Tradisi Perkelahian Kuda, Warisan Sejarah sebagai Simbol Harga Diri Orang Muna

Tradisi Perkelahian Kuda, Warisan Sejarah sebagai Simbol Harga Diri Orang Muna
info gambar utama

Bagi orang Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, adu kuda bermakna filosofi yakni simbol harga diri yang harus dipertahankan. Juga mengajarkan ketelatenan, eling dan waspada menjalani proses kehidupan.

Perkelahian kuda yang dalam bahasa Muna disebut pogiraha adhara itu jarang digelar. Hanya pada acara khusus, salah satunya menyambut tamu yang sebelumnya mengikuti Festival Napabale, acara pariwisata tahunan di daerah itu.

Seorang pawang, La Ode Abdul Karim berdiri tenang di antara dua kuda jantan yang saling dihadapkan di sebuah lapangan rumput. Destar dan sarung melilit di kepala pinggangnya. Melalui aba-abanya, tradisi langka berusia ratusan tahun itu kemudian dimulai.

Dalam pertunjukan kali ini dia dibantu beberapa pawang lainnya, terutama putranya, La Ode Abjina. Sementara itu kedua kuda jantan berwarna coklat muda dan tua yang siap diadu pun milik Karim.

Kesenian Kuda Kosong Cianjur Tak Lepas dari Cerita Mistis

Perkelahian pun dimulai ketika kuda coklat meringkik sambil mengangkat kedua kakinya depan setinggi-tingginya. Sang penantang, kuda berkelir coklat tua, telah sigap meladeni dengan juru yang serupa, keduanya bergelut bak atlet tinju kelas berat.

Gigitan dan tendangan silih berganti melayang. Sesekali mereka juga saling menyeruduk dan menjulang, berupaya memojokkan lawan. Ketika pertarungan mulai membahayakan salah satu kuda, Abjina akan melerai.

Setelah susah payah dilerai, pertarungan kembali berlanjut. Tidak ada istilah menang atau kalah dalam perkelahian ini. Tidak juga kuda di adu sampai menyebabkan luka parah, apalagi mati.

“Ini murni untuk hiburan masyarakat saja,” kata Karim yang dimuat dalam buku Melestarikan Makna Filosofi Kuda dalam Tradisi Kebudayaan terbitan Litbang Kompas.

Sejarah perkelahian kuda

Acara ini memang tidak bisa setiap hari disaksikan. Dalam setahun, penyelenggaraannya kini bisa dihitung jari, itu pun biasanya dilakukan oleh pemerintah setempat ketika momen khusus, biasanya untuk menyambut tamu daerah.

Padahal menurut Karim, dahulu di setiap kecamatan bisa sering ditemukan pertunjukan perkelahian kuda. Namun kini, di seluruh Muna, tradisi itu hanya bisa ditemukan di Kecamatan Lawa, khususnya Desa Latugho.

Hal ini, jelas Karim, karena populasi kuda di Muna hanya tersisa puluhan ekor yang sebagian besar berada di Lawa. Dirinya mengingat perkelahian kuda mulai menghilang tahun 1970 an, bersamaan pemindahan penduduk desa ke tempat baru.

Karim juga tidak mengetahui pasti kapan tradisi ini bermula. Namun menurut catatan turun temurun para orang tua, perkelahian kuda sudah ada sejak masa Kerajaan Muna. Sejarah kerajaan itu membentang selama ratusan tahun di pulau tersebut.

Menurutnya perkelahian kuda pada masa lalu biasa digelar sebagai hiburan rakyat dalam rangka syukuran atau momen sukacita lainnya, seperti cukuran bayi, pingitan remaja putri, memulai musim tanam dan panen padi, atau menyambut tamu penting.

Sedangkan agar bisa membuat dua kuda jantan berkelahi, jelas Karim adalah dengan memisahkan mereka dari betina masing-masing. Kuda-kuda itu lalu didekatkan ke kuda yang bukan pasangannya.

“Hal itulah yang akan menyulut kemarahan kuda,” paparnya.

Pasola, Adu Lempar Lembing dan Kisah Cinta Segitiga dari Sumba

LM Baharuddin, kala itu menjabat Bupati Muna menyebutkan adu kuda mengajarkan makna filosofi yang tinggi. Dia menjadi simbol soal harga diri. Seekor kuda dalam situasi normal tidak akan bersikap agresif, berbeda ketika kelompoknya diganggu.

“Namun sebaliknya, ia akan berjuang mati-matian membela keluarganya jika diganggu kuda lain,” kata Baharuddin.

Kuda, jelas Baharuddin juga memiliki sejarah panjang dan kuat di Muna. Masyarakat di daerah ini telah mengenal hewan tangguh tersebut setidaknya sejak ratusan tahun silam, Hal ini dibuktikan dengan gua-gua prasejarah, di Muna.

Di antara berbagai lukisan di situs itu, ada yang menggambarkan kuda ataupun orang sedang menunggang kuda. Dijelaskan olehnya, pada masa kerajaan, kuda menjadi simbol prestise karena hanya dimiliki oleh kalangan tertentu, terutama bangsawan.

Camat Lawa saat itu, La Ode Saifuddin mengatakan selain perkelahian kuda, kecamatan itu dahulu juga terkenal dengan tradisi pacuan kuda. Ada arena pacuan kuda yang rutin menggelar balapan kuda tingkat kecamatan ataupun kabupaten.

Namun lanjutnya, semua itu mulai berubah saat minat pacuan kuda mulai berkurang pada akhir tahun 1980 an. Padahal balapan kuda pada masa itu sangat populer di Muna. Berbagai acara dan kompetisi pun digelar di banyak tempat.

Abjina pawang dan pemilik kuda ini merupakan salah satu joki jawara pada kejayaan pacuan kuda di Muna. Selama kariernya, Abjina pernah menyabet tiga gelar juara berturut-turut di Kabupaten Muna.

Mengembalikan kuda

Bukan hanya tradisi, seiring berjalannya waktu, populasi kuda di Muna pun terus menyusut yang kini hanya tersisa ratusan ekor saja. Salah satu penyebabnya karena minat memelihara kuda turun.

Kondisi itu menyebabkan berbagai aktivitas yang sebelumnya melibatkan kuda perlahan turut menghilang. Karim menjelaskan di Desa Latugho kini hanya tersisa tiga orang yang memiliki kuda berjumlah total 40 ekor.

Karim sendiri memiliki empat kuda jantan dan 16 kuda betina. Kuda-kuda milik Karim inilah yang sekarang menjadi andalan jika ada yang ingin menggelar pertunjukan perkelahian kuda meskipun momen seperti itu jarang terjadi.

Abjina juga masih mengingat dahulu kuda kerap digunakan dalam acara pernikahan sebagai pengantar pengantin. Selain itu, kuda juga menjadi tunggangan wajib kala berburu kerbau atau sapi liar di hutan.

Bahkan dalam dimensi berbeda, jelas Abjina, kuda juga menjadi medium untuk menjalin silaturahmi antar pemilik. Setiap pemilik kuda, katanya bila ditelusuri, pasti memiliki hubungan keluarga.

“Itu tak terlepas dari sejarah kuda yang pada masa kerajaan hanya dimiliki kalangan terbatas, terutama bangsawan, yang kemudian mewariskan ke anak cucunya,” paparnya.

Sandalwood Pony, Kuda Pacu Sumba yang Melegenda

Karena penting dan lekat dalam kehidupan masyarakat, kuda kemudian dijadikan salah satu simbol resmi Kabupaten Muna. Lambang tersebut menggambarkan dua kuda jantan yang tengah berkelahi.

Namun, pada tahun 2002 lambang itu malah diganti dengan pohon jati yang seolah menjadi klimaks lunturnya era kejayaan kuda di Muna. Tetapi, kejayaan ini kini coba dibangkitkan kembali oleh pemerintah setempat.

Atraksi perkelahian kuda pun diupayakan digelar pada momen-momen penting daerah, seperti hari jadi kabupaten. Tonggak penting lainnya adalah dengan mengembalikan kuda sebagai lambang daerah Muna pada 2012.

“Namun sekarang namanya bukan lagi kuda berkelahi, melainkan kuda berhadapan,” ujar Baharuddin.

Guna menegaskan statusnya sebagai ikon daerah, Pemkab Muna juga berencana membangun patung raksasa kuda berkelahi. Pemerintah juga akan memberikan bantuan 15 kuda yang didatangkan dari Sumbawa kepada warga.

Sementara itu di Kecamatan Lawa, upaya mengembalikan kejayaan tradisi perkelahian kuda dan pacuan kuda juga tengah dirintis. Saifuddin memproyeksikan Desa Latugho menjadi pusat kedua aktivitas tersebut.

Hal tersebut bila dikombinasikan dengan obyek wisata pemandingan alam yang telah ada di Latugho akan menjadi destinasi wisata andalan di Muna. Jika hal itu terwujud, perekonomian masyarakat sekitar diharapkan turut terangkat.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini