Menguak Tabir Peradaban Masa Lalu dari Candi Buddha Terbesar di Jawa Timur

Menguak Tabir Peradaban Masa Lalu dari Candi Buddha Terbesar di Jawa Timur
info gambar utama

Situs Adan-adan merupakan salah satu situs arkeologi yang terletak di Desa Adan-adan, Kecamatan Gurah, Kabupaten Kediri Jawa Timur (Jatim). Di sini ditemukan benda bersejarah era peninggalan Kediri dan Singosari.

Beberapa temuan seperti batuan pondasi candi, makara, sistem petirtaan (pengairan) berupa (diduga) embung, pecahan keramik dan beberapa patung (arca). Kuat dugaan, situs ini tertimbun lapisan abu vulkanik setebal 11 lapisan dari letusan Gunung Kelud.

Hal ini berdasarkan temuan situs yang berada di sekitar pemukiman penduduk yang juga berdekatan dengan kawasan Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Serinjing yang menjadi daerah aliran lahar dingin Gunung Kelud.

Tim yang bertanggung jawab atas temuan situs ini adalah Tim Pusat Penelitian Arkeologi Nasional (Puslit Arkenas). Tim menemukan struktur bangunan candi dari bahan batu dan bata dengan sudut berukuran 8 x 8 meter.

Menurut penelitian tim tersebut, situs ini dibangun sebelum abad ke 11 Masehi, hal ini karena wilayah Kediri dan sekitarnya memang sudah menjadi pusat kebudayaan sejak era Mpu Sindok pada abad ke 9 Masehi.

Candi Panataran Masa Akhir Majapahit, Bertahan Tanpa Bantuan Penguasa

“Awalnya kami berpikir bahwa ini berasal dari periode awal abad ke 11, ternyata ada kemungkinan di lapisan terakhir yang dibuka masih ada potensi lapisan budaya lagi,” kata arkeolog Ismail Luthfi yang disadur dari Tirto.

Meskipun demikian, Luthfi mengatakan umur pasti dari benda-benda purba di situs Adan-adan baru bisa dipastikan setelah tes laboratorium keluar. Namun, dari gaya seni merujuk dari zaman sebelum Majapahit bahkan Singasari.

Dari sisi peninggalan, Luthfi menyimpulkan bahwa situs Adan-adan sebagai sebuah bangunan candi. Ada beberapa faktor dan temuan yang mendukung kesimpulan ini, seperti adanya makara.

Makara, kata Luthfi, biasanya perpaduan dengan kala. Namanya kala makara. Kalanya biasanya terdapat di atas, sedangkan makaranya ada di bawah. Di situs Adan-adan, tim arkeolog mengaku mendapatkan pasangannya walau sudah tidak bersatu.

Kemudian temuan dua kepala kala, meskipun pada umumnya empat buah, sudah dapat disimpulkan bahwa bangunan situs ini berdinding. Terdapat ambang pintu, dan di bagian atas terdapat kala. Karena itu, bila direkonstruksi, kemungkinan ada sebuah bangunan ruang berdinding empat.

Seperti diketahui, keistimewaan dari temuan tim Puslit Arkenas dalam ekskavasi tahap kedua di Situs Adan-adan ini adalah adanya arca Dwarapala dengan postur besar berposisi berdiri. Selain itu, ukuran makara yang sangat besar, apalagi pola ukiran khas.

Pemukiman kuno

Situs Adan-adan sudah tercatat dalam laporan Belanda yang memberitakan adanya gundukan candi berbentuk bata, dan beberapa komponen bangunan candi dari batu andesit berupa makara, kepala kara, arca dwarapala, dan lain-lain.

Arkeolog era kolonial Belanda, J Knebel memberitakan bahwa pada tahun 1908 di halaman kantor Kabupaten Kediri terdapat artefak yang berasal dari berbagai tempat di Kediri. Selanjutnya dikatakan bahwa terdapat arca Dwarapala yang berasal dari Candi Adan-adan.

Dari penelitian yang sudah dilakukan selama empat tahap (2016, 2017, 2018, dan 2019) dapat dirangkum bahwa Candi Adan-adan merupakan bangunan candi yang terbuat dari dua bahan yakni batu dan bata.

Struktur candi bagian luar menggunakan batu sedangkan batu isiannya menggunakan bata. Sedangkan teknologi pembangunan seperti ini juga ditemukan pada Candi Surowono dan Candi Tegowangi, kedua candi ini dari periode Majapahit ini berada di Kediri.

Ketua Tim Puslit Arkenas Sukawati Susetyo mengatakan, denah candi akhirnya juga terkuak, yakni berbentuk bujur sangkar dan menghadap ke barat laut dengan penampil di depannya. Tim memperkirakan luas candi ini mencapai 625 meter persegi.

“Tahun ini sebenarnya kami ingin mencari pagar sisi selatan. Saat kami ambil jarak 10-15 meter, kok, tidak ketemu, akhirnya kami dekatkan ke struktur sebelumnya. Begitu dibuka kami menemukan gentong,” katanya yang dilansir dari Kompas.

Jalan-jalan Ke Jawa Timur yuk!

Dirinya memperkirakan bahwa gentong yang ditemukan dalam posisi berjajar ini berasal dari abad ke 14. Dengan tidak mengabaikan temuan yang lain, seperti keramik, pihaknya memperkirakan bahwa dahulunya di tempat ini merupakan sebuah permukiman.

Soal permukiman ini juga didasarkan pada penelitian pada tahap sebelumnya. Karena ketika tahun 2018, tim Puslit Arkenas menemukan struktur bata, keramik, genteng, batu gacuk (engklek mainan anak), dan fragmen tulang.

Sedangkan pada ekskavasi 2019, tim juga berhasil menemukan kepala arca Bodhisatwa lapik arca sebatas kaki, dan arca Dhyani Buddha Amitabha. Kepala arca Bodhisatwa relatif utuh, sedangkan yang lain ditemukan fragmen dan kondisinya tidak utuh.

Hasil ekskavasi ini makin memperkuat kesimpulan sebelumnya tentang latar belakang Situs Adan-adan sebagai candi Buddha Mahayana. Selain itu Sukawati menjelaskan, di Jatim terdapat beberapa candi Buddha, tetapi ukurannya relatif tidak sebesar Adan-adan.

“Adan-adan istimewa karena makaranya juga tinggi sekali 2,3 meter. Ini makaranya tertinggi di Indonesia. Arca Dwarapala juga di kanan makara. Selama ini Dwarapala menjaga bangunan candi, dia berada di luar pagar keliling, tetapi dia di kanan,” ucapnya.

Penelitian yang terus dilanjutkan

Sejarawan Universitas Negeri Malang, M Dwi Cahyono menyebut keberadaan benda cagar budaya di kawasan ini tidak terlepas dari masa lalu di wilayah timur Kediri. Sebagaimana diketahui, wilayah timur Sungai Brantas merupakan kawasan agraris yang subur oleh material vulkanik.

Gurah dan sekitarnya dari sisi kesejarahan, merupakan wilayah penting di lereng Kelud. Tinggalan benda arkeologinya kaya, mulai dari daerah Katang, Gurah, sampai ke Pare, Kepung dan, Kandangan, meski sejauh ini yang ditemukan belum sebesar potensi yang ada.

“Kesusastraan dari era Kediri kaya, tetapi kenapa, kok jejak arsitekturnya ‘miskin’? Mestinya seimbang. Di benak saya waktu itu, mestinya Kediri timur banyak temuan, Rupaya paparan material vulkanik Kelud yang menimbun mereka,” katanya.

Dwi menyebut di kawasan ini dahulunya ada tiga wilayah pusat vasal (bawahan kerajaan Majapahit), yakni Keling, Daha, dan Paguhan (Pagu), sehingga daerahnya kental dengan aktivitas sosial dan budaya.

Namun menurut Dwi, aktivitas ini tidak hanya pada satu masa saja, tetapi juga mulai dari Kediri, Singosari, Majapahit, bahkan beberapa dari masa Mataram Kuno. Sementara itu, terkait masalah pemujaan, Dwi menyatakan akulturasi telah ada sejak lama di Kediri.

“Dalam mitos Calon Arang, misalnya, bagaimana Calon Arang yang memuja Durga, pasangan Siwa, berhadapan dengan Mpu Baradah yang Buddha Mahayana. Kemungkinan komunitas Buddhis di Adan-adan ini juga berkontribusi terhadap Raden Wijaya ketika dia mengalahkan Jayakatwang untuk mendirikan Majapahit (1293 M),” tutur Dwi.

Candi-candi Tertinggi di Bumi Pertiwi

Lima tahun terakhir, Adan-adan telah melalui serangkaian penelitian. Tahap demi tahap misteri yang terpendam di dalamnya pun kian terbuka dan menambah literasi tentang masa lalu di Bumi Kediri.

Pada 2021, merupakan penelitian tahun ke 5 dari awal kegiatan yang dilakukan sejak 2016, 2017, 2018, dan 2019. Memang sejak ekskavasi dilakukan pada 2016, sejumlah artefak telah ditemukan di Adan-adan, mulai dari arca hingga struktur candi.

Ekskavasi Situs Adan-adan di Kabupaten Kediri menjadi bagian dari upaya menguak tabir masa lalu tentang keberadaan candi Buddha yang diperkirakan tersebar di Jawa Timur (Jatim). Salah satu peradaban masa silam yang telah menemukan titik terang.

Kegiatan di Situs Candi Adan-adan ini masih mengambil tema Penelitian Arkeologi Situs Candi Adan-adan Tahap ke-5 (Tinjauan Arsitektur, Religi dan Kronologi). Penelitian berlangsung pada 3 Juni sampai dengan 16 Juni. Tim peneliti terdiri dari 11 orang yang diketuai Sukawati Susetya.

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, penelitian kelima ini dilakukan secara diam-diam dengan alasan untuk menghindari kerumunan masyarakat karena masih dalam situasi pandemi Covid 19.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri Adi Suwignyo mengatakan pihaknya menunggu hasil rekomendasi dalam penelitian berikutnya pada 2022. Hasil rekomendasi itu akan menjadi pijakan tentang langkah selanjutnya yang akan dilakukan oleh pemerintah daerah.

“Tahun 2022 rencananya ada penelitian lagi. Harapannya muncul rekomendasi dari pihak peneliti sehingga kita bisa mencoba mengatur strategi mau diapakan situs ini? Apakah semua artefak akan dimunculkan,” katanya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini