Lupa Sandi?

Laga Kuda Joki Cilik di Dataran Tinggi Gayo

Fairuz Rana Ulfah
Fairuz Rana Ulfah
0 Komentar
Laga Kuda Joki Cilik di Dataran Tinggi Gayo

Derap langkah kaki kuda berpacu dengan debu-debu yang berterbangan ditambah dengan sorak-sorai penonton menjadi penyemangat joki-joki cilik memacu kuda-kuda ras campuran. Suasanya lenggang dan udara sejuk yang biasanya menyambangi pelataran Aceh bagian tengah berubah total kala atraksi pacuan kuda diadakan. Pacuan kuda merupakan event tahunan yang biasanya diadakan oleh Suku Gayo yang tinggal di Kabupaten Aceh Tengah, Gayo Lues, dan Bener Meriah. Tiga kabupaten yang kerap mendapat jurukan ‘tiga bersaudara’ karena memiliki kesamaan budaya dan geografis.

Pacuan tradisional yang akan diadakan pada 20 Maret 2017 mendatang merupakan salah satu daya tarik wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Tradisi pacuan kuda sudah menjadi tradisi sejak lama, bahkan sebelum Belanda menginjakkan kaki di tanah penghasil kopi ini. Dilansir dari Kompas.com, , Win Rudhi Bathin (50), tokoh masyarakat adat setepat menjelaskan tujuan penyelenggaraan pacuan kuda oleh masyarakat Gayo yaitu untuk menyambut atau merayakan masa panen padi yang berlangsung antara bulan Agustus dan September.

Sumber: Kompas.com
Sumber: Kompas.com

Jika sekarang pacuan kuda berlangsung di lintasan pacuan, konon, kegiatan ini dahulu diadakan di pinggir Danau Laut Tawar, danau terbesar di Provinsi Aceh yang juga  terkenal dengan keindahannya. Pacuan kuda dilakukan dengan “seadanya” tanpa ada fasilitas khusus seperti perlengkapan bagi joki dan kuda, maupun lintasan pacuan. Perubahan terjadi ketika Belanda menjajakan kaki di tanah Gayo pada awal 1900-an, atraksi ini didesain dengan lebih modern. Kala itu, Belanda memanfaatkan atraksi tradisional sebagai momentum menyambut serta merayakan HUT Ratu Wilhemina yang juga jatuh antara bulan Agustus dan September. Lomba pacuan kuda kemudian direlokasi dari pinggir Danau Laut Tawar ke lintasan pacuan kuda yang dibangun di pusat kota Takengon.

Seiiring berjalannya waktu, Indonesia merdeka dan Belanda harus pergi dari tanah jajahan kesayangannya. Kemerdekaan Indonesia mendapat giliran sebagai ajang yang digunakan untuk melangsungkan lomba pacuan kuda.  Uniknya kuda-kuda yang digunakan merupakan kuda peranakan Australia-Gayo (Astaga). Kegiatan yang mencerminkan semangat masyarakat Gayo ini pada dasarnya tidak memiliki aturan baku seperti pacuan kuda berskala nasional atau internasional pada umumnya. Penyelenggaraan pacuan kuda diadakan secara tradisional, hal ini tercermin dari tidak adanya perlengkapan khusus yang harus digunakan oleh joki dan kuda. Begitu pun tidak ada kriteria khusus untuk menjadi joki, termasuk batasan usia. Namun pada umumnya usia joki yang ikut dalam laga berkisar antara 15-25 tahun sementara usia kuda berkisar antara 1-5 tahun. Selama pacuan berlangsung, penonton bisa leluasa masuk ke area pacuan kuda untuk menyemangati kuda favoritnya. Pertandingan biasanya berlangsung hanya satu putaran untuk kuda yang bersusia di bawah lima tahun, dan dua putaran bagi golongan kuda tua yang berusia di atas lima tahun.

Sumber: Kompas.com
Sumber: Kompas.com

Pertandingan ini tidak pernah sepi peserta, tercatat pada pertandingan terakhir yaitu pertengahan Januari 2017, ada 325 kuda yang berlaga di Lapangan Sengeda Bener Meriah. Selain memperebutkan hadiah berupa uang tunai, ada sederet keuntungan lain yang menjadikan event ini banjir peminat. Semisal menjadi populer dan meningkatnya nilai jual kuda juga menjadi alasan lain. Namun pada hakikatnya, atraksi kebudayaan ini bukan hanya ajang unjuk gigi semata, karena event ini merupakan pesta rakyat yang dirayakan dengan suka cita oleg masyarakat Gayo baik di Tanoh Gayo maupun di luar. Berminat masuk ke landasan pacuan kuda bersama puluhan kuda yang sedang berlaga? Anda wajib datang ke acara yang akan diadakan 20 Maret mendatang di Tanoh Gayo. Selamat Mencoba!


Sumber :

travel.kompas.com

aceh.tribunnews.com

lintasgayo.co

Pilih BanggaBangga50%
Pilih SedihSedih0%
Pilih SenangSenang0%
Pilih Tak PeduliTak Peduli0%
Pilih TerinspirasiTerinspirasi50%
Pilih TerpukauTerpukau0%
Laporkan Artikel

Mengapa Ingin Melaporkan Artikel Ini?

TENTANG FAIRUZ RANA ULFAH

Penikmat alam, kopi, sastra. Sedang tertarik dengan isu-isu kelas, gender, lingkungan. ... Lihat Profil Lengkap

Ikuti
Next
Evan Dimas

Semua bisa dikalahkan kecuali Tuhan dan orang tua.

— Evan Dimas