Kisah Joki Cilik dari Sumbawa: Bintang Pacuan Kuda dalam Ironi Hilangnya Pendidikan

Kisah Joki Cilik dari Sumbawa: Bintang Pacuan Kuda dalam Ironi Hilangnya Pendidikan
info gambar utama

Sepanjang tahun masyarakat Sumbawa gemar berkunjung ke arena maen jaran alias pacuan kuda. Jokinya rata-rata bocah 5-12 tahun dan dikenalkan dengan kuda sejak berusia di bawah lima tahun. Sehingga menjadi tradisi sendiri.

Tak diketahui kapan tepatnya pacuan tradisional kuda mulai digelar di Sumbawa. Sejak masa Kesultanan Sumbawa, permainan ini telah digemari segala kalangan, termasuk para bangsawan. Misalnya Sultan Kaharuddin III (1931-1952) memiliki kuda pacu khusus.

Pada masa pendudukan Jepang, permainan ini sempat dilarang. Namun penduduk tetap menggelar lomba sembunyi-sembunyi selepas masa panen. Tradisi itu berlangsung sampai sekarang, menyebar ke seluruh pulau hingga ke pelosok-pelosok.

Laga Kuda Joki Cilik di Dataran Tinggi Gayo

Satu tim pacuan kuda minimal terdiri atas pemilik kuda, pemelihara kuda, sanro, dan joki. Sebelum pertandingan, mereka membangun tenda di sekitar arena. Di sinilah tempat tinggal joki-joki kecil bersama orang tua dan pelatih mereka.

Joki kecil mudah dikenali dari atributnya: memakai baju dan celana panjang dari bahan kaos, dilengkapi penutup wajah dan helm plastik. Beberapa di antara mereka memegang pecut. Di balik baju seorang joki, terdapat kain hitam yang melingkari pinggangnya.

"Di dalamnya dijahit sabuk bertuliskan huruf Arab gundul. Itu adalah jimat," papar Tempo dalam buku Meneropong Tradisi Pacuan Kuda Nusantara.

Prestise sebagai joki

Maen jaran sangat populer di seantero Sumbawa. Jokinya bocah usia 5-12 tahun, hal ini karena tubuh anak yang ringan sehingga kuda bisa berlari kencang. Kemenangan selalu menjadi kebanggan besar bagi seorang joki cilik.

"Apabila kuda saya menang, semua manusia di Tana Samawa (sebutan lokal untuk Sumbawa) akan membicarakannya," ujar Masrawang (75) mantan joki cilik.

Kemenangan di arena pacu ditentukan dua hal: kuda terbaik dan joki terhandal. Kuda pacu Sumbawa biasanya dipilih sejak masih kecil. Pemilihan joki lazimnya merujuk pada ketangguhan, ketangkasan, dan kemampuan mengendalikan kuda pacu.

Biasanya para pencari bakat mencari calon joki dengan cara unik. Misalnya Syaiful (8) yang terpilih karena adanya dua pusaran di rambut. Dirinya langsung diambil untuk dilatih menjadi joki cilik.

Tradisi Perkelahian Kuda, Warisan Sejarah sebagai Simbol Harga Diri Orang Muna

Anak kecil yang memiliki dua pusaran rambut dianggap pemberani, kuat, tahan banting, tidak cengeng, dan mampu mengendalikan kuda pacu. Sehingga dianggap bisa menjadi joki handal setelah dilatih.

Mereka lalu berlatih menunggang kuda selama berbulan-bulan. Lokasinya di pinggir pantai atau arena pacuan. Tak ada honor tetap bagi mereka. Meski tak ada bayaran pasti, anak-anak menyatakan tetap menikmati kegiatan sebagai joki.

"Saya senang naik kuda. Rasanya seperti terbang. Orang tua juga menjadi bangga kepada saya," kata Syaifudin.

Berada dalam ironi

Syaifuddin sempat menjadi rebutan para pemilik kuda karena tubuhnya yang kecil dan ringan. Bahkan dirinya menjadi joki favorit dan mendapatkan banyak hadiah barang dan uang. Tetapi efek buruknya sudah menanti.

Anak-anak ini rata-rata putus sekolah demi bertanding, hal yang bahkan didukung penuh oleh orang tua mereka. Mereka berharap anak-anaknya yang bisa memenangi pacuan dapat memperbaiki ekonomi keluarganya.

Masalahnya lokasi pacuan yang berpindah-pindah dan waktu pacuan yang panjang membuat mereka sering membolos. Dalam setahun setidaknya ada empat pacuan kuda, masing-masing makan waktu minimal tujuh hari.

Akhirnya dari Fakultas Psikologi Universitas Teknologi Sumbawa (UTS) menggelar program homeschooling di lokasi pacuan kuda. Selain para joki, saudara joki yang masih di bawah umur dan anak pemelihara kuda bisa menjadi murid.

Pasola, Tradisi Tarung Kuda Masyarakat Sumba

"Kami belajar selama dua jam, sejak pukul 18.30 hingga 20.30," kata Syafruddin.

Ada 25 pengajar yang terbagi dalam beberapa kelompok. Sebelum kelas dimulai, setiap guru menanyakan si anak duduk di kelas beberapa dan apa pelajaran terakhirnya. Dari jawaban sang murid guru akan menentukan materi kelas.

Dosen Fakultas Psikologi UTS, Yossy Dwi Eliana (36) mengatakan setiap joki adalah anak yang diberkahi keterampilan dan bakat. Katanya alangkah baiknya jika bakat ini dikembangkan dengan pembinaan yang benar sehingga mereka punya bekal ilmu ketika dewasa.

"Menjadi joki hanya bersifat sementara," Yossi menegaskan.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini