Pertama Kalinya di Dunia, Rafflesia Arnoldii R.Br Mekar di Luar Habitatnya

Pertama Kalinya di Dunia, Rafflesia Arnoldii R.Br Mekar di Luar Habitatnya
info gambar utama

Rafflesia arnoldii R.Br tumbuh dan mekar di Kebun Raya Bogor. Tumbuhan endemik Sumatra ini untuk pertama kalinya mekar di luar habitatnya. Mekarnya bunga ini merupakan hasil dari budidaya Kebun Raya Bogor.

Periset dan Kurator Koleksi Rafflesia di Kebun Raya Bogor, Sofi Mursidawati mengatakan bunga terbesar di dunia ini tumbuh setelah dilakukan upaya konservasi di luar habitatnya sejak 16 tahun lalu.

“Meskipun diameternya tidak lebih 60 cm, namun jenis ini sudah dapat dipastikan adalah Rafflesia arnoldii R.Br,” ujarnya yang dimuat Antaranews.

Dirinya menyampaikan bahwa upaya konservasi Rafflesia arnoldii R.Br di luar habitatnya (secara ex situ) sejak tahun 1818, ketika pertama kali ditemukan di hutan Sumatra oleh pemandu yang sedang mengikuti ekspedisi Thomas Stamford Raffles.

Bedanya Bunga Bangkai dan Raflesia

Tetapi upaya yang sudah berlangsung sejak 200 tahun tersebut belum membuahkan hasil hingga saat ini. Terobosan baru terjadi pada tahun 2006, saat peneliti Rafflesia Kebun Raya Bogor melakukan upaya menumbuhkan biji Rafflesia arnoldi R.Br.

Bibit Rafflesia arnoldii ini berasal dari Bengkulu di vak.XVII koleksi jenis-jenis tumbuhan pemanjat (climber), termasuk di dalamnya terdapat tujuh spesies tetrastigma, yang merupakan inang Rafflesia.

“Pada awal September 2022, Rafflesia arnoldii R.Br muncul beberapa knop bakal bunga dan salah satunya mulai mekar dua hari lalu dan mekar sempurna hari ini,” kata Sofi.

Rafflesia arnoldii R.Br yang mekar ini tumbuh di Tetrastigma lanceolarium (Roxb.) Planch sebagai inangnya, yang ditanam pada 22 Januari 1953 sebagai hasil pertukaran tanaman (seed exchange) dari Florida pada tahun 1952.

“Momen ini jelas menjadi pencapaian yang luar biasa dalam upaya konservasi Rafflesia arnoldi R.Br,” paparnya.

Rafflesia yang mekar

Kebun Raya Bogor memang menjadi salah satu tempat untuk penelitian dan konservasi ex-situ Rafflesia patma. Keberadaan kebun raya dikenal oleh komunitas global sebagai pelaksana fungsi konservasi tumbuhan secara ex-situ (di luar habitat aslinya).

Begitu juga dengan Kebun Raya Bogor yang masih menjadi kiblat dunia untuk penelitian tumbuhan tropika. Kegiatan penelitian masih terselenggara dengan baik di Kebun Raya Bogor serta kebun lainnya yang dikelola LIPI.

“Contohnya, penelitian tentang Rafflesia dan Begonia,” ujar Plt Kepala Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya LIPI, R Hendrian yang diwartakan Technology Indonesia.

Hingga saat ini, Kebun Raya Bogor masih menjadi kebun raya pertama di dunia yang memiliki ex-situ Rafflesia patma dan telah 13 kali mekar sejak 2010. Menurut Sofi kekhawatiran akan menyusutnya habitat dan kepunahan membangun gagasan budidaya.

Bunga Bangkai Mekar Kembali dan Mengenal Perbedaannya dengan Rafflesia Arnoldi

Rafflesia perlu dilindungi karena 100 persen bergantung pada habitatnya, sehingga menjadi tumbuhan langka. Penelitian Rafflesia sudah dimulai sejak 1850, namun hingga saat ini belum tuntas.

Meskipun Kebun Raya Bogor berhasil membungakan Rafflesia, Sofi mengakui keberhasilan tersebut belum 100 persen karena hingga saat ini belum berhasil membuat Rafflesia bisa beranak pinak.

Disebutkan oleh Sofi, kesulitan utama mengembangkan Rafflesia karena secara biologis bergantung pada tumbuhan lain (parasit). Rafflesia sangat bergantung pada tumbuhan inang yaitu liana dari genus Tetrastigma.

Sementara liana, sejenis tumbuhan merambat yang sering disebut anggur hutan bergantung pada ekosistem alaminya, sehingga menurut Sofi sulit sekali untuk dilakukan manipulasi oleh manusia.

“Rafflesia di Kebun Raya Bogor sudah 13 kali berbunga, 8 di antaranya bunga betina, 4 bunga jantan. Setiap berbunga satu-satu, jadi kita belum berhasil membuat Rafflesia berbuah dalam kondisi ex-situ. Setiap berbunga dia kesepian tidak ada temennya,” ungkap Sofi.

Puspa langka

Bunga Rafflesia merupakan puspa langka yang menjadi bunga nasional Indonesia dan ikon bunga Indonesia di dunia internasional. Karena bukan komoditas komersial, ancaman terhadap kepunahan Rafflesia akibat aktivitas manusia sangat nyata.

Karena itu pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Nomor P.106/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018 tentang jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi.

Sofi menjelaskan dari sekitar 30 jenis Rafflesia yang ada di dunia, ada 13 jenis Rafflesia yang sudah dikenal sebagai spesies asli Indonesia. Pusat habitat Rafflesia berada di Sumatra dengan titik sebaran yang sempit dengan jumlah populasi yang tidak banyak.

“Kegiatan konservasi Rafflesia di Kebun Raya Bogor telah dilakukan sejak lama dan tidak pernah berhenti hingga kini,” katanya.

Google Rayakan 25 Tahun Bunga Nasional Indonesia Rafflesia Arnoldi

Hingga saat ini, ungkap Sofi, belum ada teknologi perbanyakan Rafflesia dan masih banyak hal yang masih belum diketahui tentang Rafflesia itu sendiri. Ke depannya, Sofi berharap bisa membuat Rafflesia hidup secara ex situ dan bisa beranak pinak.

Pada 2015 Kebun Raya Bogor bekerjasama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan serta Universitas Bengkulu mengadakan simposium internasional yang menghasilkan deklarasi pentingnya konservasi Rafflesia di Indonesia.

“Dengan adanya Foramor ini kita bisa melaksanakan sinergi dalam melakukan konservasi Rafflesia dengan lintas kementerian dan stakeholder lain,” pungkasnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini