Jejak Daluang, Kertas Tradisional Media Tulis Kuno Warisan Budaya Indonesia

Jejak Daluang, Kertas Tradisional Media Tulis Kuno Warisan Budaya Indonesia
info gambar utama

Selama ini, umumnya dalam tulis-menulis digunakan media berupa kertas yang diketahui berbahan dasar serat olahan kayu dalam industri pulp and paper. Tapi tak banyak yang tahu, jika di balik keberadaan kertas modern saat ini, terdapat kertas tradisional Indonesia yang memiliki nilai budaya, yakni Daluang.

Kertas daluang terbilang menarik, karena sempat dinyatakan punah lantaran nyaris tidak pernah ditemukan lagi pembuatan dan penggunaannya. Padahal saking penting dan bernilai, daluang sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia (WBTBI).

Pencatatan daluang sebagai WBTBI di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan disahkan pada tanggal 8 Oktober 2014, dengan SK Mendikbud Nomor 270/P/2014.

Seperti apa keunikan daluang dan mengapa jenis kertas satu ini begitu istimewa?

Ketika Kertas Karbon Masuk ke Ruang Kreasi Seni

Mengenal daluang

Kertas daluang | Kemkdikbud.go.id
info gambar

Dahulu, daluang menjadi kebutuhan sandang serta media alat tulis masyarakat di Indonesia. Karena selain sebagai media tulis, alat ini juga digunakan untuk berbagai keperluan seperti bahan pakaian, pelapis, serta bahan tas.

Dasar dari daluang sendiri berasal dari sebuah tanaman/pohon yang memiliki banyak nama. Namun jika menilik nama latinnya, pohon yang dimaksud adalah Broussonetia papyrifera.

Di Indonesia khususnya wilayah Sunda, tanaman tersebut dikenal dengan nama pohon saeh, namun secara global tanaman ini dikenal dengan nama mulberry. Nama itu yang membuat daluang terkadang dikenal juga dengan sebutan paper mulberry.

Sementara itu di bagian Indonesia lain, tanaman ini dikenal juga dengan nama sepukau, dlubang di Madura, kembala di Sumba, dan malak di wilayah Pulau Seram.

Kertas daluang merupakan media tulis yang sudah digunakan sejak masa lampau selama berabad-abad. Kertas ini digunakan oleh masyarakat Indonesia khususnya di pulau Jawa, sejak abad ke-7 yang kemudian berkembang pesat pada periode sejarah Islam.

Daluang juga banyak digunakan sebagai pengganti kertas lontar yang dulu digunakan sebagai media tulis. Kertas daluang telah dipakai untuk menulis naskah kuno kerajaan Nusantara, menulis Al-Qur'an di pesantren, dan bahan baku wayang.

Di beberapa museum, bahkan ada sejumlah naskah kuno asli yang media tulisnya menggunakan daluang yang dibuat di masa lampau.

Saat ini sudah sangat jarang masyarakat yang mempraktikkan atau membuat daluang dalam kehidupan sehari-hari. Padahal, disebutkan bahwa daluang yang dibuat secara tradisional dan berbahan baku kulit kayu pohon saeh, memiliki kualitas tinggi dan tahan lama.

Tidak Banyak yang Tahu, Ini lho Kertas Khas Indonesia

Proses pembuatan daluang

Salah satu wilayah yang masih melestarikan kertas tradisional daluang adalah masyarakat di Kampung Adat Pulo Situ Cangkuang, Garut, Jawa Barat.

Dijelaskan jika pohon saeh yang digunakan sebagai bahan baku utama pembuatan daluang, adalah pohon yang berumur 1 sampai dengan 2 tahun. Jika pohon terlalu tua, maka akan lebih sulit dijadikan kertas karena teksturnya lebih keras.

Mengutip penjelasan di laman Kemdikbud, proses pembuatan daluang melalui proses yang panjang. Jika dijabarkan, setidaknya secara garis besar ada 7-8 langkah pembuatan yang terdiri dari;

  1. Pohon saeh dipotong menggunakan alat gergaji atau golok,
  2. Batang dipotong sesuai dengan ukuran kertas yang diperlukan,
  3. Kayu dikuliti dari ujung sampai pangkal dan membuang kulit arinya,
  4. Kulit kayu yang sudah bersih direndam selama satu sampai tiga malam agar menjadi lunak,
  5. Kulit kayu ditumbuk menggunakan pameupeuh (alat penumbuk tradisional) di atas bantalan kayu hingga menjadi lebar dan membentuk lembaran kertas,
  6. Setelahnya, bahan kertas yang sudah rapih diperam dengan cara ditumpuk dalam tolombong. Tolombong sendiri adalah wadah anyaman bambu yang dialasi dan ditumpuk daun pisang. Proses peram tersebut berlangsung selama satu malam,
  7. Kemudian kerta daluang dijemur di bawah sinar matahari dengan cara menempel pada pohon pisang,
  8. Terakhir, bahan kertas tersebut dipotong sesuai ukuran yang diperlukan.
Inovasi Kertas Berbahan batang Pohon Pisang di Bandung

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Siti Nur Arifa lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Siti Nur Arifa.

Terima kasih telah membaca sampai di sini