Saluran Air Kuno Zaman Belanda Ditemukan dalam Proyek MRT Glodok-Kota

Saluran Air Kuno Zaman Belanda Ditemukan dalam Proyek MRT Glodok-Kota
info gambar utama

Saluran air kuno Batavia ditemukan di lokasi proyek MRT Jakarta fase 2A Glodok-Kota. Benda ini yang diduga cagar budaya tersebut ditemukan secara tidak sengaja ketika akan dilakukan pemindahan pipa Palyja di ujung Jl Pintu Besar Selatan.

“Ditemukan tidak sengaja ketika akan dilakukan pemindahan pipa Palyja di ujung Jl Pintu Besar Selatan,” demikian keterangan dari MRT Jakarta, Selasa (20/9/2022).

Pihak MRT menjelaskan ketika ditemukan struktur saluran air tersebut masih terbungkus susunan bata merah dan kuning. Sementara itu pada bagian dalamnya terdapat tiga pia berjajar yang seluruhnya terbuat dari terakota atau batu bata.

“Saluran ini merupakan kelanjutan dari struktur bata yang ditemukan di depan Museum Bank Mandiri tahun 2021,” lanjut pihak MRT.

Peran Phoa Beng Gan Membangun Kali Molenvliet yang Selamatkan Batavia

Dimuat dari Kompas, Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta, Silvia Halim menjelaskan pihaknya banyak menemukan cagar budaya. Cagar budaya yang ditemukan oleh PT MRT Jakarta adalah jembatan kuno Glodok dan jalur air terakota Batavia.

Dirinya mengatakan PT MRT harus memastikan penyelamatan cagar budaya sebelum mulai membangun terowongan maupun stasiun MRT di fase 2 yang menghubungkan Bundaran Hotel Indonesia (HI) dan Stasiun Kota.

PT MRT Jakarta juga harus membelokkan jalur rel agar tidak merusak cagar budaya sisa tembok tua Batavia yang lebih dikenal dengan Pintu Besar. Hingga kini PT MRT sedang mengerjakan fase 2 koridor Bundaran HI yang telah mencapai 15 persen.

Penemuan penting

Arkeolog Senior Prof Junus Satrio Atmodjo menjelaskan bahwa saluran air atau terakota yang ditemukan di lokasi Proyek MRT CP203 Glodok-Kota dibangun kurang lebih pada abad ke 18 atau zaman Hindia Belanda.

Dirinya menerangkan, pipa saluran itu direncanakan selesai pada 1730 tetapi data menunjukan pada 1755 hingga 1780 masih dikerjakan. Dirinya menduga prosesnya lama karena bata-batanya didatangkan dari Belanda.

Junus menyebut saluran air ini memiliki panjang mencapai 400 meter. Dirinya juga mengaku bimbang saat harus membongkar cagar budaya peninggalan kolonial Belanda tersebut. Apalagi dengan usianya yang sudah berabad-abad.

Wabah Kolera: Ketika Buruknya Kualitas Air Ciliwung Bawa Bencana di Batavia

“Ini adalah salah satu yang krusial, kita menemukan satu struktur sepanjang 400 meter dan itu dari abad ke 18 yang tidak ditemukan di tempat manapun juga di kota lain di Indonesia. Tetapi harus dibongkar jadi gimana?," tanya Junus diwartakan Sindonews.

Menurutnya sebagai seorang arkeolog, harapannya saluran air yang dibangun sejak zaman kolonial Belanda ini bisa diselamatkan. Tetapi dirinya pun tidak bisa mencegah karena stasiun tersebut harus juga dibangun.

Junus menambahkan, pihak MRT telah memberikan keleluasaan kepadanya untuk menghimpun data sebanyak mungkin untuk melakukannya step by step guna berkolaborasi. Sedangkan penemuan bersejarah itu akan diserahkan kepada Pemprov DKI.

“Kalau artefak kita serahkan semua kepada DKI ownernya DKI (Disbud) bukan MRT itu kan projectnya MRT juga bagian dari DKI. Jadi kita harus kepada institusi yang berwenang siapa itu dinas kebudayaan,” tutur Junus.

Dibawa ke museum

Sebelumnya, Silvia Halim menjelaskan soal penemuan saluran air kuno Batavia serta Jembatan Glodok Kuno. Dua objek yang diduga cagar budaya itu ditemukan berdekatan dengan trem jadul yang juga sebelumnya ditemukan.

“Kemarin tahu kan ada trem di sini, kita buka di sini, eh ada Jembatan Glodok Kuno. Terus kita ke sini, ketemu lagi, ada Saluran Air Kuno Batavia, kata Silvia dinukil dari Detik.

Baginya penemuan sejumlah objek cagar budaya ini akan mempengaruhi kompleksitas pembangunan. Karena itu, pihaknya akan berkoordinasi dengan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta bersama arkeolog untuk tindak lanjut pelestarian objek cagar budaya.

Ratu Juliana dan Kisah Kunjungan Pertama Penguasa Belanda ke Indonesia

“Kita butuh banyak sekali terobosan dalam penanganan ini. Salah satunya dengan bagaimana bisa melestarikan temuan budaya ini, sementara kita tidak bisa keep di lokasi. Jadi gimana caranya, kita bisa mulai namanya 3D scanning dan fotogrametri. Seperti ini contohnya, jadi looks like exactly sampai yang sangat physical,” ujarnya.

Sejauh ini pihaknya tengah memindahkan objek cagar budaya satu per satu. Nantinya temuan cagar budaya ini akan dipamerkan di museum yang akan dibangun di sekitar kawasan Stasiun Kota Tua.

Hal ini dilakukan agar pada kemudian hari bisa memberikan edukasi kepada masyarakat. Penempatan artefak ini juga sejalan dengan keinginan agar Stasiun Kota menjadi sebuah galeri seperti museum.

“Kondisi di bawah Plaza Beos akan kita bangun grand plaza entrance yang menghubungkan Beos dengan Stasiun Kota dengan Stasiun MRT dan di bawahnya ada jalur bawah tanahnya kan, di jalur ini kita akan tempatkan display jadi galeri atau museum,” tambahnya.

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini