Peran Dokter Marinir Tionghoa dalam Evakuasi Jenazah 7 Pahlawan Revolusi

Peran Dokter Marinir Tionghoa dalam Evakuasi Jenazah 7 Pahlawan Revolusi
info gambar utama

Tragedi Gerakan 30 September atau G30S tidak lepas dari sumur yang terdapat di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Sumur sedalam 12 meter dengan diameter 75 centimeter itu jadi lokasi dikuburnya jasad para Pahlawan Revolusi.

Sebelum dievakuasi, kondisi mayat-mayat itu begitu memprihatinkan. Tubuh mereka bertumpukan dengan posisi terbalik di dalam sumur yang sangat sempit. Evakuasi pun perlu segera dilakukan agar jasad tidak semakin rusak.

Karena itu Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) -kini Tentara Nasional Indonesia (TNI) - menurunkan tim Kesatuan Intai Amphibi (Kipam) untuk mengevakuasi mayat tujuh Pahlawan Revolusi itu.

Pelayaran Laksamana Cheng Ho: Perubahan pada Dunia yang Tersisa di Nusantara

Satu dari anggotanya adalah Kho Tjioe Liang yang bertugas mengevakuasi mayat ketujuh jenderal tersebut. Dirinya merupakan dokter keturunan Tionghoa berpangkat Letnan Satu (Lettu) Kesehatan di Korps Komando Operasi (KKO) -kini Korps Marinir-.

“Kho Tjioe Liang menjadi pelaku sejarah evakuasi jenazah tujuh Pahlawan Revolusi di Lubang Buaya, Jakarta Timur bulan Oktober 1965,” tulis Iwan Santosa dalam Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran.

Timnya sendiri terdiri dari 12 orang yakni Winanto, Sugimin, Sutarto, Saparimin, J.Kondouw, A.Sudardjo, Hartono. Samuri, I.Subekti. Baharudin Sumarno (dokter gigi), dan Kho Tjioe Liang (dokter tentara).

“Kho merupakan dokter medis yang bertugas bersama dokter gigi dalam tim marinir yang akhirnya mengevakuasi seluruh jenazah Pahlawan Revolusi dalam sumur berdiameter ¾ meter dan berkedalaman 10 meter tersebut,” papar Iwan.

Proses evakuasi

Iwan menjelaskan proses pengangkatan jenazah Pahlawan Revolusi itu dimulai dengan manuver yang dilakukan oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD) yang kini disebut Kopassus di bawah kepemimpinan Mayor (inf) CI Santoso.

Pada awalnya terdapat kendala teknis dalam proses pengangkatan jenazah. Jenazah tersebut berada di dalam sumur tua yang berdiameter 0,75 dengan kedalaman sekitar 15 meter. Proses pengangkatan jenazah pun berlangsung cukup dramatis.

“Sebab, sebelumnya banyak prajurit yang pingsan akibat menghirup gas beracun yang berasal dari dalam sumur,” ucapnya.

Dijelaskan oleh Iwan, kemudian dilakukan proses orientasi untuk mengetahui metode yang tepat untuk mengangkat seluruh jenazah. Awalnya terdapat tiga opsi yang muncul untuk pengangkatan jenazah.

Oei Tjeng Hien, Sosok Muslim Tionghoa Pembela Agama dan Negara

Pertama adalah mengangkat langsung, tetapi sangat sulit karena lubang terlalu sempit. Kedua, menggali atau memperlebar sumur, tetapi akan memakan waktu dan tenaga. Ketiga menggunakan tali untuk mengikat lalu menarik jenazah.

Kemudian atas keputusan Kho Tjioe Liang dan Kapten Sumarno, diputuskanlah untuk menggunakan opsi ketiga. Proses evakuasi jenazah dimulai sekitar pukul 11.00 dan berakhir sekitar pukul 15.00.

Setelah itu, Tim Kipam pun meninggalkan Lubang Buaya menuju Markas Kostrad untuk melapor kepada Kepala Staf Kostrad Brigjen TNI Kemal Idris. Kemudian Tim Kipam melapor ke Panglima Marinir di Mabes Marinir, dilanjutkan melapor kepada Panglima Angkatan Laut.

Diberikan penghargaan

Pembantu Letnan Dua Marinir (Purnawirawan) Sugimin menyebut jenazah pertama yang diangkat ialah Pierre Tendean dan yang terakhir adalah DI Panjaitan. Dirinya menegaskan semua jenazah dalam keadaan utuh.

“Semua jenazah dalam keadaan utuh, tidak ada yang matanya dicungkil atau kemaluannya dipotong seperti cerita yang beredar,” kata Sugimin yang diwartakan Tempo.

Dirinya juga mengatakan ketika proses evakuasi tersebut Pangkostrad Letnan Jenderal Soeharto, Komandan RPKAD Kolonel Sarwo Edhie Wibowo serta Letnan Dua Sinton Panjaitan memantau jalannya evakuasi.

“Jenazah dimasukan peti dan langsung dibawa ke Rumah Sakit Gatot Subroto menggunakan Panser. Setelah semua mayat terangkat, lokasi disterilkan, tidak boleh ada yang mendekat. Dijaga pasukan baret merah,” paparnya.

Liem Koen Hian dan Surat Kabar Tionghoa yang Menyuarakan Nasionalisme

Barulah keesokan harinya, bertepatan dengan HUT ke-20 Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada 5 Oktober 1965, ketujuh jenazah korban G30S itu dimakamkan di Taman Makam Pahlawan atau TMP Kalibata.

Sementara itu pada 1980, Presiden Soeharto menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Kartika Eka Paksi Nararya kepada Letkol Marinir TNI AL Winanto beserta kesembilan orang rekannya, termasuk dr Kho Tjioe Liang.

Penghargaan ini diberikan atas upaya yang dilakukan tim sehingga kondisi jenazah Pahlawan Revolusi tidak mengalami pengrusakan atau mutilasi. Hal yang secara mengerikan digambarkan dalam film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI (1984).

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

Terima kasih telah membaca sampai di sini