan peradaban Indonesia, khususnya Kalimantan.

Bahkan baginya hal ini bisa dimamfaatkan untuk menggali potensi budaya dan peradaban masa silam yang ada di sekitar wilayah IKN. Karena ternyata dari hasil riset Arkenas banyak menemukan peradaban lokal yang masih bertahan di tengah-tengah laju modernitas.

Kerena itu, Truman merekomendasikan agar IKN yang berkonsep modern tetap memiliki jiwa ke-Indonesia-an. Terutama harus dekat dengan wilayah sekitar IKN tersebut.

"Menurut perancangnya istilahnya Nagara Rimba Nusa. Tentu ini berarti kota rimba Nusantara yang modern dan juga berkeindonesiaan," pungkasnya.

Ibu kota yang ramah lingkungan dan budaya

Sementara Direktur Jenderal Cipta Karya Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Diana Kusumastuti, menekankan pembangunan IKN yang dilakukan secara bertahap ini tidak hanya ramah kepada lingkungan namun juga budaya.

Karena itu dalam visi IKN akan terdapat tiga hal yaitu menceriminkan identitas bangsa, lalu menjamin keberlanjutan sosial ekonomi hingga mewujudukan kota modern dan harus berstandar international.

Menurutnya IKN terap akan menjadi kota yang akan mengandalkan kemajuan dalam teknologi dan juga komunikasi. Walau begitu, pada ruang kotanya tetap akan menonjolkan sisi tradisi wilayah sekitar.

Karena itulah, Diana menyebut bahwa pembangunan IKN harus mengacu kepada prinsip smart city. Sehingga penduduknya baik yang tinggal maupun bekerja bisa melakukan kegiatan secara sistematis dan efisien.

"Bagaimana transformasi bermukim ini menjadi ciri di IKN. Efisien dan menciptakan hunian yang inklusif seperti falsafah bangsa Indonesia saat ini," jelas wanita lulusan Magister Studi Pembangunan Institut Teknologi Bandung (ITB) ini.

Selain itu dia menyatakan IKN akan ramah dengan perkembangan teknologi. Hal ini tidak hanya diterapkan kepada sistem bekerja, namun juga transportasi publik.

Aceh Pernah Menjadi Ibu Kota Indonesia

"Mobilisasi di IKN mengandalkan transportasi publik. Harus menciptakan iklim yang kondisif untuk pejalan kaki. Mengadaptasi smart transportation dan autonomous sistem." ungkapnya.

Tetapi seperti disinggung oleh pembicaraan sebelumnya, pemerintah juga tidak akan melupakan konservasi lingkungan. Sehingga peradaban IKN nantinya akan bersama-sama tumbuh dengan lingkungan Kalimantan yang penuh dengan hutan.

Hal ini dilakukan dalam berbagai proyek seperti meningkatkan biota alami, lalu adanya International Center Tropical Forestry, salah satunya tujuannya adalah penanaman kembali tanaman khas Kalimantan yang sudah hilang.

"Supaya kita merasakan hidup pada zaman dahulu di hutan. Istilahnya Smart Forest City." pungkas Diana.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
MI
Tim Editor arrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini